Perjalanan 3 Jam Jadi 6 Menit


Keajaiban Pertolongan Tuhan


Perjalanan 3 Jam Jadi 6 Menit

Hari itu hari Jumat. Saya sudah berjanji untuk datang ke latihan cabang Mahatma di daerah Muara Labuh, Sumatera Barat. Sebagai seorang ketua jaringan Mahatma, sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan kepada cabang-cabang di jaringan saya. Selesai sholat Jum’at, saya segera bersiap-siap. Jarak antar kota Padang ke Muara Labuh sekitar 130 km.

“bawa mobil sajalah..” kata istri saya melihat saya bersiap-siap.

“ndaklah…biar saya naik kendaraan umum saja” jawab saya.

Menurut perhitungan saya, jika saya naik kendaraan sendiri ke sana, akan memakan waktu 4 jam perjalanan. Karena jalan kearah Muara Labuh, harus melalui jalur perbukitan yang terjal dan berkelok-kelok. Lain jika naik kendaraan umum. Karena supir-supirnya sudah hafal betul medan yang harus dilalui, sehingga waktu tempuh mereka bisa lebih cepat. Jarak sedemikian biasanya mampu mereka tempuh hanya dalam waktu 3 jam saja. Jadi bila saya berangkat pukul setengah dua, kira-kira saya akan tiba di Muara Labuh pukul setengah lima. Cukuplah waktunya, karena latihan akan diadakan pada pukul 5 sore ini.

Pukul 1 siang berangkatlah saya diantar oleh anak saya, ke tempat menunggu kendaraan umum arah Muara Labuh. Tidak jauh dari rumah saya. Sesampainya di sana sudah ramai orang menunggu kendaraan. Sayapun ikut berdiri di pinggir jalan bersama orang-orang itu.

Tapi tidak seperti biasanya, hari itu sepertinya susah sekali untuk dapat kendaraan yang menuju ke arah Muara Labuh. Biasanya hampir setiap lima menit sekali ada kendaraan yang lewat menuju ke arah Muara Labuh. Hari ini lama sekali saya tunggu, tidak kunjung ada juga.

Satu lewat, arah Solok.

Lewat lagi..Muara Bungo.

Satu lagi….Sawah Lunto.

Satu jam…

Dua jam…

Tiga jam…

Tidak ada satupun kendaraan yang menuju Muara Labuh yang lewat. Saya lihat jam saya, pukul setengah lima sore. Bingung saya. Latihan jam lima di Muara Labuh, jam setengah lima saya masih ada di Padang, sementara perjalanan Padang ke Muara Labuh dengan kendaraan umum, sekitar 3 jam. Tidak mungkin saya bisa datang tepat waktu. Tapi jika saya batalkan, saya tidak tega kepada para ketua cabang dan anggota di sana. Karena saya sudah berjanji akan datang.

“ya Allah…bagaimana ini…mohon ampuni hamba ya Allah, hamba hanya ingin menggapai ridhaMu, dengan melatih anggota di Muara Labuh, mohon tolong hamba ya Allah, mohon mudahkan urusan hamba” doa saya dalam hati, karena saya sudah kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Saya teringat kepada salah satu ketua cabang di Muara Labuh. Beliau seorang distributor sepeda motor. Biasanya ada mobilnya ke Padang. Siapa tahu saya bisa ikut, jika ada mobilnya yang ke Padang. Segera saya hubungi beliau melalui hp nya.

“pak Jon…ada mobil bapak yang datang ke Padang ndak ?” tanya saya melalui telephone.

“ada pak..” jawab beliau

“tapi nanti kembalinya sekitar pukul tujuh, bapak tunggu saja, biar sama-sama ke sini, kebetulan supir saya hanya sendiri pak” kata beliau lagi.

“baiklah…kalau begitu dimulai saja latihannya pak, tidak perlu menunggu saya, karena saya pasti terlambat…dari tadi saya tunggu mobil, ndak ada juga…tapi saya tetap akan datang..” kata saya.

Akhirnya saya putuskan untuk menunggu supir ketua cabang saya. Berdiri diantara banyak orang yang juga sedang menunggu kendaraan. Makin banyak orang yang menunggu di sana.

Masing-masing asyik ngobrol dengan kawan-kawannya. Saya berniat untuk mencari masjid terdekat. Karena saya belum sholat ashar saat itu. Saya lihat ke kiri dan kanan, siapa tahu ada masjid di dekat-dekat situ. Tiba-tiba saya dengar suara dari belakang.

