Home arrow Latar Belakang
KISAH NYATA : Kebesaran Tuhan Print

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sholawat dan salam bagi junjungan kita, baginda Rasulullah SAW, serta terimakasih yang tak terhingga kepada guru tercinta, yang kami muliakan, bapak K.H.DR. Achmad Riva’i. Tidak ada tujuan lain selain untuk menyebarkan kabar gembira tentang kebesaran-kebesaran Tuhan yang telah ditunjukkan kepada kita.

Kami merasa perlu menyusun buku ini, karena melihat begitu banyak permasalahan yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, yang kadang-kadang mampu memojokkan kita, bahkan menjerumuskan kita ke keputusasaan bahkan kemusyrikan. Semoga dengan berbagi cerita nyata, yang terjadi pada saudara-saudara kita, mampu membangkitkan kesadaran kita semua, bahwa hanya Tuhanlah sebaik-baiknya tempat bergantung.

Semua cerita yang kami susun dalam buku ini, adalah kisah nyata yang sungguh terjadi. Untuk itu kami merasa perlu untuk mencantumkan nama serta nomor kontak saudara-saudara kita yang telah menjadi saksi atas kebesaran Tuhan, agar lebih memudahkan komunikasi, bila dianggap perlu.

Tentu saja besar harapan kami, agar ini semua bisa menjadi manfaat.   Kami sadar betul, bahwa masih begitu banyak kekurangan dalam buku ini. Hal itu semata-mata karena keterbatasan ilmu yang kami miliki, oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami memohon maaf atas segala kekurangan.

 

               

                                                                                Pondok Gede, 17 Desember 2013

                                                                                                                Penyusun

 

 

                                                                                                      I.K. Billy Burhan

                                                                                                No.HP. 0813-1037-0687

 

Jika kita hendak menghitung berapa banyak kebesaran Tuhan yang ditampakkan kepada kita, semenjak kita membuka mata di pagi hari, hingga kita kembali tertidur di malam hari, maka kita tidak akan pernah mampu melakukannya. Karena begitu berlimpah rahmat Tuhan yang kita terima setiap saatnya. Mulai dari saat kita terbangun dari tidur kita. Kita kembali tersadar, padahal sebelumnya kita kehilangan kendali atas tubuh kita. Ingatan kita dikembalikan oleh Tuhan, tanpa kekurangan sedikitpun. Kita menerima kembali semua kemampuan yang selama ini telah Tuhan berikan. Kemampuan melihat, mendengar, berbicara, berjalan dan sebagainya. Padahal saat kita tertidur, kita tidak mampu mengendalikan itu semua.

 Tuhan telah menunjukkan kebesaranNya kepada kita, dengan memberikan  jantung yang secara otomatis terus berdetak, walaupun tidak kita perintahkan. Paru-paru kita tetap terus bekerja menghirup udara yang kita butuhkan, walaupun kita dalam kondisi tertidur. Dan masih banyak lagi bagian tubuh kita yang tetap bekerja, walaupun kita dalam keadaan tertidur. Tidak terbayangkan, seandainya organ-organ penting tubuh kita ini harus bekerja dengan perintah kita, pada saat kita terlelap tidur, organ-organ itu akan berhenti bekerja. Inilah sebagian kecil kebesaran Tuhan yang kita terima pada saat kita terbangun dari tidur kita, padahal belum ada satupun hal yang telah kita perbuat. Sudah seharusnyalah kita berbahagia menerima ini semua.

                Kemudian mari kita lihat keluar. Matahari kembali bersinar, dari tempat yang sama. Tidak ada yang berubah. Tidak ada satupun di alam semesta yang begitu luas ini keluar dari jalurnya. Maha Besar Tuhan. Alam raya yang sedemikian luasnya, tunduk dan patuh dibawah perintah dan kehendakNya. Semua serba seimbang. Dan ini semua diciptakanNya untuk kita, manusia.

Di taman, tumbuh bunga-bunga dan pepohonan. Tumbuh di atas tanah yang sama, tapi kemudian menjadi berbeda-beda. Padahal tadinya pepohonan itu hanya sebutir biji-bijian. Tuhan tinggikan dia, menjadikannya berbunga dan berbuah, untuk kita, manusia.               

Begitu berlimpah kebesaran Tuhan yang ditunjukkanNya kepada kita sebagai rahmatNya. Dan tiada putus-putusnya dari hari ke hari. Karena begitu besar cinta Tuhan kepada kita. Lantas hal apa lagikah yang membuat kita tidak berbahagia ?                                                  

Kita tidak akan mampu menghitung rahmat Tuhan, karena itulah, kadang-kadang kita terlupa untuk menghitungnya. Kita bisa dengan mudah menemukan kesusahan kita, derita kita, karena memang jumlahnya hanya sedikit, sehingga kita mampu untuk menghitung bahkan mengingatnya. Kita cenderung melupakan jumlah yang begitu banyak di sekeliling kita karena ketidakmampuan kita untuk menghitungnya. Maka berbahagialah, apapun kondisi kita.

Begitu kita mampu membuka mata kita di pagi hari, yakinlah, bahwa cinta Tuhan telah sampai pada kita di hari itu. Karena sangat mudah bagi Tuhan untuk membiarkan kita tertidur untuk selama-lamanya.

                Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang, tidak pernah berhenti merahmati kita. Semua karena cintaNya kepada kita. Walaupun sesuatu yang kita terjemahkan sebagai kesusahan, sesungguhnya adalah keberuntungan bagi manusia. Kita hanya butuh membuka hati kita untuk dapat melihatnya. Jika kita menderita sakit misalnya, bukankah Tuhan telah memberitahu kita, bahwa jika kita bersabar dalam sakit, maka akan dihapuskanNya dosa-dosa kita. Tapi bila sakit bukan hal yang kita inginkan, mintalah kepadaNya, maka Tuhan akan mengangkat penyakit kita itu. Walaupun satu dunia mengatakan bahwa kita tidak mungkin sembuh, sangat mudah bagi Tuhan untuk menyembuhkan kita dalam waktu sekejap. Tuhan Maha Kuasa Maha Baik, maka marilah berprasangka baik kepadaNya.

                Banyak sekali peristiwa ajaib yang kita lihat di sekeliling kita, yang tidak masuk akal logika manusia. Bagaimana seseorang yang telah lama menderita sakit yang parah, dan telah berobat dengan segala macam cara, tiba-tiba menjadi sembuh setelah berdoa dan melakukan satu ikhtiar yang sangat sederhana menurut kita. Bahkan mungkin dunia medis tidak mampu menjelaskannya, bagaimana segelas air putih bisa menjadi satu obat yang sangat ampuh bagi penyakit yang terhitung sangat berat.

Bukan air putihnya yang hebat, atau orang yang menyuguhkannya, tapi Tuhanlah yang telah menyembuhkan orang yang sakit itu, sebagai jawaban dari doa yang memohonkan kesembuhan baginya. Karena tidak ada satu manusiapun di dunia yang mampu menyembuhkan penyakit seseorang, hanya Tuhanlah yang  menyembuhkan.

Yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati penyakit kita, karena Tuhan tidak akan merubah keadaan kita, bila kita tidak berusaha untuk merubahnya. Jadi mari berobatlah dengan bersungguh-sungguh, tapi jangan bergantung kepada manusia, karena pada akhirnya, hanya Tuhanlah yang menyembuhkan.

Banyak juga kita dengar, baca, lihat atau bahkan menyaksikannya sendiri secara langsung, di satu peristiwa bencana besar, seperti tsunami misalnya. Dimana semua yang berdiri di atas tanah tersapu rata oleh gelombang yang begitu dahsyatnya. Kota yang tadinya padat diisi dengan gedung-gedung dan rumah-rumah yang kokoh, menjadi satu lahan yang kosong melompong. Tapi ajaibnya ada beberapa rumah ibadah, yang secara fisik, konstruksi bangunannya tidak terlalu kokoh, masih tegak berdiri, bahkan seperti tidak tersentuh sama sekali oleh bencana yang datang dengan begitu dahsyatnya. Kita dapat menyaksikan kematian dimana-mana, tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, telah datang ajal bagi mereka. Tapi ajaibnya, ada beberapa anak-anak kecil, yang kelihatan masih begitu lemah, justru mampu lolos dari bencana. Sebagian dari mereka terselamatkan dengan cara yang sangat sederhana, bahkan tidak masuk akal. Ada yang terhanyut diatas sebatang kayu tua, ada yang berpegang pada dahan pohon yang tidak terlalu besar, begitu banyak cara yang menurut kita sangat tidak masuk akal. Ada yang sampai terapung-apung berhari-hari lamanya. Bukan anak-anak itu atau orang-orang yang terselamatkan itu yang hebat, mereka bukan perenang-perenang yang handal. Kalau menurut akal kita, seorang atlit renang terhebat sekalipun, sulit untuk lolos dari bencana sebesar itu. Orang-orang itu mampu lolos dari bencana yang sangat dahsyat itu, karena Tuhan telah berkehendak seperti itu. Dan semua kehendakNya diturunkanNya bagi kita, hanya karena cintaNya kepada kita semua. Bencana adalah hasil kelalaian kita sendiri, yang Tuhan izinkan untuk terjadi. Sehebat apapun kita, hanya karena izin Tuhanlah kita dapat selamat. Tuhan Maha Melindungi.

Begitu banyak bukti-bukti kebesaran Tuhan yang telah ditampakkan kepada kita, agar kita semakin yakin dan percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa. KuasaNya meliputi segala yang dilangit dan yang dibumi. Maka marilah, jangan bersedih, apalagi berputusasa. Jadilah orang-orang beruntung yang dipilih oleh Tuhan untuk menerima rahmatNya.

                “ah…saya sudah berdoa, tapi kondisi saya tidak berubah juga”

                Jika kita telah memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan tentang satu perkara, maka bersabarlah. Jangan terburu-buru berkesimpulan bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa kita. Bukankah Tuhan Maha Kaya, Dia Maha Kuasa, tidak akan berkurang sedikitpun kekayaan Tuhan jika semua doa  Beliau kabulkan. Tapi mari kita ingat kembali, bagaimana cara kita berdoa. Kemudian kita tanya kembali diri kita, sudah bersungguh-sungguhkah kita berusaha untuk mengubah nasib kita. Dan jangan lupa bahwa Tuhan sesuai dengan prasangka kita. Maka yakinlah bahwa Beliau akan menjawab semua doa kita.

                Tuhan telah mengajarkan kita untuk berdoa dengan merendah. Berdoa untuk hal-hal yang baik, bukan untuk kejahatan, walau untuk diri sendiri, apalagi terhadap orang lain. Dan Tuhan telah mengajarkan untuk berdoa menggunakan kalimat-kalimat yang lemah lembut dan sopan-santun. Sesungguhnya sebuah doa adalah sebuah permohonan kita kepada Tuhan, ini yang seringkali kita lupakan. Kadang kala dalam berdoa, secara tidak disadari, kita bukannya memohon kepada Tuhan, tetapi malah memerintah Tuhan.

                “sembuhkan aku Tuhan…”

                “cabut penyakitku Tuhan…”

                “beri aku rejeki Tuhan….”

Dalam bahasa Indonesia, bukankah kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat perintah. Coba bayangkan seandainya kita beri tanda seru di akhir kalimat–kalimat tadi.

“sembuhkan aku Tuhan !!!”

                “cabut penyakitku Tuhan !!!”

                “beri aku rejeki Tuhan !!!”

Pantaskah kita mengucapkan kalimat-kalimat perintah sekasar ini kepada Tuhan Yang Maha Lemah lembut dan Maha Baik. Apalagi kalimat-kalimat itu kita ucapkan dalam rangka memohon sesuatu kepada Tuhan. Seandainya kita ucapkan kalimat-kalimat itu kepada para pemimpin di negara kita yang tercinta ini. Mungkin kita sudah dianggap menghina para pemimpin kita itu.

Akan lebih baik bila kita menyisipkan kata mohon dalam doa kita, karena sesungguhnya sebuah doa adalah sebuah permohonan. Dan permohonan ini kita ajukan kepada Raja Yang Maha Merajai bumi dan langit, maka merendahlah. Menggunakan kata hamba akan lebih baik. Membahasakan diri ‘aku’ kepada seorang presiden saja terkesan tidak sopan, apalagi kepada Tuhan. Merendahlah kepada Tuhan, karena memang sesungguhnya kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Bahkan jika Tuhan tidak ijinkan, kita tidak akan mampu mengangkat tangan kita untuk berdoa.

“mohon sembuhkan hamba Tuhan…”

                “mohon cabut penyakit hamba Tuhan…”

                “mohon beri hamba rejeki Tuhan…”

Terasa lebih lembut dan merendah bila kita menggunakan kalimat-kalimat seperti di atas. Berdoalah dengan merendah, gunakan kata-kata dan suara yang lemah lembut dan sopan-santun

                Setelah selesai berdoa, maka mari lakukanlah usaha dengan sunguh-sungguh. Agar Tuhan berkenan merubah nasib kita. Yang sedang sakit, berobatlah. Yang ingin bertambah uangnya, bekerjalah. Lakukan semua semata-mata agar Tuhan senang kepada kita, agar kita menjadi orang-orang yang dipilih olehNya. Jika kita ingin Tuhan senang, maka lakukanlah semua ikhtiar dengan bahagia.

Kita tidak mungkin membuat orang lain bahagia, bila kita tidak berbahagia. Demikian juga dengan Tuhan. Jika kita ingin Tuhan bahagia dengan usaha kita, lakukanlah segala usaha semata-mata hanya untukNya, dan lakukanlah usaha kita dengan bahagia. Tuhan telah memberi petunjuk bagi kita melalui agama, apa saja yang membuat Beliau bahagia. Tuhan senang dengan manusia yang ramah, maka mari jadilah manusia-manusia yang ramah. Tuhan senang dengan orang yang sabar, maka marilah menjadi orang yang sabar. Lakukan semua ikhtiar di dunia ini dengan niat semata-mata hanya ingin membahagiakan Tuhan.

Lakukanlah ibadah semata-mata karena ingin membahagiakan Tuhan. Bukan karena  ingin mengejar imbalan surga. Karena sesungguhnya yang membuat kita masuk surga bukanlah ibadah kita, tapi ridha Tuhan. Tapi logikanya, bila yang beribadah saja belum tentu masuk surga apalagi yang tidak beribadah sama sekali. Sembahlah Tuhan, hanya agar Beliau ridha kepada kita. Jadi bila kita sedang sakit, jangan bersedih, berdoalah dan berusahalah untuk mengobati penyakit kita. Ingatlah selalu bahwa Tuhan Maha Dekat, Beliau Maha Tahu apa yang kita rasakan. Dan tidak ada satupun di dunia yang melebihi Kasihsayang Tuhan. Ingatlah terus Tuhan, maka Tuhan akan mengingat kita.

                Ada sebuah fenomena yang menarik, dimana kita dapat menyaksikan begitu banyak kebesaran Tuhan ditampakkan olehNya di sebuah organisasi olahraga. Bagaimana mungkin sebuah organisasi olahraga yang notabene sebuah organisasi yang mengelola sebuah kegiatan fisik, mendapat rahmat sedemikian besar dari Tuhan ? Jawabannya sangat sederhana, karena organisasi tersebut mewajibkan para anggotanya untuk melakukan apa saja yang Tuhan suka. Mulai dari senyum ramah, sopan santun, jujur, mengasihi sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan memuliakan guru, dan banyak lagi hal-hal yang baik yang dijadikan sebagai pedoman sikap para anggotanya. Dan yang paling utama adalah, sikap untuk selalu mengingat Tuhan, dimanapun, kapanpun dan pada saat apapun. Dimulai dari olahraganya itu sendiri, setiap gerakan dari olahraga ini mewajibkan para anggotanya untuk selalu mengingat Tuhan, apapun agamanya.

Bahkan mengingat Tuhan atau dalam agama Islam dikenal dengan berdzikir, menjadi satu kekuatan yang diolah oleh organisasi olahraga pernafasan ini. Jadi tidaklah mengherankan bila Tuhan berkenan menunjukkan kebesaranNya. Banyak orang yang sebelumnya menderita penyakit yang sangat parah, dapat sembuh hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan penyakit-penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya.

                Bagaimana mungkin hal ini  bisa terjadi ? Sangat mungkin. Tidak ada satupun yang mampu menyembuhkan atau merubah takdir seseorang selain Tuhan. Saudara-saudara kita para dokter sering mengingatkan kita jika kita datang untuk berobat kepadanya, bahwa apa yang beliau lakukan adalah sekedar usaha, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Dan bukankah bila kita mengingat Tuhan maka Tuhan akan mengingat kita. Bila Tuhan mengingat kita, maka dengan mudahnya segala urusan kita diambil alih olehNya. Efek pertama yang diterima oleh kita jika kita mengingat Tuhan adalah hati kita menjadi tenang.

Sebagian besar penyakit yang kita derita disebabkan karena faktor internal, bersumber dari dalam diri kita sendiri. Hati yang gelisah, emosi yang tidak terkendali, kekuatiran yang berlebihan, dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat menyebabkan kita sakit berkepanjangan. Mengingat Tuhan atau berdzikir, sudah menjadi obat bagi sumber penyakit yang kita derita. Karena dengan mengingat Tuhan hati kita menjadi tenang. Hanya sebagian kecil saja penyakit yang disebabkan oleh faktor luar tubuh kita. Dengan berolahraga secara teratur membuat daya tahan tubuh kita meningkat. Daya tolak terhadap sumber-sumber penyakit dari luar tubuhpun menjadi meningkat. Dua syarat utama untuk menjadi sehat telah terpenuhi, hati yang tenang dan tubuh yang bugar.Jika tubuh kita sehat, lebih mudah bagi kita untuk berbahagia seperti yang Tuhan inginkan.

                Ada beberapa peristiwa yang sangat tidak masuk akal manusia yang disaksikan oleh saudara-saudara kita yang telah bergabung di olahraga ini. Bagaimana mungkin seseorang yang cacat dari lahir, tiba-tiba mendapatkan kesembuhan. Sangat mungkin bila Tuhan telah menurunkan rahmatNya. Dan dengan bersikap baik, mengharapkan Tuhan ridha kepada kita, adalah hal yang dapat mengundang rahmat  Tuhan.

                Orang yang dari lahir tidak mampu untuk berjalan, tiba-tiba setelah beberapa hari latihan, mampu berjalan. Ada yang telah bertahun-tahun berusaha untuk mengobati penyakitnya, berobat dengan segala cara, tapi tidak kunjung sembuh juga, setelah beberapa hari latihan tiba-tiba penyakitnya hilang. Bahkan ada yang menderita satu penyakit dimana dokter sedunia sepakat bahwa belum ada obatnya, HIV-AIDS, Tuhan telah berkenan untuk menyembuhkannya, setelah berlatih  di Mahatma.

                Ada yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dimana waktu tempuh normalnya 4 jam, tiba-tiba dapat ditempuh hanya dalam waktu 6 menit saja, satu hal yang sangat mustahil bagi akal manusia. Atau karena saking lelahnya sampai tertidur berkendara, tiba-tiba Tuhan selamatkan bahkan diantarkan ketujuannya.

                Ini sebagian dari kebesaran Tuhan yang telah disaksikan oleh saudara-saudara kita di Mahatma. Tuhan Maha Kuasa dan Maha Kaya, bukti-bukti kebesaranNya tidak hanya turun pada jaman para Nabi saja. Di jaman yang serba modern inipun tidak pernah habis bukti-bukti kebesaranNya turun kepada kita. Tinggal bagaimana kita bersikap menjalani hidup kita agar Beliau berkenan menurunkan rahmat kebesaranNya kepada kita. Marilah menjadi orang-orang yang dipilih olehNya. Begitu mudah untuk membahagiakan Tuhan. Semudah menarik dan membuka mulut kita untuk selalu tersenyum ramah kepada siapa saja. Karena Tuhan tidak suka kepada orang yang bermuka masam atau cemberut. Jadilah pribadi-pribadi yang ramah, yang mengasihi sesama. Tuhan saja Maha Pengasih Maha Penyayang, janganlah kita manusia menjadi pribadi yang pembenci. Tapi mari lakukan semua perbuatan-perbuatan baik itu semata-mata untuk mencapai ridhaNya.

                Sekarang mari kita lihat, apa yang terjadi di olahraga pernafasan MAHATMA (Maju Sehat Bersama). Hal ini menjadi menarik, karena di jaman modern seperti sekarang ini, dimana ritme keduniawian begitu kental, begitu banyak kebesaran Tuhan yang ditunjukkan di olahraga ini.

Organisasi olahraga pernafasan ini mewajibkan anggotanya untuk mencintai Tuhan. Dengan cara  selalu mengejar ridhaNya. Mengejar ridha Tuhan berarti melakukan segala sesuatu yang Tuhan suka, yang Tuhan senang. Dengan kata lain mengejar ridha Tuhan adalah selalu berusaha membahagiakan Tuhan. Dan Tuhan melalui nabiNya telah mengingatkan kita bahwa segala perbuatan kita dilihat tergantung dari niat kita melakukannya.

