Tuhan Kirim Malaikat

Keajaiban Pertolongan Tuhan

Tuhan Kirim Malaikat

Alhamdulillah, berkat ridha Allah, dan doa para guru, jaringan Mahatma di daerah kami berkembang sampai ke provinsi Riau. Dan hari itu adalah jadwal saya untuk mengunjungi jaringan saya di kota Pekanbaru. Pagi itu saya sedang bersiap-siap. Rencananya saya akan berangkat pagi-pagi, biar tidak terlalu sore sampai di kota Pekanbaru. Karena jadwal latihan di Pekanbaru sore hari. Sementara perjalanan Padang-Pekanbaru biasanya saya tempuh kira-kira 6 sampai 7 jam. Istri saya hari itu sudah berangkat mengajar di sekolah tempatnya bekerja. Biasanya istri sayalah yang menyiapkan segala sesuatu keperluan saya. Kali ini semua keperluan saya siapkan sendiri.

Karena hari makin siang, saya harus segera berangkat. Selesai mandi, saya ambil celana yang tergantung di balik pintu. Berpakaian, ambil tas yang berisi pakaian ganti dan keperluan saya yang lainnya, dan masuk ke mobil. Saya pun segera berangkat menuju Pekanbaru.

Sesampainya di Bukittinggi, saya lihat mobil saya mulai kehabisan bensin. Segera saya menepi di pompa bensin terdekat. Sebelum mengisi bensin, saya pergi ke kamar kecil terlebih dahulu. Keluar dari kamar kecil, saya berniat kembali ke mobil untuk mengisi bahan bakar kemudian melanjutkan perjalanan kembali, karena jarak yang harus saya tempuh masih cukup jauh. Saya rogoh saku celana mengambil dompet saya. Alangkah terkejutnya saya. Karena dompet saya tidak ada. Saya cari dompet saya di seluruh saku celana saya…tetap tidak ada. Waduh…bagaimana ini ? Saya segera ke mobil saya cari dompet saya di seluruh bagian mobil, siapa tahu terjatuh disana. Saya bongkar tas saya…tetap tidak ada. Saya berdiri di samping mobil, sambil pelan-pelan saya ingat-ingat kembali saat saya berangkat dari rumah. Begitu saya lihat celana saya, baru saya tahu dimana dompet saya. Ternyata saya mengenakan celana yang salah. Celana yang sudah saya siapkan, sudah saya masukkan dompet saya ke dalamnya, bukanlah celana yang saya kenakan saat ini. Pastinya dompet saya tertinggal di rumah. Saya ambil telepon, dan saya hubungi istri saya, yang sudah kembali ke rumah dari tempatnya mengajar. Dan ternyata benar, dompet saya tertinggal di rumah.

“astaghfirullah…bagaimana ini, kalau kembali ke Padang, bensin saya pun tidak mungkin cukup…” kata saya dalam hati.

Jarak kota Padang-Bukitinggi sekitar 90 km. Tidak mungkin saya bisa sampai di rumah dengan bensin yang sudah hampir habis begini.

Dalam kebingungan saya berdoa kepada Allah, memohon pertolonganNya.

“ya Allah…hamba ingin mengamalkan ilmu dariMu ya Allah..karena kecerobohan hamba, sekarang hamba ditimpa kesulitan, mohon pertolonganMu ya Allah” mohon saya kepada Tuhan.

Sedang berdiri kebingungan di samping mobil saya, tidak tahu harus bagaimana, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.

“assalamualaikum…”

“wa alaikum salam…” jawab saya

Ternyata Heri sahabat saya yang sudah lama sekali tidak berjumpa dengan saya, mungkin lebih dari 17 tahun tidak berjumpa. Dia turun dari mobil yang luarbiasa mewahnya saya lihat. Cat mobilnya mengkilat sekali, seperti layaknya mobil-mobil mewah. Saya lihat nomor polisi mobilnya BK, nomor dari daerah Medan.

“sedang apa kau Wir disini ? isi bensin ?” tanya Heri.

“iya..” jawab saya singkat

Ini kesempatan sebenarnya, tapi saya agak malu juga untuk bercerita ke teman saya itu, tentang masalah saya. Sekian lama tidak bertemu, masa begitu ketemu saya minta uang. Tapi apa boleh buat, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menceritakan masalah saya kepada sahabat saya itu.

“begini Her…saya memang berniat mengisi bensin…tapi ternyata dompet saya tertinggal di rumah…saya tidak ada uang” kata saya.

“ah gampanglah…” kata Heri.

“ini peganglah…buat kamu” katanya lagi sambil menyerahkan sejumlah uang.

Kemudian dia sempat bercerita bahwa sekarang dia sedang menjalankan usaha di kota Medan.

“tapi mohon maaf…saya buru-buru ini, saya ada janji dengan walikota” katanya kemudian.

Saya yang masih terdiam karena saking gembiranya mendapat jalan keluar dari masalah, terkaget mendengar Heri sahabat saya itu berpamitan.

“o iya Her…terimakasih banyak ini semua” kata saya.

Saya lihat Heri sahabat saya itu masuk ke mobil mewahnya, kemudian melaju keluar dari stasiun pompa bensin itu. Saya lihat uang yang diberikannya kepada saya. Limaratus ribu rupiah….Alhamdulillah. Luarbiasa leganya hati saya. Uang sejumlah ini lebih dari yang butuhkan untuk mengisi bensin mobil saya sampai penuh. Segera saya isi bensin mobil saya, dan melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan Padang-Pekanbaru banyak pemandangan yang indah-indah. Ini membuat hati saya lebih bahagia lagi. Keluar dari masalah, dan melakukan perjalanan di tempat yang indah. Tapi di tengah perjalanan saya teringat untuk menghubungi sahabat saya itu lagi. Karena saya merasa belum berterimakasih kepadanya dengan benar. Tadi dia tergesa-gesa berangkat lagi. Saya cari nomor teleponnya di telepon genggam saya, tidak ada.