“nanti ada minibus berhenti, naik aja “ suara orang dari belakang saya

“iya…” jawab saya

Saya menoleh ke belakang, untuk berterimakasih ke orang yang mengajak saya bicara, tapi aneh, sepertinya semua orang sedang sibuk ngobrol dengan temannya masing-masing. Tidak ada yang memperhatikan saya.

“suara siapa barusan ya ?” tanya saya dalam hati.

Sementara saya sibuk bertanya-tanya tentang suara tadi, tiba-tiba berhenti sebuah minibus di depan saya. Pintunya terbuka.

“ayo masuk pak “ kata seorang bapak dari dalam minibus itu.

Sayapun langsung masuk. Begitu saya masuk, pintu mobil langsung tertutup kembali. Di dalam mobil saya kaget, ternyata isi mobil ini orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Penampilan mereka seperti bukan orang-orang sini. Baju yang mereka kenakan seperti jubah-jubah yang biasa dikenakan oleh orang-orang Arab. Dan wangi yang tercium dari tubuh mereka, baru kali ini saya mencium wangi seperti itu. Harum dan menyejukkan. Dan bahasa yang mereka gunakan saat mereka berbincang, bahasa yang baru kali ini saya dengar, saya sama sekali tidak mengerti isi pembicaraan mereka.

“siapa ya mereka “ batin saya

“ini mobil jurusan mana ya ?”

“apa benar jurusan Muara Labuh ?”

“kok isinya orang Arab semua ?”

“ini bahasa Arab atau bukan ya ?”

Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Saya lihat keluar, lebih aneh lagi. Pemandangan yang kami lewati sepanjang perjalanan ada laut, gedung-gedung bertingkat tinggi, baja-baja yang disusun, kilatan cahaya-cahaya, indah sekali.

“sudah sholat pak ?” tanya bapak yang duduk di dekat saya, membuyarkan kekaguman saya yang sedang menikmati pemandangan yang menakjubkan di luar sana.

“belum pak” jawab saya pelan

“wah..kalau begitu kita mampir dulu…kita sholat sama-sama” kata beliau lagi.

Mobil yang kami tumpangi menepi. Kami turun dari mobil. Di hadapan saya berdiri sebuah masjid yang megah. Luar biasa megahnya masjid ini.

“dimana ini ya ?” tanya saya dalam hati.

Saya lihat daerah sekeliling saya. Saya kenal betul daerah ini. Ini daerah Alahan Panjang, Danau Atas. Tujuh tahun saya selalu bolak balik melewati jalanan ini, melewati daerah ini, tapi baru kali ini saya tahu ada masjid semegah ini di sini, Bahkan dalam perjalanan saya sebelumnya ke Muara Labuh, masjid ini belum ada, aneh…

Teman-teman seperjalanan saya yang satu mobil dengan saya sudah masuk ke dalam masjid. Saya berkeliling masjid, mencari tempat berwudhu. Karena tidak dapat menemukan temput berwudhu, saya mencoba bertanya pada seorang bapak tua yang sedang duduk di luar masjid.

“maaf pak…tempat wudhunya dimana ya ?” tanya saya.

“ooo…di tempat bapak berdiri saja, julurkan saja tangan bapak ke arah tembok itu.” Jawab bapak itu.

Saya terdiam. Aneh…maksud bapak ini apa ya ?

“maksudnya bagaimana pak ?” tanya saya lagi.

“ya julurkan saja tangan bapak, lalu berniatlah untuk berwudhu” jawab bapak itu lagi.

Dengan ragu-ragu saya julurkan tangan saya ke arah tembok yang ditunjuk bapak tadi. Lalu dalam hati saya berniat untuk berwudhu. Allahu Akbar….tiba-tiba memancar air dari tembok kearah tangan saya. Saya tertegun…jangankan berwudhu, tubuh saya seperti kaku karena rasa kaget yang luar biasa.

Air terus memancar ke tangan saya. Akhirnya masih dengan diliputi keheranan sayapun berwudhu. Selesai berwudhu saya masuk ke dalam masjid, dan luar biasa bagian dalam dari masjid ini, terasa sekali megahnya. Teman-teman semobil saya sudah berbaris siap untuk sholat.

“mari sini pak” kata bapak yang duduk dekat dengan saya di mobil.