Begitu sederhana, ternyata kita telah diberi jalan yang sangat mudah untuk membuat Tuhan senang, untuk membahagiakan Tuhan. Cukup sekedar dengan berniat di dalam hati, bahwa kita melakukan apapun perbuatan baik, semata-mata hanya karena Tuhan, maka semua perbuatan itu dihitung oleh Tuhan sebagai ibadah kita kepadaNya.

                Tuhan telah memberitahu kita umat manusia, apa saja yang disukaiNya dan apa yang tidak disukaiNya. Tuhan senang dengan orang-orang yang selalu mengingatNya, maka marilah kita selalu mengingatNya, setiap saat, dalam kondisi bagaimanapun juga. Tapi jangan lupa, berniatlah melakukan hal ini semata-mata agar Tuhan ridha, agar Tuhan senang. Tuhan tidak suka kepada orang yang bermuka masam, maka janganlah kita bermuka masam, jadilah orang-orang yang ramah, kepada siapa saja, dimana saja. Dan niatkan untuk melakukan hal ini agar Tuhan senang. Tuhan suka kepada orang jujur, maka marilah menjadi pribadi-pribadi yang jujur, semata-mata  hanya untuk membahagiakan Tuhan. Dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan yang Tuhan sukai. Tuhan telah ajarkan kita tentang perbuatan-perbuatan ini melalui agama-agama yang telah diturunkanNya.

Tuhan telah menciptakan kita berbeda-beda. Dengan takdir yang berbeda-beda pula. Ada diantara kita yang kaya, tapi ada juga masih serba kekurangan. Ada yang sehat dan ada yang sakit. Ada yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, tapi ada yang sekedar membacapun tidak mampu. Tapi yakinlah bahwa Tuhan memberi kesempatan yang sama kepada setiap manusia untuk selalu mengejar ridhaNya, sesuai dengan kondisi, takdir, dan kemampuan kita masing-masing.

Jadi tidak ada alasan bagi kita, untuk tidak selalu mengejar ridha Tuhan, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membahagiakan Tuhan. Begitu banyak cara mengejar ridha Tuhan, begitu banyak cara membahagiakan Tuhan.

                “saya kan sakit keras, saya tidak bisa melakukan apa-apa, jangankan berusaha, sekedar ke kamar mandi saja harus dibantu orang”

                Bahkan untuk orang yang tidak mampu bergerak sekalipun, Tuhan memberikan kesempatan yang sama seperti orang yang paling sehat diantara kita. Bagaimana caranya ? Bersabarlah, dan temukan kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kita dalam kondisi sakit. Tuhan masih gerakkan hati orang lain untuk membantu kita, padahal mudah saja bagi Tuhan untuk menutup hati orang-orang di sekeliling kita. Dan Tuhan sangat menyukai orang-orang yang sabar, bahkan Tuhan menjanjikan bahwa Tuhan beserta orang-orang yang sabar. Tuhan lipat gandakan pahala orang-orang yang sabar dalam kondisi susah, jika sabarnya semata-mata untuk mengejar ridhaNya.

                Jadi teruslah berusaha untuk selalu mengejar ridha Tuhan, untuk selalu membahagiakan Tuhan. Apapun kondisi yang kita terima sebagai takdir kita. Kita tidak mungkin dapat membahagiakan orang lain jika kitanya tidak berbahagia. Demikian juga bila kita ingin membahagiakan Tuhan, lakukanlah semua perbuatan-perbuatan baik itu dengan niat semata-mata untuk mengejar ridha Tuhan, untuk membahagiakan Tuhan, dengan hati yang berbahagia.

Jika kita selalu mengamalkan ini semua, maka Tuhan akan beserta kita. Jika Tuhan beserta kita maka Tuhan akan menolong semua urusan kita. Tuhan menjanjikan imbalan terbaik bagi semua perbuatan-perbuatan baik. Bahkan di kehidupan  akhirat Tuhan telah siapkan ganjaran yang terbaik, yaitu surga. Tapi jangan lupa, surga adalah bentuk imbalan yang Tuhan janjikan bagi manusia yang telah membahagiakan Tuhan. Jangan berbuat baik untuk mengejar surga, bahkan jangan beribadah untuk mengejar surga. Kejarlah hanya ridhaNya, karena hanya ridha Tuhanlah yang memasukan manusia ke dalam surga, bukan perbuatan-perbuatan kita. Apapun imbalan yang Tuhan berikan untuk kita, itu sepenuhnya hak Tuhan.

Sikap-sikap inilah yang dijadikan sikap-sikap utama anggota Mahatma. Setiap anggotanya wajib mengamalkan ini semua. Tidak ragu-ragu organisasi ini untuk mengeluarkan anggotanya bila terbukti menyimpang dari ajaran Tuhan, terutama bila telah bergantung kepada selain Tuhan, atau musyrik. Hal ini dilakukan semata-mata agar Tuhan ridha kepada setiap anggota Mahatma.

Rahmat Tuhan ada dimana-mana, selama kita mampu menata hati kita untuk selalu mengejar ridhaNya. Mahatma adalah sebuah organisasi olahraga pernafasan, namun di dalamnya kita selalu dibimbing dan selalu diingatkan oleh guru-guru di sana, untuk selalu mengingat Tuhan dan selalu mencintai Tuhan, dengan cara selalu mengejar ridha Tuhan di setiap langkah kita dalam berikhtiar. Sebuah system pembinaan yang berlapis. Mulai dari pelatih kita langsung di lapangan tempat kita latihan. Para ketua, mulai dari ketua unit, ketua cabang, ketua jaringan dan yang terakhir dan yang utama, bimbingan dan pembinaan yang diberikan langsung oleh bapak Pembina, Guru Besar Mahatma, bapak K.H. DR. Achmad Riva’i. Hal inilah yang lebih memudahkan anggota Mahatma menata hati untuk terus menerus mengejar ridhaNya. Karena manusia adalah gudangnya lupa. Iman manusia selalu naik turun. Dengan memiliki guru-guru yang selalu mengingatkan kita tentang hal ini, tentu saja sangat memudahkan kita.

                Berikut adalah beberapa kesaksian sebagian anggota Mahatma tentang kebesaran Tuhan yang telah diturunkanNya di Mahatma. Bukti-bukti cinta Tuhan kepada manusia-manusia yang merintih memohon kepadaNya, yang selalu mengingatNya dan yang selalu berusaha di setiap langkahnya untuk membahagiakan Tuhan.

Mari yakinlah akan kuasaNya, terimalah cintaNya, dan jangan berputus asa terhadap rahmatNya. Tuhan begitu dekat dengan kita. Bahkan lebih dekat dari urat di leher kita. Yang menghalangi kita dengan Tuhan adalah prasangka-prasangka kita terhadap Tuhan.

Mari merendahlah kepadaNya di setiap waktu, karena kita ingin dekat denganNya di setiap saat. Kejarlah ridhaNYa, bukan untuk mendapat imbalan apapun, bukan dunia ataupun surga. Karena hanya dengan ridhaNyalah kita bisa sampai di surga. Berbuat baiklah kepada sesama, karena Tuhan akan menolong hambaNya yang membantu sesamaNya.

Tuhan Maha Kaya, baru sedikit sekali cinta yang telah Beliau turunkan ke dunia, semua sudah berjalan dengan indahnya. Dan begitu berlimpah rahmat dan cintaNYa yang telah disiapkan oleh Tuhan di akhirat bagi kita, yang selalu mengejar ridhaNya, bagi kita yang selalu berusaha membahagiakanNya.

Maka berbahagialah…Tuhan Maha Cinta.

     

 

HIV-AIDS

  

Saya SW umur 51 tahun. Saya lahir di kota Rembang pada tahun 1962. Pada saat usia 18 tahun, saya menikah, tepatnya pada tahun 1981. Memasuki satu tahun usia pernikahan, alhamdulillah kami dikaruniai seorang putri yang cantik, dan dua tahun kemudian putra kami lahir. Rumahtangga kami seperti rumahtangga lain, kehidupan kami biasa saja. Tapi pada saat pernikahan kami memasuki usia sembilan tahun, tepatnya pada tahun 1990, kami tidak dapat lagi mempertahankan pernikahan kami itu. Saya dan suami memutuskan bercerai.

Disinilah semua prahara bermula. Saya kembali ke rumah orangtua saya dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Saya harus bisa menghidupi anak-anak saya. Saya harus bekerja. Tapi apa yang bisa saya lakukan ? Saya sekolah tidak sampai lulus smp, hanya sampai kelas tiga saja. Akhirnya saya memberanikan diri untuk pergi ke Semarang. Kedua orang anak saya, saya titipkan kepada orangtua saya di Rembang. Dan alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumahtangga di kota itu. Saya jalani ini semua agar saya dapat menghidupi kedua anak saya yang masih kecil-kecil. Mereka butuh biaya untuk sekolah, makan dan yang lainnya. Tiga tahun saya bekerja sebagai pembantu rumahtangga, tapi walau bekerja sekeras apapun saya tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak saya. Penghasilan saya sebagai pembantu rumahtangga masih saja kurang untuk membiayai sekolah anak-anak. Di tengah himpitan ekonomi inilah, akhirnya ada seorang pria yang berkenan menjadi suami saya.

                Pada tahun 1997 saya menikah dengan suami kedua saya. Beliau adalah seorang koordinator taxi di kota itu. Saya sangat bersyukur, karena sekarang sudah ada seorang pria yang bertanggungjawab mengayomi saya. Tapi sama seperti pernikahan yang pertama, usia pernikahan saya yang kedua inipun hanya bertahan sembilan tahun. Pada tahun 2006 suami saya kedua meninggal dunia. Setelah sebelumnya menderita sakit yang cukup parah. Beliau menderita sakit liver. Sepeninggal suami kedua saya, saya memutuskan untuk pulang kembali ke desa saya di Rembang. Disana saya lakukan pekerjaan apa saja agar bisa membiayai hidup saya dan anak-anak.

                Setelah dua tahun tinggal di desa, saya kembali ke Semarang. Karena sepertinya, kesempatan bekerja lebih terbuka di kota itu. Lebih banyak jenis pekerjaan yang bisa saya lakukan di Semarang. Di desa saya agak terbatas. Dan Alhamdulillah pada tahun 2008 saya bekerja sebagai juru masak di sebuah pabrik di Semarang. Penghasilan yang saya dapatkan cukup lumayan untuk kehidupan saya dan anak-anak. Saya nikmati pekerjaan itu.

                Pada bulan Juni 2010 saya terkena sakit gatal-gatal dan sariawan. Awalnya tidak terlalu mengganggu, tapi lama kelamaan penyakit ini sangat mengganggu saya. Sudah banyak dokter di Semarang yang saya datangi untuk berobat, tapi penyakit saya tidak sembuh juga. Segala macam obat saya beli, karena saya ingin sembuh. Sampai tabungan saya, hasil bekerja selama setahun, habis saya gunakan untuk berobat selama empat bulan. Sementara tubuh saya semakin lemas saja. Hal ini terus berlangsung. Dokter-dokter yang saya datangi, tetap tidak dapat menemukan penyakit yang saya derita.

                Karena sakit yang saya derita semakin parah, sementara penyakitnya apa, belum juga berhasil ditemukan, akhirnya pada bulan ramadhan saya putuskan untuk pulang ke desa. Dengan langkah yang gontai karena sakit, saya berjalan dari rumah saya ke pinggir jalan raya, untuk menumpang angkutan ke desa saya. Dalam kondisi lemas, sakit yang semakin menjadi, saya berjalan perlahan. Di tengah jalan saya berjumpa dengan seseorang, orang yang sudah tua usianya.

“mba..saya minta uangnya seribu, buat beli teh” kata si bapak itu.

Karena kondisi saya yang lemas, saya tidak menjawab bapak itu. Saya hanya mengambil uang dari dompet saya, dan saya beri pada bapak itu uang sebesar sepuluh ribu rupiah. Kemudian saya melanjutkan berjalan perlahan-lahan.

                “semoga kamu panjang umur….”

Baru tiga langkah saya berjalan, terdengar bapak itu berkata seperti itu. Saya tertegun…biasanya, orang akan mengucapkan terimakasih jika menerima pemberian orang lain, tapi mengapa bapak itu berkata seperti ini. Karena penasaran saya menoleh ke belakang, ingin bertanya kepada beliau, kenapa berkata seperti itu. Aneh…bapak itu sudah tidak ada di belakang saya. Padahal jalanan yang saya lewati itu hanya satu jalan, dan itu adalah jalan buntu, kalaupun beliau sudah pergi, paling tidak saya masih bisa melihat sosoknya berjalan. Saya masih sempat mencari-cari bapak itu sebentar, tapi karena tubuh yang sudah semakin lemah, saya lanjutkan perjalanan untuk pulang ke desa saya.

                Sesampainya di desa, penyakit saya bertambah parah. Saya tidak mampu melakukan apa-apa. Tubuh saya terasa begitu lemah. Sampai akhirnya saya harus dirawat di rumah sakit. Hari raya Idul Fitri tahun 2010 saya lewati di rumahsakit. Biasanya hari raya seperti ini saya habiskan bersama keluarga, kali ini saya harus terbaring di ruang perawatan rumah sakit Lasem, Rembang.

Ternyata saat itu saya terkena demam berdarah. Setelah dirawat selama satu minggu, akhirnya saya diperbolehkan pulang ke rumah. Tapi kondisi tubuh saya masih sangat lemah. Seminggu saya di rumah, penyakit saya kambuh kembali. Saya mengira bahwa demam berdarah saya kambuh kembali. Saya segera ke puskesmas di Lasem, untuk memeriksakan penyakit saya.

                Sesampainya di rumahsakit di Lasem, saya diminta untuk memeriksakan darah saya. Setelah menunggu, akhirnya saya dipanggil untuk menerima hasil pemeriksaan darah saya. Saat diberitahu hasilnya, saya rasa dunia seperti hancur…ternyata menurut hasil pemeriksaan darah, saya bukan hanya menderita demam berdarah, saya divonis positif menderita HIV-AIDS, dan sudah stadium IV….

Bingung…kaget….tidak tahu harus bagaimana….

Ini kabar yang sangat mengejutkan….Seperti menerima vonis mati….

Saya hanya bisa menangis meraung-raung di rumahsakit itu…saya menangis sejadi-jadinya…menangis…dan hanya menangis…Langit seakan-akan runtuh, menghimpit dada saya.

Karena rumahsakit di rembang belum bisa menangani penyakit HIV-AIDS ini, maka saya dirujuk ke rumahsakit di kota Pati. Saya putuskan untuk berobat jalan, saya tidak ingin dirawat.

Kabar tentang saya mengidap penyakit HIV-AIDS begitu cepat menyebar di kampung saya. Orang-orang mulai menjauhi saya. Saya seperti orang yang menjijikkan bagi mereka. Jika saya mendekat, orang-orang menjauh. Jika saya berjalan di hadapan mereka, mereka semua menyingkir. Saya bahkan tidak diijinkan berbelanja ke warung. Padahal saya tidak akan menyentuh apapun di warung itu, saya hanya menunjuk barang-barang yang hendak saya beli, tapi mereka tetap tidak mengijinkan. Puncaknya adalah anak kandung saya sendiri, menjauh dari saya.

Hari demi hari saya jalani kehidupan ditengah masyarakat yang mengucilkan saya. Keadaan ini sangat menyedihkan. Hati saya semakin tertekan. Kondisi tubuh yang lemah, di tengah masyarakat yang sangat tidak menginginkan keberadaan saya. Saat itu penyakit saya sudah semakin parah. Kulit saya sudah mulai terkelupas, dan nampak kehitaman, seperti hangus. Untuk kehidupan sehari-hari, saya hanya mengandalkan pemberian anak kedua saya. Kadang-kadang dia memberi saya uang seratus ribu sebulan sekali, kadang-kadang dua minggu sekali, tidak menentu. Karena dia sendiripun baru saja bekerja sebagai kernet truk. Tubuh saya semakin lemah, tidak mampu berjalan jauh.

Semakin hari kondisi kesehatan saya semakin menurun. Masyarakat semakin mengucilkan saya. Pada suatu siang saya tidak kuat lagi menanggung ini semua. Sambil melangkah tertatih-tatih, karena telapak kaki yang mengelupas, saya berjalan menuju laut yang tidak jauh letaknya dari rumah. Benak saya dipenuhi dengan segala macam pikiran yang menghimpit saya selama ini. Dengan kesehatan yang terus merosot, bila saya meninggal di rumah, siapa yang akan mengurus jenazah saya nanti. Pasti tidak akan ada yang mau menguburkan saya. Bahkan mereka mungkin tidak tahu kalau saya meninggal sendirian di rumah. Dalam kondisi masih hidup saja, orang-orangpun sudah tidak ada yang mempedulikan saya, tidak ada yang mau berhubungan dengan saya. Saya tidak sanggup lagi…saya ingin mati…saya memutuskan untuk menenggelamkan diri saya di laut. Jika saya mati dilaut, jenazah saya akan hilang begitu saja ditelan lautan. Tidak perlu dikubur. Tidak akan ada yang mencari…

Tanpa memperdulikan rasa perih di sekujur tubuh yang luka, saya melangkah masuk ke dalam laut. Setiap langkah membawa saya semakin dalam…makin dalam…sampai terakhir saya ingat, saya berdiri dengan air laut hampir menenggelamkan saya. Saya liat ada ombak yang datang, dan akhirnya….gelap…saya tidak ingat apa-apa.

Entah berapa lama saya tidak sadarkan diri.

                “sudah matikah saya ?” batin saya pada saat saya mulai tersadar.

Tangan saya mulai meraba apa saja yang bisa saya sentuh. Saya merasakan permukaan halus…pasir…perlahan saya membuka mata dan melihat keadaan sekeliling saya…pantai.

                “kenapa saya ada di pantai ? saya kan ingin mati”

                “tadi kan saya sudah tenggelam”

Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak saya. Dengan sisa tenaga saya, saya bangun dan terduduk di atas pasir pantai.

                “apakah Tuhan belum mengijinkan saya mati ?” tanya saya lagi dalam hati.

Lama saya termenung…

Menangis…

Sambil mencengkeram pasir pantai saya merintih kepada Tuhan..

                “ya Allah…hamba tahu benar Engkau telah memberi hamba kesempatan hidup ya Allah…tapi mohon berilah hamba jalan keluar ya Allah…hamba benar-benar sudah tidak kuat…” rintih saya kepada Tuhan.

Saya menangis sejadi-jadinya. Lalu saya menjerit, saya tidak perduli lagi dengan sekeliling. Saya hanya ingin menumpahkan semua beban saya, dan mengadu kepada Tuhan.

“ya Allah…” saya menjerit

                “jika memang ini kehendakMu…mohon beri hamba jalan keluar….mohon jangan beri hamba beban yang beraattt…jika hamba tidak mampu memikulnya”

Saya terus menjerit…saya hanya ingin mengadu kepada Tuhan. Selama ini saya tanggung sendiri semua beban ini. Tidak ada tempat berbagi. Lama-kelamaan tubuh saya terasa lemas.

Saya bangun perlahan-lahan..berjalan gontai menuju rumah. Sekujur tubuh saya basah oleh air laut. Rasa perih mulai terasa di kulit saya yang terkelupas.  Benak saya dipenuhi sejuta pertanyaan. Namun kemudian muncul satu keyakinan dalam hati saya, bahwa Allah masih memberi saya kesempatan untuk hidup. Keputusan saya untuk bunuh diri masih ditolak oleh Allah. Saya harus memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.

Sesampainya di rumah, saya cari obat-obatan saya. Telah cukup lama saya berhenti meminum obat-obatan. Karena saya merasa sudah tidak berguna lagi saya hidup, kali ini, saya mulai lagi meminum obat itu. Ternyata persediaan obat saya mulai menipis. Hari itu saya habiskan untuk merenungkan kejadian yang baru saja saya alami.

Tidak berapa lama persediaan obat saya habis. Saya harus kembali menemui dokter Edi yang selama ini merawat saya. Pada saat saya sedang diperiksa oleh beliau, ada satu hal yang beliau katakan kepada saya, yang tidak mungkin saya lupakan.

“ibu…ibu tidak usah terlalu memikirkan dunia” dokter Edi berkata

“nanti akan ada sendiri jalannya..sekarang lebih baik ibu ke pondok Gus Jaim…mintalah bimbingan rohani disana”

Waduh…bagaimana mungkin saya berani ke pondok Gus Jaim. Sedangkan bila saya datang ke pengajian-pengajian di kampung saya, pengajian itu langsung bubar.