“aduh..kenapa tadi saya ndak minta nomor teleponnya ya..” sesal saya dalam hati.

Tidak jauh di depan saya ada sebuah rumah makan, sayapun menepi untuk beristirahat, sambil mencari cara agar saya bisa mendapat nomor telepon sahabat saya itu.

Duduk sendiri di rumah makan itu, saya mencoba mengingat-ingat, siapa yang bisa saya hubungi untuk minta nomor telepon Heri. Dan Alhamdulillah, saya teringat adik Heri yang ada di kota Padang, dan saya punya nomor telepon beliau. Segera saya hubungi adiknya itu.

“halo…ini uda Azwir, saya minta nomor teleponnya Heri kakakmu, tadi saya ketemu dengan dia” kata saya kepada adik Heri di telepon.

“dimana uda ketemu dengan uda Heri” tanya adiknya.

“di Bukittinggi…kami sama-sama isi bensin di sana”

Akhirnya saya dapat nomor sahabat saya itu. Senang sekali saya, akhirnya saya bisa menghubungi sahabat saya yang telah membantu saya itu, untuk berterimakasih kepadanya.

“halo..” kata orang dari seberang telepon menjawab panggilan telepon saya.

“halo Her…Azwir ni..” kata saya.

“halo wir…sudah lama nggak ketemu…ada apa wir..?” tanya Heri.

“ndak…saya cuma mau bilang terimakasih saja”

“terimakasih apa ?”

“ituuu…uang yang tadi kau kasih itu, wah kalau saya tidak ketemu dengan kau, tidak tahu lagi saya harus bagaimana..terimakasih ya Her…banyak sekali uangnya”

“ketemu dimana kita Wir ?” tanya Heri lagi.

“tadi kita kan ketemu di pompa bensin di Bukittinggi, kau kasih saya uang limaratus ribu” jawab saya, agak bingung kenapa Heri bertanya seperti itu.

“jangan keterlaluanlah kau Wir…janganlah kau hina temanmu yang sudah susah begini…saya dengar kau sudah senang sekarang..tapi janganlah kau hina temanmu seperti ini” kata Heri dengan nada marah.

Saya semakin bingung, kenapa Heri jadi marah begini, apa yang salah, saya hanya ingin berterimakasih kepadanya.

“maksudnya bagaimana Her ?” tanya saya pelan

“saya ini ada di Ponorogo Wir…sedang susah…bagaimana mungkin saya bertemu dengan kau di Bukittinggi…kasih uang lagi…hp saya ini saja adik saya yang belikan” kata Heri lagi sambil menutup telepon.

Saya seperti kehilangan kesadaran. Seperti orang yang mau pingsan saking kagetnya. Duduk sendiri di rumah makan, telepon teman berniat untuk berterimakasih kepada dia, tapi malah dimarahi….dan dia ada di Ponorogo, Jawa Timur.

Saya ingat-ingat lagi kejadian di pompa bensin barusan. Saya yakin sekali bahwa itu Heri, bahkan dia sempat bercerita bahwa dia sekarang memiliki usaha yang sukses di Medan. Lalu kenapa sekarang dia marah-marah dan bilang ada di Ponorogo, Jawa Timur.

Segera saya hubungi adiknya lagi, untuk mencari tahu tentang keberadaan Heri sebenarnya.

“halo…kakakmu Heri sebenarnya dimana sekarang ?’ tanya saya pada adik Heri di telepon.

“ada di Ponorogo da..” jawab adiknya

“apa usahanya di sana ?” tanya saya.

“wah susah dia di sana da…dia jadi agen bis…kalo ada penumpang ke Sumatera Barat dari sana…nah barulah dia dapat komisinya…memang kenapa da ?” adiknya balik bertanya.

“tadi saya ketemu kakakmu di Bukittinggi…naik mobil mewah..katanya berhasil usahanya di Medan…dia kasih saya uang”

“ah…bagaimana mungkin uda bisa ketemu dengan dia di Bukittinggi…dia ada di Ponorogo..Jawa Timur da…kasih uang lagi…dia tuh orang susah da…”

Saya tertegun. Berarti benar apa yang dikatakan Heri di telepon. Lantas siapa yang bertemu dengan saya di pompa bensin di Bukittinggi tadi ? Bagaimana mungkin bisa ada dua Heri, dengan dua kondisi yang sangat jauh berbeda ?

Karena penasaran, saya telepon lagi Heri sahabat saya.

“Her…” kata saya saat dia angkat teleponnya.

“aaaaahh sudahlah Wir…sudah cukup kau hina temanmu ini” katanya sambil menutup teleponnya kembali, masih marah.

Saya hanya bisa terdiam di kursi tempat saya duduk di rumah makan itu. Saya ambil kembali sisa uang yang diberikan Heri kepada saya di pompa bensin. Masih ada…Apa sebenarnya yang telah terjadi. Saya hanya bisa merenung. Apakah ini jawaban doa saya kepada Tuhan, yang memohon pertolonganNya ? Ajaib sekali pertolongan yang telah dikirimkan Tuhan kepada saya. Seandainya saya tidak telepon sahabat saya itu, mungkin sampai sekarang saya masih yakin bahwa sahabat saya Heri itulah yang telah membantu saya, memberikan saya uang untuk membeli bensin dan bekal perjalanan saya. Subhanallah…ajaib sekali.

 

Seperti yang dikisahkan oleh:

            Bapak Azwir AS ( Padang, Sumatera Barat )

            NAM  162529

            Telp   0852-6351-5366

Kembali Ke
Atas