Tapi akhirnya dokter Edi berhasil meyakinkan saya, bahkan beliau berkenan membuatkan surat pengantar untuk saya bawa ke pondok Gus Jaim. Saya bersedia untuk datang kesana, mungkin inilah jalan yang dibukakan Allah bagi saya. Kemudahan pertama telah ditampakkan oleh Tuhan kepada saya. Lebih ringan bagi saya untuk menjalani hidup, walau penyakit saya masih parah, tapi saya sudah lebih bisa menerimanya. Kadang kalau sedang terjadi serangan, saya sampai tidak kuat menggerakkan tubuh saya.

Kadar cd4 dalam darah saya menurun sampai hanya 76. Sementara saya bisa dikatakan normal bila kadar cd4 saya antara 400-1800. Tapi saya sudah lebih pasrah lagi menjalani hidup. Sambil terus berdoa kepada Tuhan, memohon ampunan dan kemudahan-kemudahan.

Bulan Desember tahun 2012, saya diajak menghadiri workshop dalam peringatan hari AIDS sedunia, yang diselenggarakan di pendopo kabupaten Rembang. Saya diundang untuk memberikan testimoni tentang penderita HIV-AIDS. Saya berbicara tentang keadaan yang menimpa saya, dengan harapan tidak ada lagi orang yang mengalami hal-hal yang sudah saya alami.

Satu minggu setelah acara itu, ada orang yang datang ke rumah saya, ditemani oleh sekretaris desa. Sekretaris desa saya mengenalkan beliau bernama bapak Akhmad Sulkan dari Mahatma. Rupa-rupanya beliau hadir juga pada peringatan hari AIDS di pendopo kabupaten. Beliau bersimpati atas penderitaan yang telah saya alami.

“ibu..ini bapak Akhmad Sulkan dari Mahatma..” kata bapak sekdes memperkenalkan.

“beliau ini ingin membantu ibu…mudah-mudahan ada jalan keluar buat ibu” lanjutnya lagi.

“bu…semua penyakit itu ada obatnya, kecuali pikun dan kematian” kata bapak Akhmad Sulkan.

Mendengar kata-kata beliau ini, semangat saya bertambah. Saya ingin terus berobat.

               

Kemudian bapak Akhmad Sulkan menjelaskan apa itu Mahatma. Saya tertarik sekali. Saya ingin sembuh. Kenapa tidak saya coba ? begitu yang muncul dalam benak saya. Dan kelihatan sekali niat bapak Akhmad Sulkan yang tulus.

                “bu..kalo njenengan tertarik, kalo bisa njenengan latihan tiap hari” kata bapak Sulkhan kepada saya.

                “ibu sanggup ndak untuk datang ke tempat saya melatih ?” beliau bertanya.

                Beliau menjelaskan bahwa dalam satu minggu beliau melatih Mahatma di delapan tempat yang berbeda.

                “pak…saya sanggup…tapi saya tidak punya sarana untuk mengikuti bapak” jawab saya

                “berapa ongkos yang ibu butuhkan untuk transport dari rumah ibu ke kota ?” tanya beliau lagi

                “sekali jalan 3.000 pak…jadi pulang pergi 6.000”

                “baik ibu…kalau begitu setiap hari ibu jalan latihan, ibu saya beri 15.000…cukup atau tidak ?” tanya beliau

                “terimakasih pak…cukup” jawab saya.

                “nah kalau cukup…mari kita berkomitmen untuk latihan…ibu harus yakin bahwa penyakit ibu pasti ada obatnya…saya ini tidak bisa apa-apa, saya hanya berikhtiar untuk mengobati…tapi yang menyembuhkan adalah Allah”

                “baik pak…saya sanggup”

                Luar biasa ketulusan bapak Akhmad Sulkan ini. Saya tidak mengenal beliau sebelumnya. Di saat semua orang menjauhi saya, beliau datang menawarkan bantuan yang sedemikian besar bagi saya. Dan beliau berkata bahwa ini semua beliau lakukan semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah.

Saya sangat bersyukur kepada Allah, karena pertolonganNya telah sampai kepada saya. Dengan disaksikan bapak sekdes, saya berjanji kepada beliau untuk datang kemanapun beliau melatih Mahatma. Akhirnya pada tanggal 22 Desember 2012, saya mulai ikut latihan Mahatma.

                Hari pertama saya latihan, bapak Sulkan mengenalkan saya dengan para anggota Mahatma di unit tempat saya latihan. Ada satu peristiwa besar yang saya alami. Ibu-ibu di tempat latihan Mahatma itu menjabat tangan saya. Satu hal yang telah bertahun-tahun tidak pernah saya alami. Jangankan berjabat tangan, berdekatan saja orang-orang tidak mau. Alhamdulillah…saya bersyukur kepada Allah telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik ini.

                Saya pun mulai latihan Mahatma. Saya diajari tehnik pernafasan Mahatma dan gerakan-gerakannya. Saya berusaha mengikuti semampu saya. Ajaib….badan saya terasa segar. Biasanya untuk berjalan 500 meter saja saya harus berhenti beberapa kali, kali ini saya mampu bergerak melakukan jurus-jurus Mahatma. Saya semakin bertambah semangat untuk terus ikut latihan.

                Hari kedua saya datangi tempat latihan dimana bapak Sulkhan melatih. Kali ini tempat yang berbeda dari yang kemarin. Saya menyimak sekali segala pengarahan yang beliau berikan. Hari ketiga, hari keempat dan seterusnya…

Semangat saya semakin bertambah. Karena saya merasakan perubahan yang sangat besar di tubuh saya. Kulit saya yang tadinya mengelupas, perlahan-lahan sembuh.

Badan saya mulai berisi lagi. Saya tidak mudah lelah, bahkan penyakit saya tidak pernah kambuh lagi. Saya mulai berani mandi dengan air dingin, kalau sebelumnya saya harus mandi dengan air hangat.

Dan yang paling utama adalah…saya mulai merasa berbahagia lagi. Satu hal yang sudah begitu lama tidak saya rasakan. Saya mulai bisa tertawa lagi, bercanda dengan saudara-saudara saya di Mahatma. Ini semua mendorong saya untuk lebih giat lagi berlatih.

Bahkan kadang-kadang jika selesai latihan bersama teman-teman di unit, malam harinya saya latihan sendiri di rumah. Tidak perduli orang-orang menganggap saya sudah gila. Malam-malam latihan jurus di pekarangan sendirian.

Dua bulan sudah saya latihan Mahatma. Setiap hari saya datang ke tempat pak Sulkhan melatih. Saya patuhi semua wejangan beliau, bahwa saya harus bersemangat untuk latihan. Allah tidak akan merubah nasib satu kaum, jika kaum itu tidak berusaha merubah nasibnya. Itu saya ingat terus. Dan kini tibalah saatnya saya mengikuti ujian pendadaran, untuk dilantik secara resmi menjadi anggota Mahatma. Saat itu tubuh saya sudah sangat jauh berbeda. Saya sudah sangat bugar dan kuat.

Karena itu saya yakin untuk mengikuti ujian pendadaran itu. Dan pada saat ujian pendadaran, saya diberikan kesempatan oleh bapak Guru Besar, bapak Pembina Mahatma, bapak KH. DR. Achmad Riva’i, untuk menceritakan pengalaman saya. Sungguh satu berkah yang luar biasa yang saya terima. Semoga Allah selalu merahmati guru kami itu, karena melalui perantaraan beliaulah, semua nikmat Allah ini bisa saya rasakan.

Selesai ujian dan saya dilantik secara resmi menjadi anggota Mahatma, saya cari bapak Sulkan untuk berterimakasih kepada beliau. Karena kepedulian beliaulah, saya bisa bergabung dengan Mahatma dan menerima rahmat Allah yang sedemikian besar.

“ibu bersyukurlah kepada Allah…karena kalau kita bersyukur kepada Allah, Allah akan menambah nikmatNya untuk kita..kalau ibu selalu bersyukur nanti Allah akan menambahkan nikmatnya buat ibu…berupa kesehatan dan sebagainya..dan lagi saya tidak bisa apa-apa kalau ibu tidak bersungguh-sungguh berusaha..” beliau berkata seperti itu pada saat saya berterimakasih kepadanya.

Sungguh satu ketulusan sikap yang luar biasa. Bukan hanya dari bapak Sulkan kebaikan yang saya terima, demikian juga dari anggota-anggota Mahatma yang lain. Saya seperti mendapatkan saudara-saudara baru. Kini rumah saya mulai dikunjungi tamu lagi, saudara-saudara saya dari Mahatma. Lambat laun tetangga-tetangga saya di kampung mulai terpengaruh. Perlahan mereka sudah tidak menjauhi saya lagi.

                Alhamdulillah sekarang saya sudah dinyatakan normal, bersih dari HIV-AIDS. Bulan November 2013, saya pergi ke rumahsakit di kota Pati tempat saya selama ini berobat. Saya cek darah, dan hasilnya kadar cd4 saya naik menjadi 570. Kadar normalnya adalah 400-1.800. Dengan hasil itu maka saya dinyatakan sembuh. Bahkan dokter yang selama ini merawat saya tidak mengenali saya lagi. Karena menurut beliau, penampilan saya sudah sangat jauh berbeda.

Alhamdulillah….segala puji bagi Allah…satu tahun yang lalu saya sampai berniat untuk mengakhiri hidup saya karena putus asa dengan penyakit yang saya idap. Penyakit yang sampai saat ini dokter seluruh dunia sepakat belum ada obatnya. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Kuasa…tidak ada hal yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak. Sangat mudah bagi Tuhan untuk merubah nasib manusia.

                Saat ini saya aktif terlibat dalam pembinaan ODHA (Orang Hidup Dalam Aids) di kabupaten Rembang. Saya ingin berbagi nikmat Tuhan ini. Banyak dari rekan-rekan saya yang saat ini menderita HIV-AIDS, meminta saya untuk melatih Mahatma. Karena itulah saya berniat untuk menjadi pelatih Mahatma. Agar saya dapat menyebarkan nikmat Tuhan ini, sebagai bentuk rasa syukur saya kepada Allah, dan rasa terimakasih saya kepada guru-guru saya di Mahatma, kepada bapak Pembina Mahatma, bapak K.H.DR. Achmad Riva’i. Luar biasa nikmat Tuhan ini. Tidak mampu saya gambarkan rasa bahagia saya.

Terimakasih ya Allah…

 

Seperti yang dikisahkan oleh :

                Ibu SW dan,

                Bapak Achmad Sulkan ( Rembang, Jawa Tengah )

                NAM       366983

                Telp        0856-4172-5111

 

 

SAKIT TIDAK JELAS MENAHUN

  

Tahun 2004 saya terserang sakit parah. Saya mengira bahwa ini semua disebabkan karena profesi saya yang menuntut kerja fisik yang keras. Tahun 2004 itu saya sedang bekerja di Jayamix. Luar biasa tersiksanya saya. Detak jantung saya lambat sekali. Dada dan punggung saya terasa panas. Untuk sekedar berdiri tegak saya tak mampu, sehingga harus dibantu dengan tongkat. Suatu hari di tahun 2004 saya mendapatkan serangan yang luar biasa dahsyatnya. Sampai-sampai saya merasa bahwa ajal saya sudah dekat. Rasanya seperti ulu hati saya didorong dari segala arah. Sakit luar biasa dan sesak.

                Karena melihat kondisi saya yang sangat lemah saat itu, istri dan keluarga saya memutuskan untuk membawa saya ke Rumahsakit Haji Pondok Gede. Saya langsung dibawa ke IGD. Setelah diperiksa maka diputuskanlah bahwa saya harus dirawat inap saat itu juga. Tiga orang dokter spesialis yang menangani penyakit saya. Bermacam terapi saya jalani. Sampai tim dokter yang merawat saya memutuskan bahwa saya harus di endoskopi. Karena menurut tim dokter lambung atau usus saya ada yang luka. Luar biasa sakitnya. Karena tubuh kita dimasukkan kamera dengan kabel yang panjang, waktu itu tim dokter memasukkan kamera dari mulut saya. Tapi hasil dari endoskopi menunjukkan bahwa usus dan lambung saya tidak apa-apa. Kemudian bermacam-macam lagi terapi yang saya jalani. Sampai pada akhirnya tim dokter yang menangani saya berkesimpulan bahwa sakit yang saya derita adalah sakit jantung. Saya menjalani rawat inap di Rumahsakit Haji selama 28 hari. Bukan biaya yang kecil untuk menjalani itu semua. Tapi sakit yang saya derita tidak mengalami perubahan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja, dirawat di rumah.

                Di rumah, saya tetap merasakan sakit. Sudah barang tentu dengan kondisi seperti ini saya praktis tidak bisa bekerja. Fisik sakit, pikiran terganggu. Saya sampai takut untuk tidur di malam hari. Karena biasanya sakitnya itu datang saat hari mulai sore sampai subuh. Kalau malam, saya hanya terduduk di tempat tidur, karena saya takut jika saya tertidur, saya tidak akan pernah bangun lagi. Luar biasa menyiksanya penyakit ini. Akhirnya kabar tentang sakit saya ini sampai ke telinga kakak saya. Beliau seorang dokter di rumahsakit Cipto Mangunkusumo 

Saya berobat ke rumahsakit Cipto, masih di tahun 2004. Disana saya diperiksa oleh seorang dokter ahli penyakit dalam. Setelah memeriksa saya dengan teliti. Saya kembali menjalani berbagai terapi di sana. Ini semua saya jalani bukan hanya dalam sekali kunjungan. Berkali-kali saya harus bolak-balik rumah ke rumahsakit dengan jarak yang cukup lumayan jauh dari rumah saya dalam kondisi sakit. Terakhir tubuh saya dimasukkan ke dalam tabung. Saya seperti merasa masuk ke dalam liang kubur saat itu. Kondisi lemah karena sakit, dimasukkan ke dalam ruang yang sempit.

Akhirnya dokter ahli penyakit dalam yang menangani saya berkesimpulan bahwa saya menderita batu empedu. Dan tidak ada tindakan lain selain harus dioperasi. Semakin lemas saya mendengar kabar ini. Tapi karena sangat ingin sembuh, dan sudah terlalu lama saya tersiksa oleh penyakit ini, akhirnya saya pasrah saja pada keputusan dokter. Tapi kurang berapa lama masuklah seorang dokter yang usianya jauh lebih tua dari dokter yang menangani saya, ke ruangan tempat saya di rawat. Dokter yang sudah sepuh ini memeriksa data-data saya. Dan yang membuat saya kaget, dokter ini berkata bahwa saya tidak menderita batu empedu dan tidak perlu di operasi.

“waduh…lantas saya sakit apa ?’ batin saya

“bapak…bapak ini sakit jantung…jadi datang saja besok kita periksa”

Saya hanya bisa mengangguk pasrah. Sambil tersenyum getir, karena bingung. Kalau dokter saja bingung menentukan sakit saya apa, apalagi saya.

Keesokan harinya saya datang kembali ke rumahsakit Cipto untuk menjalani terapi jantung saya yang konon sakit. Setibanya saya di rumahsakit, setelah menunggu antrian untuk diperiksa, akhirnya tibalah giliran saya. Saya masuk ke ruangan, dan saya diminta untuk naik ke sebuah alat. Badan saya ditempeli kabel-kabel, untuk mendeteksi jantung saya mungkin, saya seperti robot saat itu. Dan dokter yang mendampingi saya meminta saya untuk berlari.

“lari ?! jalan aja saya susah…lari ??” dalam hati saya ragu-ragu.

“kalau saya jatuh bagaimana ?” makin ragu

“silakan pak..mulai” suara dokter itu menyadarkan saya dari keraguan saya.

Akhirnya saya mulai lari. Awalnya pelan-pelan, tapi lama kelamaan semakin kencang. Nafas saya yang sudah susah semakin susah. Seperti sisa ditenggorokan saja. Tidak berselang lama akhirnya terapi ini selesai. Seluruh badan saya basah oleh keringat. Sekedar bicarapun sepertinya saya tidak mampu. Saya sibuk mengumpulkan nafas. Saya diminta menunggu hasil dari terapi saya. Hari itu, waktu terasa seperti sangat panjang. Akhirnya hasil yang saya tunggu-tunggu keluar juga. Dan kami diminta untuk membawa hasil itu ke rumahsakit Harapan Kita, rumahsakit khusus penderita jantung.

“wah..pindah rumahsakit lagi ” pikir saya

Hari itu kami memutuskan untuk pulang saja. Karena sudah cukup sepertinya saya menjalani terapi hari itu. Saya tidak bisa membayangkan seandainya kami ke rumahsakit Harapan Kita hari itu juga, dan sesampainya di sana saya disuruh lari lagi. Disuruh lari sekali saja sepertinya semua tenaga saya habis. Malam harinya kembali saya tidak bisa tidur. Saya hanya terduduk di tempat tidur sambil memeluk tiga tumpuk bantal. Agar saya bisa menyenderkan dagu saya seandainya saya kelelahan. Jika terasa sudah mau hilang tertidur, maka saya terbangun dengan kaget. Detak jantung saya seperti membuat seluruh badan saya bergetar.

                Esok harinya pagi-pagi sekali, kami berangkat ke rumahsakit Harapan Kita, membawa hasil tes dari rumahsakit Cipto. Lumayan panjang antrian untuk sekedar memperlihatkan selembar kertas hasil tes. Giliran saya tiba, saya ditemani istri masuk ke ruangan dokter. Kami berikan hasil tes dari rumahsakit Cipto. Beliau memeriksanya sejenak, kemudian yang saya takutkanpun tiba. Saya disuruh lari lagi….

                “ini dokter-dokter tahu gak ya kalau saya sakit” saya membatin pasrah, sambil naik ke alat yang ditunjuk.

Mungkin sekitar 10 menit saya disuruh berlari, tapi rasanya seperti seharian saya berlari. Akhirnya selesai juga. Dokter itu terdiam membaca hasilnya. Ekspresi muka beliau serius sekali. Saya yang melihatnya jadi khawatir.

                “Siapa yang bilang kamu sakit jantung ? suruh kesini orangnya…” tiba-tiba dokter itu berkata.

                “hah…” cuma itu yang keluar dari mulut saya

                “kamu ini gak sakit jantung” dokter itu berkata lagi

                “jantungmu sehat begini kok”

Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Lalu saya sakit apa ? Semua diagnosa dokter dibantah oleh dokter juga. Dalam kebingungan kami pulang. Kalau dibilang sehat, saya sakit. Bahkan sakit yang luar biasa yang saya rasakan.

                Karena tidak tahu harus berobat kemana lagi, selama beberapa hari saya hanya terdiam di rumah. Sementara kondisi badan saya tidak ada perubahan sama sekali. Padahal semua obat-obatan yang diberikan dokter tetap saya minum. Berat badan saya menurun drastis. Tersiksa sekali. Sampai ada seorang kerabat saya yang menyarankan untuk berobat ke alternatif. Tapi kemana ? saya tidak tahu tempat pengobatan alternatif. Maka saya dan istri sibuk mencari alamat pengobatan alternatif untuk penyakit saya. Sampai akhirnya ada seorang kerabat yang tahu, ada satu tempat pengobatan alternatif, yang menurutnya bisa mengobati penyakit saya. Dan katanya pengobatan alternatif ini sudah cukup terkenal. Saya dan istri setuju untuk datang ke tempat pengobatan alternatif itu. Kerabat saya ini memberitahukan bahwa kalau berobat di tempat itu saya harus membawa telur 2 kilo.

                “banyak bener telurnya ?’ dalam hati saya membatin.

Tapi karena saya ingin sekali sembuh, akhirnya saya siapkan persyaratannya. Dengan membawa telur sebanyak 2 kilo, kami berangkat ke tempat pengobatan alternatif itu. Ternyata memang cukup banyak orang yang berobat ke sana. Dari dalam ruang pengobatan, terdengar suara beberapa orang yang bertahlil.

Agak tenang hati saya, paling tidak pengobatan ini menggunakan cara-cara yang sejalan dengan agama saya. Memang agak penasaran juga dengan cara pengobatannya. Apa hubungannya telur yang kami bawa dengan suara-suara tahlil yang terdengar dari dalam ruangan

                “ah..sabar aja deh…nanti juga tahu” begitu kata hati saya.

Saatnya saya masuk ke dalam ruangan. Saya ditemani istri saat itu. Saya diminta untuk duduk bersila, saya hanya menurut saja. Begitu saya duduk, bahu saya di pegang, satu orang di bahu kanan, satu orang di bahu kiri.

                “kenapa saya dipegang ya ?”

                “saya kan gak berniat melarikan diri” tanya saya dalam hati.

Tapi karena ingin sembuh, saya ikuti saja.

Dimulailah ritual pengobatan, telur yang kami bawa, kami serahkan kepada orang yang duduk di hadapan saya. Beliau ambil satu butir, dan beliau gosokkan ke kening saya. Kedua orang yang memegang bahu saya, membaca tahlil dengan keras. Setelah dua atau tiga kali beliau gosokkan, beliau pecahkan telur itu. Dan luar biasa, saat telur itu dipecahkan, ternyata berisi pecahan-pecahan kaca.

                “darimana pecahan kaca itu ya ?” dalam hati saya penasaran.              

Kemudian diambil lagi satu butir telur kemudian digosokkan ke dada saya. Dipecahkan…ada paku.

                “kok badan saya seperti toko matrial ?” hati saya makin penasaran.

Satu butir lagi, digosok lagi, dipecahkan…ada rambut

Satu butir lagi, digosok lagi, dipecahkan….telurnya berdarah.

                “wah…jangan-jangan tadi saya beli telur busuk” batin saya.

Terus diulang ritual ini, sampai habis telur yang saya bawa. Saya tidak tahu lagi, benda apalagi yang keluar dari tubuh saya. Begitu dianggap selesai, saya langsung mengajak istri saya untuk pulang. Badan saya sudah terasa lelah.

                Sampai di rumah sudah agak sore, saya mulai gelisah. Karena biasanya sore seperti ini penyakit saya kambuh lagi. Dan ternyata benar. Keringat dingin mulai keluar. Nafas saya mulai sesak. Detak jantung saya mulai terasa tidak normal.

                “bukannya tadi sudah banyak benda yang keluar…kok masih sakit juga” tanya saya ke istri.

                “sudahlah…itu sihir, gak usah dipikirin, nanti malah musyrik kita” kata istri saya.

Malam itu saya tidak bisa tidur lagi. Padahal sudah menjalankan terapi alternatif itu, sudah minum obat-obatan dari dokter, sakit yang sama masih saya rasakan.

                Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, saya lewati dalam kondisi seperti ini. Jika ada yang datang memberitahu bahwa ada tempat pengobatan yang bagus, langsung saya datangi. Bahkan sampai ke luar kota, ke gunung-gunung. Sampai suatu ketika ada seorang kerabat lain yang memberitahukan satu tempat pengobatan alternatif di sebuah tempat di Jakarta. Saya ajak istri saya untuk datang ke tempat itu. Saya tidak ingin menyerah kepada penyakit saya ini.

                Kami datangilah tempat pengobatan alternatif itu. Badan saya hanya dipijat diusap saja. Pada bagian ulu hati saya, tiba-tiba dukun yang mengobati saya bergetar tangannya. Dia seperti mencabut sesuatu dari dalam perut saya. Di tangannya seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak.

                “apa itu ya ?” batin saya

Lalu dia melakukan hal itu sekali lagi. Mencabut sesuatu lagi. Kembali seperti ada yang bergerak-gerak di tangannya. Saya semakin penasaran apa itu.

                “ini penyakitnya sudah dicabut…tapi jangan dibunuh nanti” kata dukun itu. Sambil menyodorkan sesuatu dalam kantong plastik.

Saat saya lihat isi kantong plastik itu, saya kaget luar biasa. Heran tapi juga geli yang amat sangat. Hampir saya tidak mampu menahan untuk tidak tertawa. Isi kantong plastik yang berhasil dia cabut dari dalam perut saya adalah…dua ekor kodok.

Dan hebatnya kodok-kodok itu masih dalam keadaan hidup. Saya tidak tahu harus bagaimana…mau tertawa, penasaran, tapi ya marah juga, bagaimana mungkin kodok-kodok hidup di dalam perut saya sekian lama. Perut saya kan bukan rawa-rawa.

                “waduh…ini saya sembuh enggak, musryik iya nih..kalau saat ini saya mati…saya mati dalam keadaan musyrik..bahaya ini” kata hati saya.

Setelah berterimakasih kepada dukun itu, cepat-cepat kami pulang. Kodok-kodok itu kami buang di rawa-rawa di dekat rumah.

                Sesampainya di rumah saya berdoa kepada Allah. Memohon kesembuhan, juga memohon agar saya diselamatkan dari kemusyrikan. Istri saya menyarankan agar saya berobat kepada dokter lagi saja. Karena dia khawatir dengan pengobatan-pengobatan yang dia lihat, khawatir kami terjebak menjadi musryik. Saya hanya bisa menurut saja. Karena sayapun merasakan hal yang sama. Sudah lebih dari duapuluh tempat pengobatan alternatif yang telah saya datangi, tapi keadaan saya tidak mengalami perubahan.

Pada perayaan hari kemerdekaan negara kita, saya bertemu dengan salah seorang sahabat. Saya ingin melihat anak saya, yang mengisi acara di perayaan tujuhbelasan di kampung saya. Beliau tersentuh melihat kondisi saya. Untuk berjalan saja saya harus dibantu tongkat. Tidak mampu berdiri lama.

                “sudah…ikutan Mahatma yuk, biar kamu sehat lagi” kata sahabat saya

                “apa itu Mahatma ?’ tanya saya

                “Mahatma itu olahraga pernafasan, bisa mengobati segala macam penyakit” kata dia lagi.

Saya hanya terdiam, dalam kondisi seperti ini, di rumahsakit saya disuruh lari-lari, sekarang sahabat saya ini mengajak saya senam, bagaimana sih orang-orang ini ? apa mereka tidak melihat kondisi saya yang lemas seperti ini ?

               

“ayo…kapan mau mulai latihan ? daripada sakit terus” tanya teman saya lagi.

                “iya…nantilah” jawab saya sambil tersenyum kepada dia. Kami melanjutkan menonton acara bersama-sama.

                Berhari-hari telah lewat setelah acara itu. Saya telah melupakan obrolan saya dengan sahabat saya. Sampai suatu pagi, istri saya mengajak saya bicara, sepulangnya dari berbelanja.

                “pak…ada pengobatan bagus, namanya Mahatma, coba aja, katanya bagus” kata istri saya.

                “kata siapa ?” tanya saya

                “kata ayuk penjual sayur”

Saya jadi teringat kembali obrolan saya dengan sahabat saya waktu perayaan tujuhbelasan. Beliau juga berkata seperti ini. Mengajak saya untuk ikut Mahatma.

                “itu dari India ?” tanya saya kepada istri.

                “bukan…sudah banyak kok yang ikut” jawabnya.

Akhirnya saya bersedia untuk ikut. Tidak ada salahnya untuk saya coba. Siapa tahu kali ini penyakit saya bisa sembuh.

                Malam itu saya datang ke lapangan olahraga di dekat rumah, dengan diantar istri. Di sana sahabat saya sudah menunggu dengan seorang pelatih Mahatma. Rupa-rupanya sahabat saya itupun sudah menjadi seorang pelatih Mahatma. Saya dikenalkan dengan pelatih Mahatma itu.

                “pak Darno..ini pak Ferry, pelatih Mahatma” kata sahabat saya mengenalkan pelatih Mahatma itu.

                “pak…jangan kuatir, berlatih saja dengan semangat, sudah banyak kok orang yang sakit dan mendapatkan kesembuhan…asal bapak mau berlatih dengan semangat” kata pak Ferry pelatih Mahatma itu.

Malam itu saya mulai latihan hari pertama. Saya diajari tehnik nafas Mahatma serta jurus-jurusnya. Saya sudah tidak memikirkan lagi apa saya mampu atau tidak. Yang ada di pikiran saya hanya keinginan untuk sembuh. Langkah demi langkah saya jalani. Bukan hal mudah bagi saya saat itu. Untuk sekedar bernafas biasa saja berat buat saya, apalagi harus menahan nafas sepanjang tujuh langkah seperti yang diinstruksikan pelatih Mahatma itu. Dada saya rasanya seperti terbakar. Rasa panas yang saya rasakan seperti tembus ke punggung saya.

Jika semangat saya mulai kendur, pelatih saya mengingatkan untuk terus berdzikir. Saya seperti tersadarkan kembali. Saya kembali bergerak semampu saya, mungkin buat pelatih dan sahabat saya gerakan saya berantakan, biarlah, yang penting saya terus berusaha. Sambil terus dalam hati memohon kesembuhan dari Allah.

                Malam itu latihan selesai, dengan imbauan dari pelatih saya besok datang kembali. Malam ini saya disuruh mandi sebelum tidur. Dan obat-obatan yang sedang saya minum, beliau minta untuk tidak diminum lagi. Saya hanya mengangguk lemas. Tenaga saya habis terkuras. Sekujur tubuh saya basah oleh keringat.

                Sampai di rumah, saya turuti semua petunjuk pelatih. Saya mandi. Malam ini saya tidak meminum obat. Padahal sudah berjalan setahun lebih saya mengkonsumsi obat-obatan. Hanya karena ingin mengikuti saran pelatih saja, saya tinggalkan obat-obatan itu. Sehabis mandi saya baring di tempat tidur, karena badan saya terasa lelah sekali. Dan tanpa sadar saya tertidur…

Esok paginya saat terbangun saya merasa badan saya segar sekali. Ajaib…setahun lebih saya tidak bisa tertidur malam, kali ini setelah latihan, saya tertidur dengan nikmatnya. Sungguh kemajuan yang pesat yang saya rasakan. Perut saya yang biasanya terasa tidak nyaman, pagi itu saya rasakan nyaman sekali. Nafas sayapun terasa normal. Demikian juga dengan detak jantung saya. Satu kondisi yang sudah sangat lama tidak pernah saya rasakan lagi.

“baru sekali latihan hasilnya sudah seperti ini ya.” pikir saya.

“saya harus latihan terus nih..”

Saya ceritakan nikmat ini kepada istri. Dan dia sangat mendukung saya untuk terus latihan. Malamnya saya datang kembali ke lapangan. Kali ini saya berangkat sendiri. Walaupun masih menggunakan tongkat. Dan di lapangan pelatih saya sudah menunggu. Kami mulai latihan hari kedua. Tetap…luar biasa beratnya saya rasa latihan saat itu, kalau malam sebelumnya tujuh langkah, malam ini ditambah lagi oleh pelatih saya menjadi delapan langkah.

Tapi saya hanya pasrah dan menurut saja. Dada dan punggung saya seperti terbakar lagi, tapi rasanya tidak sepanas malam sebelumnya. Selesai latihan malam itu, badan saya terasa lebih bugar lagi. Luar biasa nikmatnya. Sudah terlalu lama saya tidak merasakan hal seperti ini. Pulang ke rumah saya mandi, dan malam itu saya bisa tidur lagi. Alhamdulillah…nikmat sekali.

                Karena merasakan kemajuan yang begitu pesat, bahkan dalam hitungan hari, saya merasa mantap untuk terus mengikuti latihan Mahatma. Walaupun tidak mudah bagi saya saat itu. Karena saya mulai latihan pada saat kondisi saya sedang tertimpa sakit. Tapi alhamdulillah, setelah latihan selama seminggu berturut-turut, keluhan yang saya rasakan selama setahun lebih, hilang sudah. Sudah berbagai cara pengobatan saya mencari kesembuhan. Hanya dengan seminggu latihan saya mendapatkan apa yang saya cari selama ini. Berbagai jenis obat-obatan sudah saya konsumsi. Banyak rumahsakit saya datangi. Berbagai tempat pengobatan alternatif saya kunjungi, bahkan yang sampai menjerumuskan saya ke kemusyrikan. Tapi Tuhan masih mengampuni saya, bahkan bukan cuma diampuni, saya pun mendapatkan kesembuhan dari Tuhan, hanya dalam waktu yang sangat singkat. Luarbiasa rahmat yang saya terima dari Tuhan ini. Sebelumnya saya sangat tersiksa, tidak bisa tidur malam, makan menjadi tidak nikmat, kekuatan menurun drastis, praktis saya tidak mampu untuk bekerja. Sedangkan untuk berdiri dan berjalan saja saya harus dibantu tongkat. Sekarang kesehatan saya sudah pulih. Tuhan telah mengembalikan semuanya.

Alhamdulillah…saya sangat berterimakasih kepada sahabat saya yang telah mengajak saya latihan, walaupun saya tolak. Kepada mbak ayuk penjual sayur yang telah menjelaskan Mahatma kepada istri saya, dan pak Ferry yang telah dengan sabar melatih saya. Dan terutama kepada bapak Guru Besar Mahatma, bapak Kyai Haji DR Achmad Riva’i. Terimakasih banyak…alhamdulillah.

 

Seperti yang dikisahkan oleh

                Bpk Sudarno ( Jakarta }

                NAM       324833

                Telp        0815-8413-7337

  

BATAL OPERASI 

 

Apakah ini yang namanya post power syndrome ? Saya tidak tahu persis. Yang jelas menjelang pensiun, dan usia saya memasuki 55 tahun, alhamdulillah saya masih sehat wal afiat kecuali satu, ada penurunan fungsi pada pendengaran saya. Namun hal itu tidak pernah saya pedulikan. Dalam hati saya selalu berkata “ah itu kan wajar, saya tidak muda lagi”

Hari demi hari berganti dan masa pensiun itu akhirnya tiba juga pada 22 Februari 2011. Saya sendiri sudah mempersiapkan beberapa kegiatan usaha untuk masa pensiun, seperti membuka warung internet dan buka depot air isi ulang. Harapan saya, saya ingin menikmati masa tua bersama Mely istri tercinta yang setia mendampingi hidup saya, dan melihat anak-anak tumbuh menjadi dewasa dan berkeluarga. Dan kegiatan yang tidak pernah saya tinggalkan semenjak empat belas tahun lalu adalah mengamalkan ilmu Mahatma untuk mengajak orang lain menjadi sehat.

Rupanya perusahaan tempat saya bekerja, PT Shinta, meminta saya untuk tetap bekerja dulu selama setahun, kontrak, sampai ada pengganti saya. Saya ditempatkan sebagai officer di bagian PPIC, hanya sebagai penasehat, jadi bukan pekerjaan yang memerlukan tenaga fisik yang berat. Namun saya kembali merasakan semakin hari telinga ini semakin berkurang pendengarannya. Sampai tibalah bulan November 2011, tiga bulan sebelum berakhirnya kontrak, kedua telinga saya terus mengeluarkan cairan, dan saya semakin sulit mendengarkan setiap orang yang berbicara dengan saya.

Suatu hari dokter perusahaan, dr Budiman bertanya kepada saya saat saya konsultasi. Saya tidak mendengar apa yang beliau tanyakan. Saya kemudian menjelaskan dengan menggunakan bahasa isyarat, kalau saya tidak bisa mendengar. Beliau rupanya paham masalah yang saya hadapi. Tiba-tiba beliau merobek kertas catatan di hadapannya dan menuliskan sesuatu, lalu meyodorkan kepada saya.

“Apakah bapak banyak permasalahan dalam pekerjaan atau stress ?” begitu bunyinya.

Saya kemudian menuliskan jawaban saya, di bagian bawah catatan beliau sambil saya bacakan.

“tidak dok, saya tidak stres. Sekarang saya sudah pensiun, tapi masih dikaryakan dan akan dievaluasi setiap satu tahun.”

Begitulah kondisi saya. Tidak bisa mendengar suara pada jarak lebih dari 30 cm. Hanya istri saya yang selalu menempelkan mulutnya ke telinga saya. Dari hasil konsultasi dengan dr Budiman, saya dirujuk ke RS Umum Tangerang, untuk dimintakan pandangan mengenai penyakit yang saya derita ini.

Pagi itu, seperti biasanya, istri saya membuatkan secangkir teh manis. Kami biasanya duduk berseberangan di meja makan, saling berhadapan. Berdua…ya berdua. Sambil ngobrol membicarakan masa depan anak-anak. Anak kami yang pertama, Bambang, bekerja di Jayapura. Anak kedua, Agus, kuliah di Lampung dan yang ketiga indekos di Jakarta, sekolah guru olahraga. Hanya anak kami yang ketiga, Ica, yang rutin pulang kalau hari Minggu.

“Ayah, mungkin benar dugaan dokter kalau ayah banyak pikiran, mungkin ayah gak menyadari itu.” Tak seperti biasanya sambil memijit pundak saya, istri saya mendekatkan mulutnya mengucapkan kata-kata itu.

Belum saya menjawab apa yang ia bisikkan, ia kembali berkata.

“Ayah, sudahlah..ayah nikmati saja masa pensiun, jangan khawatir..toh saya masih bekerja.”

Walau sudah sering saya katakan bahwa saya tidak stres, tapi saya terharu juga mendengarnya. Saya merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Istri saya sungguh perhatian terhadap penyakit saya. Mungkin juga karena pekerjaannya sebagai guru SD, ia selalu sabar. Ia yang lebih muda tujuh tahun dari saya, terlihat lebih bijaksana.

Di kesempatan lain, saat anak saya yang pertama, Bambang, pulang ke Tangerang, ia amat prihatin melihat kondisi saya. Sambil membuka oleh-oleh yang ia bawa untuk ibunya, sesekali ia menatap wajah saya. Ia amat berbakti pada orangtua.

“Ayah, kalau menurut Bambang, usia ayah sudah tidak muda lagi., tidak perlu memaksakan diri untuk usaha yang membuat ayah cepat lelah dan gampang sakit. Ayah lebih mulia mengembangkan Mahatma ketimbang capek-capek berjualan. Ayah bisa menolong banyak orang. Untuk hidup ayah, Bambang janji yang akan menanggung” begitu katanya yang bisa saya tangkap.

“Tapi Bang, ayah kan tidak melakukan usaha ayah sendirian. Ayah punya karyawan” jawab saya, untuk menyangkal bahwa penyakit yang saya derita bukan karena kegiatan usaha, seperti yang dia khawatirkan.

Rupanya dia tahu, bahwa tidak mudah bagi saya untuk membuka usaha sendiri. Warung internetpun akhirnya tutup. Bahkan untuk depot air isi ulang, sudah banyak berganti karyawan. Saya sadari kegiatan usaha yang saya lakukan banyak jatuh bangunnya. Namun untuk Mahatma, saya selalu setia. Dalam kondisi yang saya alami ini, saya tetap melatih dan juga mengunjungi cabang-cabang saya, karena tanggungjawab saya sebagai ketua jaringan.

Akhirnya, tibalah harinya saya harus memeriksakan diri ke RSU Tangerang. Sengaja saya berangkat pagi agar mendapat nomor antrian awal. Saya memakai sepeda motor, dan istri saya bonceng di belakang. Maklum, karena saya merasa segar bugar, hanya telinga saya yang tidak mendengar, hampir tuli.

Seperti pemandangan Rumah Sakit pada umumnya, sibuk luar biasa. Aroma obat yang menyengat, pasien yang baru datang dan perlu pertolongan, suster yang mendorong pasien untuk diperiksa, kesibukan di Unit Gawat Darurat, bahkan juga jerit tangis keluarga pasien yang meninggal dunia. Setiap gang hampir penuh dengan keluarga pasien silih berganti menunggu anggota keluarganya yang dirawat. Walau saya sendiri punya masalah telinga, hati saya tetap berteriak,

“mestinya orang-orang ini saya ajak latihan Mahatma, kasihan..sudah sakit harus mengeluarkan banyak biaya”

Saya sendiri bersyukur, istri saya seorang pegawai negeri, jadi biaya pengobatan saya ditanggung oleh Askes istri saya. Sekalipun begitu, saya juga khawatir berapa nanti biaya yang harus kami tanggung. Khawatir kalau plafon askes istri saya tidak mencukupi untuk pengobatan saya.

Akhirnya giliran saya untuk diperiksa tiba. Saya baca dengan jelas papan bertuliskan Poly THT. Satu bagian dari rumah sakit yang mengkhususkan Telinga, Hidung dan Tenggorokan.

 

“pak Tukino, sekarang bapak menuju ke bagian audiologi” kata suster menunjuk ke salah satu ruangan.

“tes apa lagi ya” saya menebak-nebak. Tapi dari judulnya audio, saya pikir pasti berkaitan dengan suara.

Dari hasil pemeriksaan disimpulkan oleh dokter, bahwa kedua telinga saya ada yang berlubang atau bocor, sehingga mengeluarkan cairan. Penanggulangannya harus dioperasi. Bagian yang berlubang harus ditambal menggunakan bagian tubuh yang lain. Begitulah yang saya tahu dari istri saya, yang seperti biasa menempelkan mulutnya, memberitahukan hasil pemeriksaan telinga saya.

Sejenak saya menundukkan kepala. Jujur saja, ada rasa takut mendengar kata operasi. Terlintas dalam bayangan saya, dokter sedang menyayat paha saya, mengambil kulit atau daging untuk menambal lubang di telinga saya,  sementara saya hanya bisa terbaring pasrah antara hidup dan mati. Saya harus menyiapkan mental untuk dioperasi, begitu tekad saya.

“gimana ayah ?” istri saya menyadarkan lamunan saya.

“yah…mau gimana lagi kalau jalannya memang harus begini, apapun saya ikuti kata dokter, yang penting saya bisa mendengar kembali. Saya seperti orang gila dan tersiksa karena tidak bisa mendengar seperti ini…” saya meyakinkan istri saya dengan penuh percaya diri, menutupi segala kekhawatiran saya.

Saya lihat sebutir air mata jatuh di pipi istri saya. Ia kemudian memeluk saya.

“ayah, saya berdoa semoga ayah sabar dan tabah atas ujian ini, dan diberi jalan kesembuhan oleh Allah”

“amiinn…” saya mengamininya sambil menepuk-nepuk punggung istri saya.

“kata dokter, ayah harus cek kesehatan lainnya, seperti darah, gula, penyakit dalam dan jantung sebagai persyaratan operasi, dan ini termasuk operasi besar katanya” istri saya menjelaskan

“apapun kata dokter, saya akan ikuti..” saya peluk kembali istri saya.

Hari-hari berikutnya saya bolak-balik ke Rumah Sakit, sekitar hampir dua minggu, untuk melakukan tes kesehatan yang dibutuhkan sebelum menjalani operasi. Alhamdulillah semua tes menunjukkan hasil yang baik. Tekanan darah, gula darah, fungsi jantung saya, semuanya normal. Kecuali telinga saya.

Semua hasil tes itu saya serahkan kepada dr Eko Teguh, Sp.THT. Akhirnya kami sepakat, bahwa saya akan dioperasi pada hari Kamis jam 9 pagi, tanggal 29 Desember 2011.

Kurang seminggu lagi tahun baru 2012. Terbayang wajah anak-anak liburan dan kumpul bersama keluarga. Terbayang pula kemeriahan kota Tangerang menyambut tahun baru di setiap pelosok kotanya. Tapi kali ini anak-anak tidak bisa menikmati pergantian tahun seperti dulu, karena melihat ayah mereka yang akan dioperasi. Sedih hati saya membayangkan itu semua.

Ternyata banyak sekali pasien yang harus dioperasi. Termasuk operasi telinga seperti saya. Mereka harus antri menginap di kamar tunggu. Sudah seminggu saya menghubungi rumah sakit untuk mendapat kepastian kamar buat menginap. Masih penuh, begitu informasi dari RSU. Sambil menunggu saya sempatkan mengabari ketua cabang Mahatma Paradise Serpong City, bapak Ir Edy Sulistyo, tentang kondisi saya ini.

Samar-samar saya masih mendengar suara pak Edy di ujung telepon. Beliau kaget mendengar kabar ini. Karena sekitar awal November, saya masih sempat berkunjung ke cabangnya.

“bukankah sebulan yang lalu bapak sehat-sehat saja pak” begitu pertanyaan beliau dengan nada terkejut.

“betul pak, tapi setelah itu saya merasakan sakit kepala yang berat dan akhirnya telinga saya mengeluarkan cairan, saya tidak bisa mendengar dengan normal, bahkan rasanya hampir tuli”

Saya masih bisa mendengar suara pak Edy, karena telepon saya tempelkan di telinga. Itupun masih ada kata-kata beliau yang tidak bisa saya tangkap. Yang jelas saya dengar beliau turut prihatin dan mendoakan kesembuhan untuk saya.

Alhamdulillah, pada tanggal 27 Desember 2011, dua hari sebelum operasi, saya mendapat kepastian, bisa mulai menginap di RSU Tangerang. Berbekal pakaian secukupnya dan ditemani istri saya, saya mulai menjalani kehidupan di rumah sakit.

Saya mulai beradaptasi dengan kehidupan disana. Menu makanannya, tempat tidur yang tidak bisa menampung kami berdua, hanya cukup untuk diri saya saja. Saya lihat istri saya rela tidur di lantai. Malam terasa sangat panjang menanti saat operasi tiba.

Saya semakin menyadari sehat itu mahal. Apalah artinya harta yang kita punya, jika kita sakit-sakitan. Orang yang tahu nilai sehat adalah orang yang sedang sakit. Semoga istri saya tidak menjadi sakit karena mengurus saya. Dalam benak saya, mungkin ini ujian dari Allah, agar ilmu yang didapatkan tidak hanya sekedar teori, tapi harus diamalkan. Merasakan bahwa sehat adalah kebutuhan semua orang, sehingga saya bisa lebih bersemangat lagi menolong orang banyak untuk menjadi sehat.

Malam sebelum saya dioperasi, pak Edy dan istrinya datang mengunjungi saya. Sayang saya sudah tidak bisa mendengar apa yang beliau katakan. Saya hanya mampu menebak-nebak apa yang beliau ucapkan, dengan melihat gerakan mulutnya saja. Saya sadar, ini percakapan yang tidak nyambung.

“pak Edy, terus kembangkan Mahatma, dan mohon doanya untuk operasi saya besok” begitu pesan saya ke beliau.

Pak Edy dan istrinya hanya mengangguk, kemudian beliau berdua bercakap-cakap dengan istri saya, cukup lama. Saya hanya terbaring menyaksikan mereka, tidak tahu apa isi pembicaraan mereka. Sampai akhirnya pak Edy dan istrinya pamit untuk pulang.

Setelah tamu saya pulang, terasa sekali heningnya malam di rumah sakit. Saya teringat peristiwa sore hari tadi. Saat seorang perawat hendak mengambil darah saya untuk keperluan operasi besok. Ia kesusahan menemukan urat nadi saya. Lama sekali tidak ketemu, akhirnya dia meninggalkan kamar saya dan kembali lagi dengan seorang perawat lainnya. Saya menduga perawat yang satu ini adalah atasannya. Sama seperti sebelumnya, perawat senior ini pun kesulitan menemukan urat nadi saya, lama sekali tidak ketemu.

Tak terasa malam semakin larut, dan akhirnya saya pun tertidur. Malam itu terasa dingin sekali, Karena hujan lebat turun.

Kamis, jam 7.30, saya terbaring di kereta yang didorong dua orang perawat menuju ruang operasi. Saya sudah mengenakan pakaian operasi, pasrah. Di hati saya teringat kata-kata guru saya, guru besar Mahatma, bapak K.H. DR. Achmad Riva’i, yang menyampaikan sebuah hadits.

“Allah akan menolong hambaNya selama hamba tersebut menolong sesamanya”

Sambil memejamkan mata, di hati saya berdoa dengan penuh kesungguhan.

“ya Allah, hambaMu yang penuh dosa ini mohon ampun padaMu ya Allah, Mohon berikanlah pertolonganMu kepada hambaMu yang lemah ini…ya Allah, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, Engkau Maha Menyembuhkan, hamba mohon ya Allah…mohon berikanlah kesembuhan bagi hamba…mohon kabulkanlah doa hamba ya Allah, amiin”

Pelan-pelan saya buka mata saya, ada seseorang di samping tempat tidur saya, sepertinya menanyakan sesuatu. Saya hanya menjawab dengan isyarat bahwa saya tidak dapat mendengar.

Akhirnya tiba saatnya saya masuk ruang operasi. Saya lihat dokter dan timnya telah siap. Tangan yang kemarin dicari urat nadinya, kini dipasangi alat, dan saya disuntik bius. Samar-samar saya masih merasakan tenggorokan saya dimasuki selang. Dan akhirnya saya tidak sadar.

Saya mulai sadar kembali ketika saya sudah berada di luar ruang operasi.

“saya masih hidup !” teriak saya dalam hati.

Ingin rasanya meloncat dari kereta dorong ini, dan bersujud kepada Allah sebagai wujud rasa syukur saya. Saya bisa mendengar kembali. Saya bisa mendengar percakapan orang-orang di sekeliling saya. Saya lihat keluarga saya sudah berkumpul di sekeliling saya saat itu. Istri saya tidak ada. Mungkin sedang di ruang dokter atau sedang mengurus administrasi, pikir saya. Saya lihat jam di dinding ruangan, jam 10. Saya bingung.

“bukankah operasi butuh waktu enam jam ?”

“kalau mulai jam 9, harusnya baru selesai jam 3 sore”

“ini baru jam 10…apa yang terjadi ?”

“tapi saya sudah bisa mendengar, berarti operasi berhasil”

“apapun yang terjadi, terimakasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa hamba”

Begitu banyak pertanyaan dan pikiran yang berkecamuk dalam hati saya. Ingin rasanya segera tahu apa yang terjadi dengan operasi saya yang baru selesai dilakukan.

Saya masih belum berani memegang telinga saya. Masih terbayang, telinga saya baru selesai ditambal dengan daging dari bagian tubuh saya yang lain. Saya mencoba merasakan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki saya, mencoba menebak-nebak, bagian mana yang diambil. Saya tidak bisa merasakan, mungkin karena masih terpengaruh obat bius, begitu pikir saya.

“awas ma…jangan pegang kuping saya dulu, masih bekas operasi” saya berteriak kepada istri saya yang mengantarkan saya kembali ke kamar, dan mau menyentuh telinga saya.

“ayah dengar ya” istri saya mencoba menenangkan saya.

“iya ma” jawab saya

“ayah bisa mendengar kata-kata saya dari sini” kata istri saya terkejut.

Saya lihat istri saya berdiri tertegun, kira-kira dua meter jaraknya dari tempat saya berbaring.

“iya ma…saya dengar” kata saya memecah rasa tertegunnya.

“alhamdulillahh…ayah sudah bisa mendengar lagii..” istri saya berteriak gembira.

Sambil menangis tersedu-sedu, ia memeluk saya. Saya makin penasaran ingin tahu jalannya operasi yang tadi dilakukan. Mengapa begitu singkat jalannya operasi itu. Apa yang telah dikatakan dokter kepada istri saya setelah operasi ? saudara-saudara sayapun telah berkumpul di kamar saya, mereka semua juga ingin tahu apa yang telah terjadi.

Istri saya menjelaskan, seharusnya operasi berjalan selama 6 jam. Setelah saya dibius, fungsi pernafasan saya di pindahkan ke sebuah alat, ventilator, karena seluruh otot pernafasan saya dilumpuhkan oleh anastesi yang diberikan oleh tim dokter bedah. Biasanya tindakan ini berlangsung selama 30 menit, tapi kali ini tim dokter yang menangani saya, tidak berhasil menemukan pipa paru-paru saya. Satu hal yang aneh menurut dokter, karena saya dalam keadaan sehat dan tidak memiliki kelainan apapun. Karena waktu terus berjalan, dan tidak mungkin melanjutkan operasi, maka dokter memutuskan bahwa operasi dibatalkan disebabkan tidak berhasil memindahkan fungsi pernafasan saya ke alat bantu.

Tuhan telah memberikan pertolongan kepada saya secara ajaib, dalam sekejap bisa mendengar kembali, Maha Benar janji Allah,

“Allah akan menolong hambaNya, selama hamba tersebut menolong sesamanya”.

Terimakasih kepada guru saya tercinta, guru besar Mahatma, Kyai Haji DR. Achmad Riva’I, yang membimbing saya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, selalu mencari ridloNya.

 

Seperti yang dikisahkan oleh :

Bapak Drs. Tukino Sugiyanto ( Tangerang – Banten )

NAM       001527

Telp        0818-747-220

Kepada

Bapak Edy Sulistyo

NAM      

Telp        0858-1011-1868

 

  

JANTUNG KORONER

 

Saya adalah seorang karyawan di hotel Jayakarta, Jakarta. Di bulan September tahu 2009, saat itu saya sedang bekerja, tiba-tiba saya merasa sesak. Sulit sekali untuk bernafas. Dada saya terasa sakit sekali. Akhirnya saya dibawa ke rumahsakit Husada sore itu. Di igd, saya diberi oksigen, tidak berapa lama terasa enak nafas saya.

Saya pun dibolehkan pulang malam itu. Tapi tiga hari kemudian, sepulang kerja, penyakit ini kambuh lagi. Saat itu saya sudah berada di kereta.

                “kalau saya sakit di kereta..bisa meninggal saya” pikir saya.

Saat kereta mulai bergerak perlahan, saya akhirnya nekad meloncat keluar. Karena didorong rasa panik yang luar biasa. Saya benar-benar kuatir seandainya terkena serangan penyakit pada saat saya masih di kereta. Tertatih-tatih saya mencari ojek, untuk pergi ke rumahsakit Husada. Sesampainya di rumahsakit, saya diberi oksigen lagi, dan dokter yang merawat saya di IGD mengatakan bahwa saya terkena sakit jantung koroner. Luar biasa kagetnya saya mendengar hal ini. Saya dirawat di igd rumahsakit Husada sampai malam, akhirnya pada jam 12 malam saya dibolehkan pulang. Dan saya harus beristirahat selama 3 hari di rumah.

                Selama beristirahat di rumah, badan saya terasa lemas, walaupun nafas saya tidak terasa sesak seperti saat terkena serangan. Hanya dalam pikiran saya masih belum yakin sepenuhnya, kalau saya terkena penyakit jantung koroner. Pada hari ketiga di rumah, kira-kira pukul 2.30 pagi, saya terkena serangan lagi. Rasa takut yang luar biasa menyelimuti saya. Terbayang wajah anak-anak saya yang masih kecil. Terbayang wajah istri saya. Bagaimana seandainya hal yang terburuk terjadi pada saya saat itu. Bagaimana dengan mereka. Pikiran saya dipenuhi dengan segala macam ketakutan, kekhawatiran. Sementara dada saya terasa sakit, nafas saya sesak.

                Paginya saya dibawa kerumahsakit di Bekasi. Dokter yang memeriksa saya mengatakan hal yang sama, bahwa saya terkena sakit jantung koroner. Setelah diterapi di rumahsakit itu, saya dibolehkan pulang. Saya masih belum bisa menerima kalau jantung saya sakit. Saya berniat untuk memeriksakan diri ke rumahsakit lainnya. Untuk mencari pendapat lain. Dari satu rumahsakit ke rumahsakit lain.

Dari Cikarang sampai Bekasi. Dari rumahsakit kecil sampai rumahsakit besar. Saya terus berusaha memeriksakan penyakit saya. Sementara penyakit saya bertambah parah. Saya semakin sering merasa sesak nafas. Sambil memeriksakan diri, saya pun mengkonsumsi obat-obatan tradisional, selain obat-obatan yang saya dapatkan dari para dokter.

                Setelah memeriksakan diri ke banyak dokter, di banyak rumahsakit, kesimpulan yang diberikan selalu sama, bahwa saya menderita sakit jantung koroner. Akhirnya saya pasrah menerima kenyataan. Dari dokter terakhir yang saya kunjungi, saya mendapat surat pengantar untuk memeriksakan diri ke rumahsakit Harapan Kita. Keesokan harinya saya beserta istri berangkat ke rumahsakit Harapan Kita.

                Di rumahsakit Harapan Kita Jakarta, saya diperiksa kembali oleh seorang dokter ahli jantung. Hasilnya adalah, saya harus segera dioperasi untuk memasang ring. Dan saya harus dipasang dua buah ring.

                “waduh…berapa biayanya ?” pikir saya.

Saya langsung teringat anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Kalaupun operasi itu berhasil, bagaimana kelanjutannya ? Bagaimana dengan kondisi fisik saya ?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benak saya saat itu.

                “bapak harus segera dioperasi…besok pagi saja” dokter berkata kepada saya membuyarkan semua lamunan saya.

                “tapi dok…bagaimana biayanya ? berapa yang dibutuhkan” tanya saya

                “satu buah ring paling murah 32 juta…”kata dokter itu lagi.

32 juta rupiah satu ring, sementara saya butuh 2 buah ring, berarti 64 juta hanya untuk ringnya saja. Belum biaya operasinya, biaya obat-obatan, biaya perawatan setelah dioperasi. Bisa ratusan juta yang saya butuhkan. Semakin pusing kepala saya. Saya beranikan diri untuk menghubungi kantor. Saya ceritakan semua keadaan saya. Alhamdulillah…kantor saya sangat mendukung. Bahkan berkenan untuk membiayai semua pengobatan saya.

                “baik dok…tapi bagaimana setelah operasi ?” tanya saya lagi.

                “ya tergantung dari bapak…harus bisa jaga makan, kalau bisa jaga makan, bapak bisa sembuh…kalau tidak ya sakit lagi…operasi ini hanya 99 %...yang 1% lagi adalah kehendak Tuhan…Kalau Tuhan berkenan, 1 detik saja semuanya bisa berubah…” kata dokter itu menjelaskan.

                Kalimat terakhir dari dokter itu seperti menampar saya. Kalau Tuhan berkehendak, satu detik saja semuanya bisa berubah. Kenapa saya pilih yang 99 % tapi belum pasti hasilnya. Tapi saat itu semuanya sudah siap. Saya tinggal masuk kamar perawatan, besok pagi dijadwalkan untuk operasi, dan kantor sayapun sudah bersedia untuk membiayainya. Apa yang harus saya putuskan ?

Ditengah kebimbangan saya seperti mendengar ada yang berkata dalam hati saya.

                “tidak usah dioperasi”

Akhirnya dengan mantap saya putuskan untuk pulang saja ke rumah.

                Malam hari di rumah, badan saya lemas, nafas sesak, dan ada rasa takut yang luar biasa menyergap saya. Apa saya akan sampai pagi hari besok ? Pertanyaan itu muncul. Sampai tidur malampun selalu terbangun terus. Membuat badan saya yang lemas menjadi semakin lemas. Pagi hari esoknya, saya hanya berharap bisa hidup sampai sore hari.

Begitu terus setiap harinya. Kalau malam, saya hanya bisa berharap dapat hidup terus sampai pagi. Kalau pagi, saya hanya berharap dapat hidup sampai malam lagi.

Sampai satu hari istri saya pulang dari tempat kerjanya, dan berkata kepada saya.

                “ya sudah kalau tidak mau dioperasi…ikut senam Mahatma saja”

                “apa itu Mahatma ?” tanya saya.

                “orang-orang di tempat kerja saya ikut Mahatma, badan mereka bugar terus. Biar habis lembur sampai tengah malam, besok paginya kerja sudah segar lagi” kata istri saya.

                “ya sudah, saya mau ikut” kata saya

Saya ingin sembuh. Saya akan mencoba apa saja agar terbebas dari penyakit saya.

                Akhirnya malam hari besoknya datanglah pelatih Mahatma. Bapak Pandu namanya. Rupa-rupanya beliau satu tempat kerja dengan istri saya. Sudah sering pak Pandu menyarankan istri saya, agar saya ikut latihan Mahatma saja. Beliau bercerita bahwa sudah banyak yang mendapatkan kesembuhan di Mahatma. Rumah saya di Tambun Bekasi, sedangkan beliau tinggal di Pasar Minggu Jakarta. Jarak yang lumayan jauh, tapi beliau bersedia datang ke sini hanya untuk sekedar melatih saya.

                Setelah belajar tehnik nafas Mahatma, saya mulai latihan. Nafas saya masih sesak, badan saya lemas. Bahkan di saat pemanasan sebelum mulai latihan, saya jatuh pingsan. Begitu tersadar, istirahat, saya lanjutkan kembali latihan.

Dalam hati saya berdoa.

                “ya Allah…mohon cabut penyakit hamba ya Allah..”

Saya ikuti semua petunjuk pelatih saya. Beliau meminta saya untul menahan nafas sebanyak tujuh langkah. Itu hal yang sangat berat bagi saya. Baru lima langkah saja seperti sudah mau meledak dada saya. Tapi saya tidak ingin menyerah. Saya hanya membayangkan kesembuhan bagi saya. Mungkin ini adalah 1 % yang dokter itu maksud.

Latihan malam itu selesai. Dan aneh…walaupun berat sekali latihan malam itu rasanya bagi saya, badan saya terasa segar setelahnya. Padahal baru sekali latihan. Kami janjian untuk latihan esok hari. Tapi sebelum berpisah ada satu hal yang saya tanyakan kepada pak Pandu.

                “pak..boleh saya bertanya ?” tanya saya

                “oo silakan pak..”jawab beliau ramah

                “tadi waktu latihan kenapa bapak telpon terus ya ?” tanya saya lagi.

 

Beliau terdiam sejenak, kemudian menjawab.

                “saya telpon ketua jaringan pak, guru saya..”

                “ada hal yang penting pak ?”

                “tidak ada…hanya menceritakan kondisi bapak” jawab beliau.

                “kenapa pak ?” tanya saya

Pak Pandu terdiam. Tapi akhirnya beliau menjawab pelan-pelan.

                “saya takut bapak meninggal di lapangan…”

Saya kaget mendengar jawaban beliau itu. Sudah sedemikian parah ternyata kondisi saya.

                “tapi jangan kuatir pak…kita pasrahkan saja kepada Allah” kata pak Pandu lagi.

Saya hanya mengangguk. Saya setuju sekali. Kalau memang harus meninggal, lebih baik saya meninggal dalam keadaan berdzikir kepada Allah. Tadi selama latihan pak Pandu selalu mengingatkan saya untuk terus berdzikir. Saya semakin mantap untuk mengikuti latihan esok harinya.

Besok malamnya kami lanjutkan latihan hari kedua. Masih sama beratnya saya rasa. Tapi membayangkan rasa nikmat yang saya terima jika telah selesai latihan, membakar semangat saya untuk berlatih dengan sungguh-sungguh.

Latihan ini berlanjut terus, hari ketiga, hari keempat, sampai di hari kelima, saya mendapat jurus putar lima. Luar biasa rasanya. Saya muntah-muntah sepanjang latihan. Sampai rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan.

Tapi kembali ada keanehan yang saya rasakan, badan saya terasa semakin ringan dan segar. Dan tanpa terasa sudah dua minggu saya latihan setiap hari. Sudah banyak sekali kemajuan yang saya rasakan. Badan saya sudah sehat kembali. Tidak pernah lagi merasa sesak. Dan yang terpenting, saya sudah tidak lagi dihantui ketakutan yang sangat mengganggu saya. Sudah tiba saatnya saya mengikuti ujian pendadaran, agar saya bisa dilantik menjadi anggota Mahatma.

                Dan alhamdulillah sekarang saya sudah menjadi pelatih Mahatma. Saya ingin menyebarkan berita gembira ini. Saya yang sudah siap untuk dioperasi, alhamdulillah…dengan perkenan dan izin Tuhan, bisa sembuh tanpa operasi yang membutuhkan biaya ratusan juta rupiah. Saya setuju dengan pendapat dokter, bahwa jika Tuhan berkehendak, satu detik saja semua bisa berubah.

                Saya bawa Mahatma ke kantor saya. Saya ajak teman-teman saya untuk ikut latihan. Agar merekapun bisa merasakan kenikmatan yang sudah saya rasakan. Dan alhamdulillah..ajaib lagi, anggaran medical cost kantor saya menurun sampai 75 persen dalam tiga bulan saja. Satu pencapaian yang luar biasa. Maha Kuasa Tuhan, jika Tuhan telah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin. Satu detik saja semuanya bisa berubah. Alhamdulillah.

                Terimakasih kepada seluruh guru yang telah membimbing saya, terutama kepada guru besar Mahatma Kyai Haji DR. Achmad Riva’i, semoga Allah selalu merahmati dan memberkahi seluruh guru kami tercinta. Aamiin.

 

Seperti yang dikisahkan oleh :

                Bapak Suyitno ( Tambun – Bekasi, Jawa Barat )

                NAM       366269

                Telp        0821-1114-6422

 

 

KEAJAIBAN PERTOLONGAN TUHAN

  

Hari itu hari Jumat. Saya sudah berjanji untuk datang ke latihan cabang Mahatma di daerah Muara Labuh, Sumatera Barat. Sebagai seorang ketua jaringan Mahatma, sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan kepada cabang-cabang di jaringan saya. Selesai sholat Jum’at, saya segera bersiap-siap. Jarak antar kota Padang ke Muara Labuh sekitar 130 km.

“bawa mobil sajalah..” kata istri saya melihat saya bersiap-siap.

“ndaklah…biar saya naik kendaraan umum saja” jawab saya.

Menurut perhitungan saya, jika saya naik kendaraan sendiri ke sana, akan memakan waktu 4 jam perjalanan. Karena jalan kearah Muara Labuh, harus melalui jalur perbukitan yang terjal dan berkelok-kelok. Lain jika naik kendaraan umum. Karena supir-supirnya sudah hafal betul medan yang harus dilalui, sehingga waktu tempuh mereka bisa lebih cepat. Jarak sedemikian biasanya mampu mereka tempuh hanya dalam waktu 3 jam saja. Jadi bila saya berangkat pukul setengah dua, kira-kira saya akan tiba di Muara Labuh pukul setengah lima. Cukuplah waktunya, karena latihan akan diadakan pada pukul 5 sore ini.

Pukul 1 siang berangkatlah saya diantar oleh anak saya, ke tempat menunggu kendaraan umum arah Muara Labuh. Tidak jauh dari rumah saya. Sesampainya di sana sudah ramai orang menunggu kendaraan. Sayapun ikut berdiri di pinggir jalan bersama orang-orang itu.

Tapi tidak seperti biasanya, hari itu sepertinya susah sekali untuk dapat kendaraan yang menuju ke arah Muara Labuh. Biasanya hampir setiap lima menit sekali ada kendaraan yang lewat menuju ke arah Muara Labuh. Hari ini lama sekali saya tunggu, tidak kunjung ada juga.

Satu lewat, arah Solok.

Lewat lagi..Muara Bungo.

Satu lagi….Sawah Lunto. 

Satu jam…

Dua jam…

Tiga jam…

Tidak ada satupun kendaraan yang menuju Muara Labuh yang lewat. Saya lihat jam saya, pukul setengah lima sore. Bingung saya. Latihan jam lima di Muara Labuh, jam setengah lima saya masih ada di Padang, sementara perjalanan Padang ke Muara Labuh dengan kendaraan umum, sekitar 3 jam. Tidak mungkin saya bisa datang tepat waktu. Tapi jika saya batalkan, saya tidak tega kepada para ketua cabang dan anggota di sana. Karena saya sudah berjanji akan datang.

“ya Allah…bagaimana ini…mohon ampuni hamba ya Allah, hamba hanya ingin menggapai ridhaMu, dengan melatih anggota di Muara Labuh, mohon tolong hamba ya Allah, mohon mudahkan urusan hamba” doa saya dalam hati, karena saya sudah kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Saya teringat kepada salah satu ketua cabang di Muara Labuh. Beliau seorang distributor sepeda motor. Biasanya ada mobilnya ke Padang. Siapa tahu saya bisa ikut, jika ada mobilnya yang ke Padang. Segera saya hubungi beliau melalui hp nya.

“pak Jon…ada mobil bapak yang datang ke Padang ndak ?” tanya saya melalui telephone.

“ada pak..” jawab beliau

“tapi nanti kembalinya sekitar pukul tujuh, bapak tunggu saja, biar sama-sama ke sini, kebetulan supir saya hanya sendiri pak” kata beliau lagi.

“baiklah…kalau begitu dimulai saja latihannya pak, tidak perlu menunggu saya, karena saya pasti terlambat…daritadi saya tunggu mobil, ndak ada juga…tapi saya tetap akan datang..” kata saya.

Akhirnya saya putuskan untuk menunggu supir ketua cabang saya. Berdiri diantara banyak orang yang juga sedang menunggu kendaraan. Makin banyak orang yang menunggu di sana.

Masing-masing asyik ngobrol dengan kawan-kawannya. Saya berniat untuk mencari masjid terdekat. Karena saya belum sholat ashar saat itu. Saya lihat ke kiri dan kanan, siapa tahu ada masjid di dekat-dekat situ. Tiba-tiba saya dengar suara dari belakang.

“nanti ada minibus berhenti, naik aja “ suara orang dari belakang saya

“iya…” jawab saya

Saya menoleh ke belakang, untuk berterimakasih ke orang yang mengajak saya bicara, tapi aneh, sepertinya semua orang sedang sibuk ngobrol dengan temannya masing-masing. Tidak ada yang memperhatikan saya.

“suara siapa barusan ya ?” tanya saya dalam hati.

Sementara saya sibuk bertanya-tanya tentang suara tadi, tiba-tiba berhenti sebuah minibus di depan saya. Pintunya terbuka.

“ayo masuk pak “ kata seorang bapak dari dalam minibus itu.

Sayapun langsung masuk. Begitu saya masuk, pintu mobil langsung tertutup kembali. Di dalam mobil saya kaget, ternyata isi mobil ini orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Penampilan mereka seperti bukan orang-orang sini. Baju yang mereka kenakan seperti jubah-jubah yang biasa dikenakan oleh orang-orang Arab. Dan wangi yang tercium dari tubuh mereka, baru kali ini saya mencium wangi seperti itu. Harum dan menyejukkan. Dan bahasa yang mereka gunakan saat mereka berbincang, bahasa yang baru kali ini saya dengar, saya sama sekali tidak mengerti isi pembicaraan mereka.

“siapa ya mereka “ batin saya

“ini mobil jurusan mana ya ?”

“apa benar jurusan Muara Labuh ?”

“kok isinya orang Arab semua ?”

“ini bahasa Arab atau bukan ya ?”

 

Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Saya lihat keluar, lebih aneh lagi. Pemandangan yang kami lewati sepanjang perjalanan ada laut, gedung-gedung bertingkat tinggi, baja-baja yang disusun, kilatan cahaya-cahaya, indah sekali.

“sudah sholat pak ?” tanya bapak yang duduk di dekat saya, membuyarkan kekaguman saya yang sedang menikmati pemandangan yang menakjubkan di luar sana.

“belum pak” jawab saya pelan

“wah..kalau begitu kita mampir dulu…kita sholat sama-sama” kata beliau lagi.

Mobil yang kami tumpangi menepi. Kami turun dari mobil. Di hadapan saya berdiri sebuah masjid yang megah. Luar biasa megahnya masjid ini.

“dimana ini ya ?” tanya saya dalam hati.

Saya lihat daerah sekeliling saya. Saya kenal betul daerah ini. Ini daerah Alahan Panjang, Danau Atas. Tujuh tahun saya selalu bolak balik melewati jalanan ini, melewati daerah ini, tapi baru kali ini saya tahu ada masjid semegah ini di sini, Bahkan dalam perjalanan saya sebelumnya ke Muara Labuh, masjid ini belum ada, aneh…

Teman-teman seperjalanan saya yang satu mobil dengan saya sudah masuk ke dalam masjid. Saya berkeliling masjid, mencari tempat berwudhu. Karena tidak dapat menemukan temput berwudhu, saya mencoba bertanya pada seorang bapak tua yang sedang duduk di luar masjid.

“maaf pak…tempat wudhunya dimana ya ?” tanya saya.

“ooo…di tempat bapak berdiri saja, julurkan saja tangan bapak ke arah tembok itu.” Jawab bapak itu.

Saya terdiam. Aneh…maksud bapak ini apa ya ?

“maksudnya bagaimana pak ?” tanya saya lagi.

“ya julurkan saja tangan bapak, lalu berniatlah untuk berwudhu” jawab bapak itu lagi.

Dengan ragu-ragu saya julurkan tangan saya ke arah tembok yang ditunjuk bapak tadi. Lalu dalam hati saya berniat untuk berwudhu. Allahu Akbar….tiba-tiba memancar air dari tembok kearah tangan saya. Saya tertegun…jangankan berwudhu, tubuh saya seperti kaku karena rasa kaget yang luar biasa.

Air terus memancar ke tangan saya. Akhirnya masih dengan diliputi keheranan sayapun berwudhu. Selesai berwudhu saya masuk ke dalam masjid, dan luar biasa bagian dalam dari masjid ini, terasa sekali megahnya. Teman-teman semobil saya sudah berbaris siap untuk sholat.

“mari sini pak” kata bapak yang duduk dekat dengan saya di mobil.

Saya langsung masuk ke barisan, berdiri di tengah-tengah mereka. Kamipun kemudian melakukan sholat ashar. Selesai sholat, diluar masjid, saya sedang duduk mengenakan kembali sepatu saya. Tiba-tiba bapak yang selalu bicara dengan saya berkata.

“kami pergi duluan, bapak disini saja..” katanya

“iya..terimakasih pak” jawab saya

Satu persatu mereka masuk kembali ke dalam mobil yang kami tumpangi. Terlihat jubah yang mereka kenakan melambai-lambai tertiup angin. Saya masih terduduk di teras masjid. Mobil yang kami tumpangi tadi melanjutkan perjalanan kembali. Saya lihat arahnya tidak menuju ke Muara Labuh, tapi menuju ke atas gunung.

“mereka sebenarnya mau kemana itu ?” tanya saya heran.

Mobil makin lama semakin kecil, dan semakin tinggi. Kemudian suasana mulai agak gelap saya rasa. Saya masih terduduk, dan kagetnya, masjid megah tempat saya sholat barusan sudah tidak ada lagi di belakang saya.

“waduh…saya dimana ini ?” saya membatin kebingungan.

Ternyata saya terduduk di pinggir jalan. Tapi entah di daerah mana. Saya coba perhatikan daerah sekeliling saya dengan teliti. Saya lihat ada jembatan di dekat saya.

Saya ambil telepon saya, saya telepon ketua cabang di Muara Labuh, pak Erwin. Tapi tidak diangkat. Kebetulan saya kenal dengan supirnya, Anto.  Maka segera saya telepon Anto

“halo Anto…dimana to ?” tanya saya saat telepon saya diangkatnya.

“ya pak…saya ada di Muara Labuh” jawab Anto.

“bapak dimana ?” tanya Anto.

“wah…saya tidak tahu saya dimana ini To..saya ada dekat jembatan…” jawab saya.

Kemudian saya coba jelaskan pada Anto dimana posisi saya saat itu. Semua gambaran yang bisa saya lihat di sekeliling saya.

“bapak naik apa tadi ?” tanya Anto lagi

“saya naik travel…saya diturunkan di sini…”jawab saya

“ooo…bapak tertidur tadi ? biasanya kan bapak turun di depan rumah pak Erwin…” tanya Anto

“cobalah kamu jemput saya kesini” kata saya lagi.

“baik pak…bapak tunggu saja di sana, itu daerah sungai Lundang namanya pak…”

Tidak berselang lama, Anto datang menjemput saya.

“bapak mau saya antar kemana ?’ tanya Anto saat saya masuk ke mobilnya.

“kalo rumah pak Erwin sudah terlewat, tapi latihan kita di tempatnya pak Jon pak, kita ada di tengah-tengah antara tempatnya pak Erwin dan pak Jon…sama jaraknya” kata Anto menjelaskan.

“kalau begitu..antar saya ke tempatnya pak Jon saja..langsung ke tempat latihan” jawab saya.

Kami berduapun langsung menuju tempatnya pak Jon, ke tempat latihan bersama.

Sesampainya di sana, sudah ramai anggota yang hendak ikut latihan bersama. Demikian juga para pelatih. Mereka semua sedang duduk rapi bersila.

“alhamdulillaahhh…masih sempat bertemu dengan anggota” saya bersyukur dalam hati saya.

Melihat kedatangan kami berdua, anggota yang tadi sudah mulai duduk bersila, kembali berdiri menyambut kami dengan wajah yang penuh dengan keheranan. Karena menurut mereka, pak Jon baru saja menutup telepon dari saya, yang mengabarkan bahwa saya masih ada di kota Padang. Sementara benak saya masih dipenuhi dengan keheranan atas apa yang baru saya alami. Bagaimana nasib orang-orang yang tadi satu mobil dengan saya? hendak kemana mereka sebenarnya ? karena jalan yang mereka tempuh tadi menuju ke gunung. Dan setahu saya tidak ada jalanan di sana. Keanehan apa yang telah saya alami tadi ?

Karena anggota banyak yang menyalami saya, saya tersadar dari lamunan saya. Termasuk pak Jon ada di antara mereka.

“sudah selesai latihan pak Jon ?” tanya saya ke pak Jon.

“belum pak…baru mau mulai” jawab pak Jon.

Waduh…makin bingung saya. Bukankah latihan bersama dijadwalkan jam 5. Kok baru mau mulai. Jam berapa sebenarnya sekarang ?

Begitu banyak hal yang berkecamuk di benak saya. Semua yang baru saja terjadi benar-benar di luar akal saya. Saya seperti sedang bermimpi.

“saya baru tutup telpon dari bapak 6 menit yang lalu” kata pak Jon lagi.

Beberapa pelatih yang lain membenarkan kata-kata pak Jon. Semakin lemas saya. Saya telepon pak Jon dari Padang. Pada saat saya sedang menunggu kendaraan. Kira-kira jam setengah lima lebih lima menit.

 

Bagaimana mungkin saya sekarang sudah ada di Muara Labuh. Padahal baru 6 menit. Perjalanan yang biasanya harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Itupun kalau naik kendaraan umum, kalau saya setir mobil sendiri bisa sampai 4 jam. Tidak mampu akal saya mencerna ini semua. Saya memikirkan orang-orang yang satu mobil dengan saya. Saya khawatir mereka tersesat, karena saya lihat mobil yang mereka tumpangi menuju ke gunung.

“pak Erwin, silakan pimpin dulu latihan, nanti saya bergabung” kata saya ke pak Erwin, ketua cabang di sana, karena saya lihat anggota sudah siap untuk latihan.

Saya belum mampu menceritakan apa yang telah terjadi kepada anggota saya. Saya saja belum percaya atas apa yang baru saja terjadi, apalagi orang lain, begitu pikir saya. Luar biasa kuasa Tuhan yang telah ditunjukkanNya kepada saya hari itu. Tidak bisa saya temukan satu pun penjelasan yang masuk akal manusia. Saya yakin ini semua bisa terjadi semata-mata Karena pertolongan Allah. Hanya Tuhan lah yang mampu memudahkan urusan saya menjadi semudah ini.

Alhamdulillah..Tuhan Maha Besar Maha Kuasa…Maha Memudahkan segala urusan manusia. Maha Benar janji Allah…barangsiapa membela Allah, maka Allah akan membelanya. Semua urusan di dunia dimudahkanNya.Tidak mampu akal manusia untuk menghitungnya. Tidak akan mampu akal manusia untuk mencernanya.

Sampai saat ini saya selalu teringat peristiwa itu. Setiap saya lewat di tempat dimana ada masjid megah tempat kami sholat ashar, saya selalu melihat kearah masjid itu dulu berdiri, tapi hanya pepohonan yang saya lihat. Seperti yang telah saya lihat selama 7 tahun, bolak-balik melewati tempat itu.

 

* * * * *   

 

Alhamdulillah, berkat ridha Allah, dan doa para guru, jaringan Mahatma di daerah kami berkembang sampai ke provinsi Riau. Dan hari itu adalah jadwal saya untuk mengunjungi jaringan saya di kota Pekanbaru. Pagi itu saya sedang bersiap-siap. Rencananya saya akan berangkat pagi-pagi, biar tidak terlalu sore sampai di kota Pekanbaru. Karena jadwal latihan di Pekanbaru sore hari. Sementara perjalanan Padang-Pakanbaru biasanya saya tempuh kira-kira 6 sampai 7 jam. Istri saya hari itu sudah berangkat mengajar di sekolah tempatnya bekerja. Biasanya istri sayalah yang menyiapkan segala sesuatu keperluan saya. Kali ini semua keperluan saya siapkan sendiri.

Karena hari makin siang, saya harus segera berangkat. Selesai mandi, saya ambil celana yang tergantung di balik pintu. Berpakaian, ambil tas yang berisi pakaian ganti dan keperluan saya yang lainnya, dan masuk ke mobil. Saya pun segera berangkat menuju Pekanbaru.

Sesampainya di Bukittinggi, saya lihat mobil saya mulai kehabisan bensin. Segera saya menepi di pompa bensin terdekat. Sebelum mengisi bensin, saya pergi ke kamar kecil terlebih dahulu. Keluar dari kamar kecil, saya berniat kembali ke mobil untuk mengisi bahan bakar kemudian melanjutkan perjalanan kembali, karena jarak yang harus saya tempuh masih cukup jauh. Saya rogoh saku celana mengambil dompet saya. Alangkah terkejutnya saya. Karena dompet saya tidak ada. Saya cari dompet saya di seluruh saku celana saya…tetap tidak ada. Waduh…bagaimana ini ? Saya segera ke mobil saya cari dompet saya di seluruh bagian mobil, siapa tahu terjatuh disana. Saya bongkar tas saya…tetap tidak ada. Saya berdiri di samping mobil, sambil pelan-pelan saya ingat-ingat kembali saat saya berangkat dari rumah. Begitu saya lihat celana saya, baru saya tahu dimana dompet saya. Ternyata saya mengenakan celana yang salah. Celana yang sudah saya siapkan, sudah saya masukkan dompet saya ke dalamnya, bukanlah celana yang saya kenakan saat ini. Pastinya dompet saya tertinggal di rumah. Saya ambil telepon, dan saya hubungi istri saya, yang sudah kembali ke rumah dari tempatnya mengajar. Dan ternyata benar, dompet saya tertinggal di rumah.

“astaghfirullah…bagaimana ini, kalau kembali ke Padang, bensin saya pun tidak mungkin cukup…” kata saya dalam hati. 

Jarak kota Padang-Bukitinggi sekitar 90 km. Tidak mungkin saya bisa sampai di rumah dengan bensin yang sudah hampir habis begini.

Dalam kebingungan saya berdoa kepada Allah, memohon pertolonganNya.

“ya Allah…hamba ingin mengamalkan ilmu dariMu ya Allah..karena kecerobohan hamba, sekarang hamba ditimpa kesulitan, mohon pertolonganMu ya Allah” mohon saya kepada Tuhan.

Sedang berdiri kebingungan di samping mobil saya, tidak tahu harus bagaimana, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.

“assalamualaikum…”

“wa alaikum salam…” jawab saya

Ternyata Heri sahabat saya yang sudah lama sekali tidak berjumpa dengan saya, mungkin lebih dari 17 tahun tidak berjumpa. Dia turun dari mobil yang luarbiasa mewahnya saya lihat. Cat mobilnya mengkilat sekali, seperti layaknya mobil-mobil mewah. Saya lihat nomor polisi mobilnya BK, nomor dari daerah Medan.

“sedang apa kau Wir disini ? isi bensin ?” tanya Heri.

“iya..” jawab saya singkat

Ini kesempatan sebenarnya, tapi saya agak malu juga untuk bercerita ke teman saya itu, tentang masalah saya. Sekian lama tidak bertemu, masa begitu ketemu saya minta uang. Tapi apa boleh buat, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menceritakan masalah saya kepada sahabat saya itu.

“begini Her…saya memang berniat mengisi bensin…tapi ternyata dompet saya tertinggal di rumah…saya tidak ada uang” kata saya.

“ah gampanglah…” kata Heri.

“ini peganglah…buat kamu” katanya lagi sambil menyerahkan sejumlah uang.

Kemudian dia sempat bercerita bahwa sekarang dia sedang menjalankan usaha di kota Medan.

“tapi mohon maaf…saya buru-buru ini, saya ada janji dengan walikota” katanya kemudian.

Saya yang masih terdiam karena saking gembiranya mendapat jalan keluar dari masalah, terkaget mendengar Heri sahabat saya itu berpamitan.

“o iya Her…terimakasih banyak ini semua” kata saya.

Saya lihat Heri sahabat saya itu masuk ke mobil mewahnya, kemudian melaju keluar dari stasiun pompa bensin itu. Saya lihat uang yang diberikannya kepada saya. Limaratus ribu rupiah….alhamdulillah. Luarbiasa leganya hati saya. Uang sejumlah ini lebih dari yang butuhkan untuk mengisi bensin mobil saya sampai penuh. Segera saya isi bensin mobil saya, dan melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan Padang-Pekanbaru banyak pemandangan yang indah-indah. Ini membuat hati saya lebih bahagia lagi. Keluar dari masalah, dan melakukan perjalanan di tempat yang indah. Tapi di tengah perjalanan saya teringat untuk menghubungi sahabat saya itu lagi. Karena saya merasa belum berterimakasih kepadanya dengan benar. Tadi dia tergesa-gesa berangkat lagi. Saya cari nomor teleponnya di telepon genggam saya, tidak ada.

“aduh..kenapa tadi saya ndak minta nomor teleponnya ya..” sesal saya dalam hati.

Tidak jauh di depan saya ada sebuah rumah makan, sayapun menepi untuk beristirahat, sambil mencari cara agar saya bisa mendapat nomor telepon sahabat saya itu.

Duduk sendiri di rumah makan itu, saya mencoba mengingat-ingat, siapa yang bisa saya hubungi untuk minta nomor telepon Heri. Dan alhamdulillah, saya teringat adik Heri yang ada di kota Padang, dan saya punya nomor telepon beliau. Segera saya hubungi adiknya itu.

“halo…ini uda Azwir, saya minta nomor teleponnya Heri kakakmu, tadi saya ketemu dengan dia” kata saya kepada adik Heri di telepon.

“dimana uda ketemu dengan uda Heri” tanya adiknya.

“di bukittinggi…kami sama-sama isi bensin di sana”

Akhirnya saya dapat nomor sahabat saya itu. Senang sekali saya, akhirnya saya bisa menghubungi sahabat saya yang telah membantu saya itu, untuk berterimakasih kepadanya.

“halo..” kata orang dari seberang telepon menjawab panggilan telepon saya.

“halo Her…Azwir ni..” kata saya.

“halo wir…sudah lama nggak ketemu…ada apa wir..?” tanya Heri.

“ndak…saya cuma mau bilang terimakasih saja”

“terimakasih apa ?”

“ituuu…uang yang tadi kau kasih itu, wah kalau saya tidak ketemu dengan kau, tidak tahu lagi saya harus bagaimana..terimakasih ya Her…banyak sekali uangnya”

“ketemu dimana kita Wir ?” tanya Heri lagi.

“tadi kita kan ketemu di pompa bensin di Bukittinggi, kau kasih saya uang limaratus ribu” jawab saya, agak bingung kenapa Heri bertanya seperti itu.

“jangan keterlaluanlah kau Wir…janganlah kau hina temanmu yang sudah susah begini…saya dengar kau sudah senang sekarang..tapi janganlah kau hina temanmu seperti ini” kata Heri dengan nada marah.

Saya semakin bingung, kenapa Heri jadi marah begini, apa yang salah, saya hanya ingin berterimakasih kepadanya.

“maksudnya bagaimana Her ?” tanya saya pelan

“saya ini ada di Ponorogo Wir…sedang susah…bagaimana mungkin saya bertemu dengan kau di Bukittinggi…kasih uang lagi…hp saya ini saja adik saya yang belikan” kata Heri lagi sambil menutup telepon.

Saya seperti kehilangan kesadaran. Seperti orang yang mau pingsan saking kagetnya. Duduk sendiri di rumah makan, telepon teman berniat untuk berterimakasih kepada dia, tapi malah dimarahi….dan dia ada di Ponorogo, Jawa Timur.

Saya ingat-ingat lagi kejadian di pompa bensin barusan. Saya yakin sekali bahwa itu Heri, bahkan dia sempat bercerita bahwa dia sekarang memiliki usaha yang sukses di Medan. Lalu kenapa sekarang dia marah-marah dan bilang ada di Ponorogo.

Segera saya hubungi adiknya lagi, untuk mencari tahu tentang keberadaan Heri sebenarnya.

“halo…kakakmu Heri sebenarnya dimana sekarang ?’ tanya saya pada adik Heri di telepon.

“ada di Ponorogo da..” jawab adiknya

“apa usahanya di sana ?” tanya saya.

“wah susah dia di sana da…dia jadi agen bis…kalo ada penumpang ke Sumatera Barat dari sana…nah barulah dia dapat komisinya…memang kenapa da ?” adiknya balik bertanya.

“tadi saya ketemu kakakmu di bukittinggi…naik mobil mewah..katanya berhasil usahanya di Medan…dia kasih saya uang”

“ah…bagaimana mungkin uda bisa ketemu dengan dia di Bukittinggi…dia ada di Ponorogo..Jawa Timur da…kasih uang lagi…dia tuh orang susah da…”

Saya tertegun. Berarti benar apa yang dikatakan Heri di telepon. Lantas siapa yang bertemu dengan saya di pompa bensin di Bukittinggi tadi ? Bagaimana mungkin bisa ada dua Heri, dengan dua kondisi yang sangat jauh berbeda ?

Karena penasaran, saya telepon lagi Heri sahabat saya.

“Her…” kata saya saat dia angkat teleponnya.

“aaaaahh sudahlah Wir…sudah cukup kau hina temanmu ini” katanya sambil menutup teleponnya kembali, masih marah..

Saya hanya bisa terdiam di kursi tempat saya duduk di rumah makan itu. Saya ambil kembali sisa uang yang diberikan Heri kepada saya di pompa bensin. Masih ada…Apa sebenarnya yang telah terjadi. Saya hanya bisa merenung. Apakah ini jawaban doa saya kepada Tuhan, yang memohon pertolonganNya ? Ajaib sekali pertolongan yang telah dikirimkan Tuhan kepada saya. Seandainya saya tidak telepon sahabat saya itu, mungkin sampai sekarang saya masih yakin bahwa sahabat saya Heri itulah yang telah membantu saya, memberikan saya uang untuk membeli bensin dan bekal perjalanan saya. Subhanallah…ajaib sekali.

 

Seperti yang dikisahkan oleh :

                Bapak Azwir AS ( Padang, Sumatera Barat )

                NAM       162529

                Telp        0852-6351-5366

  

SELAMAT DARI API

 

Nama saya Omo, orang-orang biasa memanggil saya abah Omo. Sehari-hari saya berjualan bensin eceran di rumah saya, di daerah Cinangsi kecamatan Cibogo kabupaten Subang. Sore itu saya sedang memindahkan bensin yang baru saja saya beli menggunakan jerigen, ke dalam botol-botol, untuk dijual kembali secara eceran kepada pengendara yang lewat.

Satu demi satu saya isi botol bensin. Dengan hati-hati saya tuangkan bensin dari jerigen ke botol-botol satu literan. Kira-kira ada 24 botol yang sudah terisi. Saya letakkan botol yang sudah terisi di tanah. Istri saya menemani, sambil memasak di depan tungku.

Rupa-rupanya tanpa saya ketahui. Salah satu botol yang telah terisi bensin jatuh. Mungkin karena permukaan tanah yang tidak rata. Dan tumpahan bensin mengarah ke dapur, yang kira-kira berjarak 10 meter dari tempat saya duduk. Dan saat itu istri saya sedang sibuk memasak menggunakan tungku. Tanpa saya sadari tumpahan bensin semakin banyak. Dan langsung saja terpercik api dari kayu bakar di tungku dapur kami.

Dhuaaaarrrr !!! semua botol bensin yang telah terisi meledak…api begitu cepat membesar, atap dapur kami telah terbakar. Karena teringat istri, saya berlari menuju dapur. Pecahan botol berserakan di mana-mana. Tanpa alas kaki saya injak pecahan-pecahan botol itu. Asap hitam memenuhi dapur saya. Dan api yang telah menjadi besar itu menyambar ke mana-mana. Kaos yang saya kenakanpun ikut terbakar. Seluruh tubuh saya terbakar. Sayup-sayup saya mendengar jeritan orang-orang yang sudah mulai berkumpul. Di antara suara-suara itu, saya masih mendengar suara istri saya yang menjerit-jerit panik. Saya tidak bisa melihat keadaan di sekeliling saya, karena pandangan saya terhalang oleh api yang membakar seluruh tubuh saya.

Dalam kondisi terbakar itu, satu detik saya teringat, untuk memohon pertolongan Tuhan, seperti yang selama ini diajarkan oleh pelatih-pelatih saya di Mahatma. Sayapun duduk bersila, lalu mengatur nafas seperti yang telah diajarkan selama ini. Pada saat saya tekan nafas, alhamdulillah api di tubuh saya mulai mengecil.

Mungkin karena panik, dan ingin segera menolong saya, salah seorang tetangga saya yang ada di tempat kejadian, menyiram saya dengan seember air. Api yang tadinya mulai mengecil, kembali membesar. Bahkan menjadi lebih besar.

Saya bangun dari tempat saya bersila. Karena tidak jauh dari tempat saya duduk, ada sebuah sepeda motor milik tetangga.

Saya mencari tempat yang agak jauh dari keramaian, semampu saya. Karena pandangan saya kembali terhalang oleh api yang membesar, membakar tubuh saya. Saya bersila lagi, mengatur nafas, sambil terus mengingat Tuhan memohon pertolonganNya. Alhamdulillah api mengecil, terus mengecil, sampai akhirnya padam. Saya perhatikan sekeliling saya, saya lihat istri saya ada diantara kerumunan orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu.

“terimakasih Tuhan…Engkau telah menyelamatkan istri saya” begitu doa saya dalam hati.

“abah…abah gak apa-apa ?” tanya orang-orang dengan nada yang sangat panik.

Saya perhatikan seluruh tubuh saya dengan teliti. Kaos yang tadi saya kenakan sudah tidak ada lagi. Saya bertelanjang dada, hanya sisa-sisa kaos saya sebagian ada yang masih menempel di badan saya, hitam, hangus terbakar. Celana sayapun sudah hilang, hanya tersisa celana pendek saja.

“gak…abah gak apa-apa…alhamdulillah” jawab saya kepada orang banyak yang penasaran di sekeliling saya.

Orang-orang itu serentak bersyukur bersama-sama. Saya hampiri istri saya yang berdiri diantara orang banyak, memegang bungkusan baju-baju kami,  untuk melihat keadaannya. Ia hanya mampu menangis melihat saya masih dalam keadaan utuh, tidak kekurangan apapun.

“abah gak apa-apa ? tanya istri saat saya berdiri di hadapannya.

“gak…gak apa-apa” kata saya menenangkan.

“habis abah…rumah habis kebakar…” istri saya menangis.

Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menenangkan istri saya, selain mengingatkan dia untuk pasrah kepada Allah.

Saya belum sempat memeriksa bagaimana kondisi rumah saya, tapi jika mengingat begitu besarnya api, saya yakin, apapun yang ada di dekatnya pasti akan habis terbakar. Tidak lama ada seorang tetangga yang mengajak istri saya ke rumahnya, untuk menenangkan diri.

Saya berjalan menuju rumah saya. Saya lihat dapur rumah kami, tempat istri saya biasa memasak, sudah hangus terbakar. Atapnya sudah hilang, tinggal sisa kayu yang masih sedikit menyala. Bara api di mana-mana. Pecahan botol berserakan . Asap tebal masih membumbung, hitam. Saya berjalan perlahan menuju kearah bagian depan rumah, dan subhanallah….rumah saya masih berdiri tegak. Saya bingung, kalo mengingat besarnya api, tidak mungkin rumah ini masih berdiri. Dapur yang menempel di bagian belakang rumah, habis terbakar. Hanya Tuhanlah yang mampu menyelamatkan ini semua. Bahkan ada sebuah sepeda motor milik tetangga, pada saat mengisi bensin ke botol, diparkir tidak jauh dari tempat saya, masih berdiri di sana.

Kebingungan, saya duduk di bawah sebuah pohon di pinggir jalan. Saya pandangi dapur yang terbakar, rumah yang masih berdiri, dan pecahan botol yang berserakan. Saya periksa sekali lagi badan saya. Alhamdulillah tidak ada luka sedikitpun. Padahal saya jalan bolak-balik diatas pecahan botol tanpa alas kaki. Saya pegang kepala saya. Bahkan rambut saya masih utuh semua. Hanya bulu-bulu tangan dan kaki yang terbakar. Tidak masuk akal…padahal kaos dan celana yang saya kenakan, habis terbakar.

Sedang asiknya memikirkan ini semua, tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara sirine yang begitu keras. Meraung-raung di jalan tempat saya duduk. Rupa-rupanya truk pemadam kebakaran tiba di tempat saya. Entah siapa yang menghubungi mereka. Mungkin karena panik melihat api yang begitu besar menyala. Beberapa orang yang terlihat tegap, dengan sigapnya meloncat dari truk pemadam kebakaran itu. Mereka segera menarik selang pemadam dari truk, dan segera memadamkan sisa-sisa api yang masih menyala di dapur saya. Salah satu dari mereka menghampiri saya, dan bertanya.

“dimana orang yang tadi terbakar pak ?”

Saya terdiam sejenak, sambil mengingat-ingat. Setahu saya tidak ada lagi orang yang terbakar selain saya. Istri saya yang sedang memasak di dapurpun, tadi sempat menyelamatkan diri pada saat api mulai berkobar.

“saya….” jawab saya singkat.

Sekarang gantian petugas pemadam itu yang terdiam. Pandangannya melihat saya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki saya, seperti tidak percaya.

“bapak ?” tanyanya lagi.

“iya, saya….”

“tapi bapak tidak apa-apa…”

“iya..”

Saya hanya tersenyum memandang petugas pemadam kebakaran itu. Nyatanya sekali di wajahnya beliau tidak percaya atas apa yang saya ucapkan. Jangankan beliau, saya sendiri saja yang mengalami masih belum percaya. Apalagi orang lain, yang tidak menyaksikan sendiri kejadiannya. Akhirnya para tetangga saya ikut menjelaskan kepada petugas pemadam itu. Akhirnya saya lihat beliau mengangguk-angguk. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

Sambil tersenyum saya beranjak menjauh dari tempat itu. Dalam hati saya sangat yakin, bahwa hanya karena pertolongan Tuhanlah saya selamat. Maha Dekat Tuhan, padahal saat itu, karena kondisi yang serba panik, saya tidak sempat mengucapkan doa apa-apa. Saya hanya mengingat Tuhan, kemudian saya lakukan apa yang saya tahu, yang selama ini diajarkan oleh pelatih-pelatih saya, guru-guru saya di Mahatma. Maha Baik Tuhan yang telah menyelamatkan saya dan istri saya.

 

Seperti dikisahkan oleh :

Abah Omo S ( Subang, Jawa Barat )

NAM       368094

Kepada

Bapak IR. H. Ade M. Muchlis

NAM       132629

Telp        0812-8044-4446

  

PUTUS ASA KARENA PENYAKIT

 

Nama saya Syamsia Hertuti, saat ini usia saya 34 tahun, sakit yang saya derita dimulai dari tahun 2007. Saya tidak tahu penyakit apa sebenarnya yang saya derita. Gejalanya sangat aneh. Ada rasa dingin yang saya rasakan, menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepala, kepala terasa berat, kedua tangan saya kaku, kejang, tidak terkendali, jantung berdegup kencang, saya merasakan pusing yang amat sangat. Bahkan di beberapa waktu, saya sampai buang air besar tanpa terkendali. Penyakit ini biasanya datang pada jam-jam tertentu. Sudah barang tentu hal ini sangat mengganggu, bahkan menyiksa.

                Di awal-awal sakit saya mencoba berobat pada seorang paranormal, atau dukun di daerah saya, di Tapan kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Tapi bukannya mendapatkan kesembuhan, penyakit yang saya derita malah terasa semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya memutuskan untuk segera berobat ke dokter. Hal yang sama yang saya dapatkan. Penyakit yang saya derita tidak kunjung membaik juga. Sampai akhirnya ada salah seorang dokter, dokter umum, menyarankan saya untuk berobat kepada dokter spesialis jantung dan dokter spesialis syaraf.

                Berangkatlah saya ke kota Padang untuk berobat kepada dua dokter spesialis tersebut, di satu rumahsakit yang ada di kota Padang. Setelah berobat kepada dokter spesialis jantung, dilanjutkan dengan berobat kepada dokter spesialis syaraf. Dua dokter sekaligus, dua resep obat yang harus saya tebus, begitu banyak obat-obatan yang harus saya minum.

                Demikian terus berlangsung dari hari ke hari, tanpa terasa waktu telah berjalan dua tahun, semenjak pertama saya berobat. Bolak-balik ke kota Padang untuk berobat. Bermacam-macam terapi, bermacam-macam obat, tapi penyakit saya tetap terasa. Kesembuhan yang saya harapkan tidak kunjung saya dapatkan.

                Pada tahun 2009, saya memutuskan untuk kembali berobat kepada paranormal, untuk mencari alternatif pengobatan. Agak berkurang rasanya penyakit saya, tapi jantung saya tetap berdegup tidak menentu. Saya masih minum bermacam-macam obat. Bahkan untuk sekedar tidurpun, saya harus minum obat penenang jantung. Jika tidak minum obat itu, saya tidak bisa tidur. Hidup saya jadi tergantungan dengan obat-obatan.

                Pada tahun 2012 saya harus dirawat di rumah sakit. Karena penyakit saya semakin bertambah parah. Akhirnya kami memutuskan agar saya dirawat di rumah sakit umum daerah Painan. Dan ternyata penyakit yang saya derita bertambah banyak. Maag, asam lambung, kaki saya terasa sakit sekali jika bangun tidur, sehingga saya tidak mampu untuk berjalan. Saya merasa putus asa sekali waktu itu. Ini semua menjadi beban yang sangat menghimpit saya. Mungkin umur saya sudah tidak lama lagi.

                “ya Allah, bagaimana dengan anak-anak hamba ?” saya membatin.

Terbayang wajah empat orang anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Bagaimana mereka jika terjadi sesuatu dengan saya ? Siapa yang akan mengurus mereka ? dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan di benak saya tentang mereka. Ini semua membuat saya menangis, saya merasa begitu terhimpit beban dengan penyakit yang saya derita ini.

                Akhirnya saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tapi begitu tahu bahwa saya telah menghabiskan begitu banyak biaya untuk pengobatan saya, langsung bertambah beban pikiran saya. Saya harus mengeluarkan biaya sebesar 70 juta rupiah untuk rumah sakitnya saja. Belum biaya untuk obat-obatan  yang harus saya minum. Sampai berapa lama lagi hal ini akan terus berlangsung ? Saya tidak mampu membayangkannya. Hanya keputusasaan yang terasa semakin menghimpit hati saya.

                Pada awal tahun 2013, saya bertemu dengan bapak Ir. Junaidi Datuk Rajo Sutan Batuah, beliau menyarankan saya untuk ikut olahraga pernafasan Mahatma.

Beliau menceritakan tentang manfaat olahraga pernafasan ini, dan kemajuan-kemajuan kesehatan yang telah didapatkan oleh anggotanya. Cerita beliau ini membuat saya sangat tertarik untuk mencobanya.

                Satu hari setelah bertemu dengan bapak Ir Junaidi, saya mulai latihan olahraga pernafasan Mahatma, dibawah bimbingan dan pengarahan bapak Marsiwan. Didorong oleh keingin untuk sembuh yang begitu besar, setiap pengarahan bapak Marsiwan saya dengarkan dengan sungguh-sungguh.

Hari pertama latihan, saya dikenalkan tehnik nafas dan gerakan-gerakan yang dilakukan di Mahatma…subhanallah….badan ini langsung terasa enak. Padahal baru sekali saya latihan. Ajaib…

Akhirnya karena saya langsung dapat merasakan manfaat dari latihan olahraga pernafasan ini, saya memutuskan untuk terus latihan Mahatma. Sampai akhirnya saya dilantik menjadi anggota Mahatma. Dan alhamdulillah…segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, penyakit yang selama bertahun-tahun saya derita kini sudah tidak terasa. Begitu cepat, begitu mudah, begitu murah bila Tuhan berkehendak untuk menyembuhkan hambanya, selama kita bersungguh-sungguh berusaha di jalanNya.

Sebagai bentuk rasa syukur saya, saya mendaftarkan diri untuk menjadi pelatih Mahatma, dan sekarang saya sudah menjadi asisten pelatih Mahatma. Saya ingin menyebarkan ilmu ini, membagi nikmat yang telah saya terima dari Allah.

Terimakasih saya kepada guru-guru yang telah mengajarkan ilmu ini. Kepada bapak Ir junaidi yang telah memperkenalkan saya dengan olahraga pernafasan ini, kepada bapak Marsiwan yang telah berkenan menjadi pelatih saya. Kepada bapak Pembina, Guru Besar Mahatma, bapak K.H.DR. Achmad Riva’i. Semua beban yang selama ini menghimpit saya telah hilang. Alhamdulillah…terimakasih banyak.

 

Seperti yang dikisahkan oleh :

Ibu Syamsia Hertuti ( Tapan – Pesisir Selatan, Sumbar )

NAM       384414

Telp        0852-6309-7391

  

VERTIGO AKUT

 

Saya seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai karyawati swasta. Alhamdulillah, kami telah dianugerahi tiga orang anak, putra dan putri. Sejak tahun 2008 saya menderita sakit vertigo dan maag, yang menyebabkan saya harus keluar masuk rumah sakit. Pertama kali terkena serangan vertigo, saya sampai pingsan, karena begitu kuatnya putaran yang saya rasakan. Penyakit saya ini disebabkan kadar kolesterol dalam darah saya yang begitu tinggi, sampai 285 pada saat itu.

                Karena sering sakit, lambat laun pekerjaan saya di kantor sering terganggu. Saya jadi sering tidak masuk bekerja. Bukan hanya pekerjaan saya yang terganggu, suamipun begitu. Karena harus sering ambil cuti untuk menemani saya saat diopname di rumahsakit. Saat libur, yang harusnya bisa saya manfaatkan bermain bersama anak-anak, lebih sering terganggu, karena saya tidak mampu kemana-mana disebabkan penyakit saya.

                Pada tahun 2010 anak pertama saya bergabung dengan Mahatma. Saat itu dia duduk di bangku SMK kelas 1.

Pada awalnya saya tidak mengijinkan.

                “olahraga apa lagi ini ? latihan kok malam-malam” pikir saya.

                “Mahatma…apa ini ajaran India ?”

Tapi dengan melihat kesungguhan anak saya dan mendengarkan sekilas penjelasan tentang Mahatma, akhirnya sayapun mengijinkan dia untuk ikut latihan Mahatma. Walaupun saya belum faham benar apa itu olahraga pernafasan Mahatma, dan saya belum tertarik untuk bertanya lebih lanjut tentang hal itu. Tapi daripada dia menghabiskan waktunya untuk bermain, lebih baik dia ikut olahraga ini, walaupun latihannya malam-malam. Sekedar ada kegiatan untuk dia.

                Tahun 2011 anak saya mengajak saya dan suami untuk ikut bergabung dengan olahraga Mahatma. Mungkin dia tidak tega melihat ibunya yang sakit-sakitan dan sering harus dirawat di rumahsakit. Dan ternyata saat itu dia sudah menjadi pelatih olahraga pernafasan Mahatma.

 

Sudah barang tentu saya menolak ajakan anak saya saat itu. Karena kadang saya pulang kerja sudah jam 7 malam. Dengan badan yang sudah merasa lelah, belum lagi harus mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menanti saya.Besok paginya sudah harus kembali bekerja, menyiapkan keperluan anak-anak sekolah.

                “pulang kerja aja sudah capek…gimana mau olahraga” begitu pikiran saya.

                Namun pada satu malam, sepulang saya bekerja, saya  melewati lapangan dimana anak saya dan anggota lainnya  sedang berlatih. Saya hanya menyaksikan dari kejauhan.

                “ini olahraga apaan sih ? kok sebentar-sebentar tepuk tangan…sebentar-sebentar tersenyum…” dalam hati saya bertanya.

Hal ini sering sekali terjadi. Lambat laun sayapun mulai tertarik.

                Akhirnya pada bulan Maret 2011 saya dan suami menerima ajakan anak saya untuk bergabung dengan olahraga Mahatma ini. Karena saya ingin sembuh, sekaligus ingin bersilaturahmi dengan tetangga sekitar tempat tinggal saya. Awal latihan saya masih sering pingsan di lapangan. Tapi karena keinginan untuk sembuh yang begitu besar, saya terus mengikuti latihan olahraga pernafasan Mahatma ini dengan rajin.

                Alhamdulillah…setelah mengikuti latihan, saya tidak pernah pingsan lagi, baik di lapangan maupun di keseharian saya di luar lapangan. Secara bertahap kesehatan saya pulih kembali. Bukan hanya itu saja, di sini saya dilatih untuk lebih focus, berpikir positif, dan banyak lagi. Apa yang saya khawatirkan dulu ternyata tidak terbukti. Walaupun latihannya malam, sepulang saya bekerja, ternyata setelah latihan, badan saya malah terasa segar.

Saya tidak takut untuk mandi malam lagi, tidak takut kelelahan, dan prestasi kerja saya di kantor pun membaik. Dulu saya sering tidak masuk akntor karena sakit, sekarang absensi kehadiran saya di kantor sudah jauh lebih baik, karena sudah tidak pernah mengeluhkan tentang penyakit vertigo saya. Alhamdulillah…Vertigo saya telah sembuh, bahkan kadar kolesterol saya turun menjadi 158.

Berat badan saya pun turun, bukan karena kelelahan, tapi karena pembakaran lemak yang tidak berguna di tubuh saya. Saya tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan lagi. Bisa mengobati diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Saya jadi tidak keluar masuk rumahsakit lagi.

                Sekarang saya sudah menjadi pelatih di Mahatma. Saya ingin membantu orang-orang yang punya pengalaman yang sama dengan saya, atau bahkan mungkin lebih. Pengalaman tersiksa oleh penyakit selama bertahun-tahun, mengeluarkan begitu banyak biaya. Ini ada satu cara yang cepat, mudah dan murah. Alhamdulillah…

 

Seperti dikisahkan oleh :

                Ibu Retno Widiati ( Jakarta )

                NAM       375508

                Telp        0858-8534-5177

  

KENA SANTET BERTAHUN-TAHUN

  

Tahun 2009, hari itu adalah jadwal latihan rutin unit Mahatma di Baleendah Bandung. Kami baru saja selesai melakukan latihan rutin, dan sedang berbincang-bincang dengan para anggota, sambil melepas lelah sejenak. Banyak hal yang kami bicarakan, terutama yang ada kaitannya dengan Mahatma.

                Tiba-tiba ada seorang anggota yang meminta waktu untuk berbicara dengan saya. Sahabat saya ini menceritakan tentang kondisi bibinya, yang telah bertahun-tahun menderita sakit. Bibinya ini telah beberapa kali dibawa berobat ke dokter, tapi tidak ada perubahan sama sekali, bahkan secara medis, tidak terdeteksi penyakit apapun. Sampai akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa bibi sahabat saya ini untuk mencari alternatif pengobatan. Dan ternyata bibi sahabat saya ini terkena santet. Sedang asik bercerita, azan maghrib berkumandang.

“kita sholat dulu, kita lanjutin ngobrolnya sehabis maghrib” kata saya kepada sahabat saya itu.

Kamipun segera melaksanakan sholat maghrib bersama-sama.Setelah sholat kami melanjutkan cerita tentang bibinya itu. Sahabat saya ini bercerita, ada beberapa dukun yang pernah mencoba mengobati bibinya yang sakit tersebut, tapi tak lama kemudian, kira-kira 3 hari setelah itu, dukun itu meninggal dunia. Bahkan pernah suatu ketika, pada saat sedang diobati oleh salah seorang dukun yang dimintai bantuan, semua kaca di rumahnya pecah.

                “hmmm….” batin saya.

                “lumayan juga ya”

                “bagaimana ? sanggup gak ?” tanya teman saya.

Saya mencoba tenang, dan meyakinkan diri.

                “kita ini hanya takut kepada Allah saja” jawab saya

                “dukun itu kan minta bantuannya kepada jin” lanjut saya

“sedangkan kita hanya minta pertolongan kepada Allah saja”

 

Kemudian setelah sahabat saya mengerti dan yakin, kamipun segera berangkat ke rumah bibinya yang sedang sakit itu.

                Sesampai di rumah bibinya, kami segera dipertemukan dengan bibi sahabat saya itu. Secara kasat mata, tubuhnya terlihat lemas. Kami tanyakan kepada bibi sahabat saya itu, apa saja yang dirasakan selama ini. Beliau berkata bahwa selama ini susah untuk makan dan susah tidur. Hatinya selalu terasa gelisah. Saya katakan kepada yang sakit, bahwa kami akan mencoba untuk mengobati beliau, untuk itu kami minta beliau untuk selalu membersihkan hati, dengan cara terus beristighfar.

                Saya ajak teman saya untuk berdoa kepada Tuhan, memohon kesembuhan bagi bibinya dan memohon ijin Tuhan untuk berikhtiar mengobati penyakitnya.

Selama kami berdoa, bibi sahabat saya ini kelihatan semakin gelisah. Saya merasakan sesuatu yang aneh. Saya merinding yang amat sangat. Kepala saya terasa tebal, seperti ada beban besar yang menindih kepala saya. Terasa berat luar biasa..subhanallah…

                Bibi teman saya mulai berteriak-teriak histeris. Menjerit-jerit kesakitan. Padahal kami belum melakukan apa-apa. Kami baru berdoa. Kepala saya semakin terasa berat….semakin berat…..

                “pertolongan Allah pasti datang” saya yakinkan diri saya terus menerus. Sambil terus melanjutkan membaca doa sampai selesai.

                Setelah selesai berdoa, saya ajak sahabat saya untuk melakukan ikhtiar pengobatan seperti yang diajarkan di Mahatma.

                Tahap pertama kami lakukan…masih menjerit-jerit…

                Tahap kedua…semakin menjerit-jerit

                Tahap ketiga…masih menjerit-jerit

                Tahap keempat…masih…

Subhanallah…

Suasana jadi semakin bertambah tegang. Akhirnya kami putuskan untuk melakukan cara pamungkas seperti yang diajarkan guru-guru kami.

                Kami berdua membacakan ayat kursi dihadapan bibi. Kami bacakan terus sampai tiga kali, bibi terus menjerit dan meronta-ronta. Setelah selesai membacakan ayat kursi sampai tiga kali kami lakukan pengobatan seperti yang telah diajarkan oleh guru-guru kami di Mahatma. Dan ajaib…

                “ampuuuuuunnnnnn…..” teriak bibi sahabat saya itu.

Kemudian tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri. Tak lama kemudian beliau siuman dari pingsannya, dan tampak sehat. Allah Maha Besar….penyakit yang sudah diderita bertahun-tahun. Telah diangkat oleh Tuhan dan dibuang jauh-jauh. Begitu banyak cara pengobatan yang sudah dilakukan. Mulai dari dunia medis, yang tidak mampu mendeteksi penyakit bibi sahabat saya ini, karena memang penyakitnya bukanlah penyakit medis, sampai ada beberapa dukun yang pernah mencoba mengobati bibi sahabat saya ini, bahkan beberapa di antaranya sampai meninggal dunia. Tuhan Maha Kuasa…hanya kepadaNyalah kita menyembah dan memohon pertolongan. Sebaik-baik pelindung dan penolong kita. Janganlah bergantung dan memohon perlindungan kepada selain Dia.

                Setelah bibi sahabat saya ini sembuh, saya katakan kepada beliau agar bergabung dengan Mahatma. Supaya penyakitnya itu tidak kembali lagi. Dan alhamdulillah…sekarang beliau sudah menjadi anggota bahkan aktif latihan. Begitu nikmatnya hidup ini, jika kita bisa bermanfaat bagi sesama kita. Terimakasih kepada guru-guru yang telah mengajarkan kami ilmu-ilmu ini. Terimakasih yang tak terhingga kepada bapak Pembina Mahatma, bapak Kiai Haji DR. Achmad Riva’i.

 

Seperti dikisahkan oleh :

                Bapak Heri Purnomo ( Bandung, Jawa Barat )

                NAM       246655

                Telp        0878-2262-9571

 

Jika kita membaca cerita-cerita yang telah dialami oleh saudara-saudara kita di Mahatma itu, jelas sekali bahwa Tuhan Maha Kuasa. Tidak ada satu halpun diluar kuasaNya. Sesuatu yang kita anggap tidak mungkin, menyembuhkan satu penyakit yang kita anggap belum ada obatnya sekalipun, adalah hal yang sangat mudah bagiNya. Bagaimana Tuhan dengan caraNya, menurunkan keajaiban-keajaiban yang membahagiakan manusia. Yang dibutuhkan hanya satu, bergantunglah hanya kepadaNya. Begitu dekat dan sayangnya Tuhan kepada hamba-hambaNya. Hanya dengan berniat untuk berjalan kepadaNYa, Tuhan hadir di sisi hambaNya, dan mengambil alih semua permasalahan yang sedang dihadapi oleh hamba-hambaNya. Lantas apa lagikah yang membuat kita semua ragu akan cinta kasih Tuhan, sehingga kita harus menggantungkan hidup kita kepada selain Dia ?

                Hanya dengan berniat untuk bertobat, memohon ampunan dariNya, kemudian berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan masing-masing, semua hal yang sebelumnya mustahil, menjadi sesuatu yang sangat nyata. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya, mudah sekali disembuhkan olehNya. Kekurangan uang yang terasa sangat menghimpit, diselesaikan olehNya hanya dengan cara yang sangat sederhana, kadang di luar akal normal kita.

                Dengan begitu berlimpahnya rahmat Tuhan di sekeliling kita, maka tidak pantas rasanya bila kita masih tidak berbahagia. Tuhan hanya minta sebuah usaha kecil dari kita, untuk menunjukkan bahwa kita bersungguh-sungguh menginginkan perubahan yang kita minta. Sebuah usaha yang sudah dipastikan olehNya, bahwa kita mampu melakukannya. Karena Tuhan sudah menjamin bahwa tidak satupun ujian yang Beliau turunkan pada manusia, di luar kemampuan kita. Berbekal ini semua, tidak ada gunanya kekhawatiran yang berlebihan, dalam menghadapi apapun masalah yang sedang menimpa kita. Bahkan di saat kita sedang menghadapi masalah sekalipun, masih sangat berlimpah rahmat Tuhan yang diturunkan olehNya. Hitunglah itu jika kita hendak berhitung. Hitunglah betapa cintaNya tidak berhenti turun kepada kita, seperti curahan hujan yang sangat deras. Mudah sekali bagi Tuhan untuk menurunkan rahmatNya di saat yang sama sekali tidak bisa kita duga. Bahkan dengan cara-cara yang tidak masuk akal sekalipun. Tuhan ingin kita, hambaNya, berbahagia.

Tuhan tidak menentukan standar yang sama atas usaha yang  harus kita lakukan. Karena Tuhan Maha Adil. Beliau telah menciptakan kita berbeda-beda, dengan kemampuan yang berbeda-beda pula. Kesungguhan dan niat kita melakukan usaha itulah yang Tuhan lihat. Walaupun usaha yang kita lakukan sudah demikian besarnya, tapi jika niat kita melakukan usaha itu bukan karena Tuhan, kita tidak akan mendapatkan hasil yang seperti kita butuhkan. Karena sesungguhnya, hasil atau imbalan adalah sepenuhnya hak Tuhan. Maka marilah kita jaga niat dari usaha kita, apapun itu, langkah demi langkah, semata-mata hanya karena ingin agar Tuhan ridha.

Doa menjadi satu elemen yang sangat mendasar bagi perubahan yang kita inginkan. Tuhan sangat senang pada hambanya yang berdoa. Karena dalam doa, berarti kita sudah menempatkan diri kita sebagai seorang hamba, yang sungguh tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dan Tuhan sebagai sembahan kita Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu di kehidupan kita. Sebuah sikap batin yang seharusnya bukan hanya kita terapkan pada saat kita berdoa saja, tapi di setiap langkah dalam kehidupan kita ini. Kesadaran bahwa kita hanya memiliki kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, untuk membuktikan cinta dan kepatuhan kita kepadaNya. Sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan dengan hati-hati dan waspada, agar jangan sampai terbuang dengan sia-sia, supaya kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. Begitu sukanya Tuhan pada doa-doa yang dilantunkan manusia, sampai Beliau meminta kita untuk berdoa, dan Beliau berjanji untuk mengabulkan setiap doa. Mintalah kepadaKu, maka akan Aku beri, begitu kata Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah ingkar janji. Maka tidak sepantasnyalah kita meragukanNya.

Mari lakukanlah semua yang Tuhan senang, agar Beliau juga senang menjawab doa-doa kita. Bersikap baiklah kepada sesama, jadilah pribadi-pribadi yang penuh kasihsayang, agar berlimpah kasihsayang Tuhan kepada kita. Hormatilah orangtua kita, karena Tuhan akan ridha kepada kita bila kedua orangtua kita ridha kepada kita. Muliakanlah guru kita, karena melalui perantaraan guru-guru kitalah, ilmu-ilmu yang baik sampai kepada kita. 

Melalui perantaraan guru-guru kitalah, tangan Tuhan sampai menyentuh hati kita. Sehingga kita mampu untuk melihat dengan lebih jelas lagi, perbedaan antara benar dan salah dalam hidup kita. Tuhan tidak menghitung rasa syukur kita, jika kita belum berterimakasih kepada sesama kita.

Doa dan usaha, dua hal yang menjadi penentu dari keberhasilan yang bisa kita raih. Kedua hal tersebut mengarahkan kita untuk terus sadar, bahwa kita adalah hamba-hambaNya, yang tidak memiliki kemampuan atau kuasa apapun. Semua adalah milikNya. Semua sudah ditentukanNya.

Dengan kesadaran seperti ini, maka sudah selayaknyalah bagi kita untuk selalu merendah.  Apakah yang hendak kita sombongkan ? Tidak ada kuasa kita atas apapun di kehidupan ini. Semua milik Tuhan, yang Beliau turunkan untuk kita sementara, agar kita bisa berjalan di atas dunia ini sebagai orang yang bisa memberi manfaat satu sama lain. Dan sebaik-baik kita, adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Usaha untuk memberi manfaat yang baik bagi sesama, bukanlah dalam rangka hanya untuk membahagiakan orang itu, tapi lebih dari itu, semata-mata hanya untuk membahagiakan Tuhan, untuk mencapai ridhaNYa. Lakukanlah dengan ikhlas, karena Tuhan hanya menerima semua amalan kita, yang kita lakukan dengan ikhlas.

Maha Indah Tuhan, yang telah menciptakan kehidupan yang seimbang dengan indahnya. Masalah, penyakit, kadang datang karena perbuatan kita yang telah merusak keseimbangan yang telah Beliau ciptakan. Rahmat Tuhan diturunkan kepada kita dalam rangka menyeimbangkan kembali keadaan di sekeliling kita, atau pada kita, dan itu sesuai dengan kebutuhan terbaik, dengan cara terbaik, menurut Tuhan. Yang dibutuhkan dari kita adalah keyakinan bahwa cara Tuhan pastilah yang terbaik buat kita. Karena sesungguhnya tidak ada kebutuhan Tuhan dari kita. Semua Tuhan ciptakan, turunkan, hanya untuk kita manusia. Ikhlaslah pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkanNya.

Tuhan telah menetapkan manusia sebagai mahluk sosial. Dengan perbedaan-perbedaan, agar kita bisa saling mengenal dan saling menyayangi. Tuhan perintahkan kita untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Kita adalah mahluk yang ditugaskan oleh Tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai pemimpin di kehidupan kita, dengan segala keragaman perbedaan yang kita miliki satu sama lain. Maka marilah menjadi hamba-hambaNya yang menyebarkan kebaikan kepada semua mahluk ciptaanNya di dunia ini. Berlombalah untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Semata-mata hanya agar Tuhan bahagia melihat kita.

 
Next >
© 2017 Olahraga Pernafasan Mahatma
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.