Saya langsung masuk ke barisan, berdiri di tengah-tengah mereka. Kamipun kemudian melakukan sholat ashar. Selesai sholat, diluar masjid, saya sedang duduk mengenakan kembali sepatu saya. Tiba-tiba bapak yang selalu bicara dengan saya berkata.

“kami pergi duluan, bapak disini saja..” katanya

“iya..terimakasih pak” jawab saya

Satu persatu mereka masuk kembali ke dalam mobil yang kami tumpangi. Terlihat jubah yang mereka kenakan melambai-lambai tertiup angin. Saya masih terduduk di teras masjid. Mobil yang kami tumpangi tadi melanjutkan perjalanan kembali. Saya lihat arahnya tidak menuju ke Muara Labuh, tapi menuju ke atas gunung.

“mereka sebenarnya mau kemana itu ?” tanya saya heran.

Mobil makin lama semakin kecil, dan semakin tinggi. Kemudian suasana mulai agak gelap saya rasa. Saya masih terduduk, dan kagetnya, masjid megah tempat saya sholat barusan sudah tidak ada lagi di belakang saya.

“waduh…saya dimana ini ?” saya membatin kebingungan.

Ternyata saya terduduk di pinggir jalan. Tapi entah di daerah mana. Saya coba perhatikan daerah sekeliling saya dengan teliti. Saya lihat ada jembatan di dekat saya.

Saya ambil telepon saya, saya telepon ketua cabang di Muara Labuh, pak Erwin. Tapi tidak diangkat. Kebetulan saya kenal dengan supirnya, Anto.  Maka segera saya telepon Anto

“halo Anto…dimana to ?” tanya saya saat telepon saya diangkatnya.

“ya pak…saya ada di Muara Labuh” jawab Anto.

“bapak dimana ?” tanya Anto.

“wah…saya tidak tahu saya dimana ini To..saya ada dekat jembatan…” jawab saya.

Kemudian saya coba jelaskan pada Anto dimana posisi saya saat itu. Semua gambaran yang bisa saya lihat di sekeliling saya.

“bapak naik apa tadi ?” tanya Anto lagi

“saya naik travel…saya diturunkan di sini…”jawab saya

“ooo…bapak tertidur tadi ? biasanya kan bapak turun di depan rumah pak Erwin…” tanya Anto

“cobalah kamu jemput saya kesini” kata saya lagi.

“baik pak…bapak tunggu saja di sana, itu daerah sungai Lundang namanya pak…”

Tidak berselang lama, Anto datang menjemput saya.

“bapak mau saya antar kemana ?’ tanya Anto saat saya masuk ke mobilnya.

“kalo rumah pak Erwin sudah terlewat, tapi latihan kita di tempatnya pak Jon pak, kita ada di tengah-tengah antara tempatnya pak Erwin dan pak Jon…sama jaraknya” kata Anto menjelaskan.

“kalau begitu..antar saya ke tempatnya pak Jon saja..langsung ke tempat latihan” jawab saya.

Kami berduapun langsung menuju tempatnya pak Jon, ke tempat latihan bersama.

Sesampainya di sana, sudah ramai anggota yang hendak ikut latihan bersama. Demikian juga para pelatih. Mereka semua sedang duduk rapi bersila.

“Alhamdulillaahhh…masih sempat bertemu dengan anggota” saya bersyukur dalam hati saya.

Melihat kedatangan kami berdua, anggota yang tadi sudah mulai duduk bersila, kembali berdiri menyambut kami dengan wajah yang penuh dengan keheranan. Karena menurut mereka, pak Jon baru saja menutup telepon dari saya, yang mengabarkan bahwa saya masih ada di kota Padang. Sementara benak saya masih dipenuhi dengan keheranan atas apa yang baru saya alami. Bagaimana nasib orang-orang yang tadi satu mobil dengan saya? hendak kemana mereka sebenarnya ? karena jalan yang mereka tempuh tadi menuju ke gunung. Dan setahu saya tidak ada jalanan di sana. Keanehan apa yang telah saya alami tadi ?

Karena anggota banyak yang menyalami saya, saya tersadar dari lamunan saya. Termasuk pak Jon ada di antara mereka.

“sudah selesai latihan pak Jon ?” tanya saya ke pak Jon.

“belum pak…baru mau mulai” jawab pak Jon.

Waduh…makin bingung saya. Bukankah latihan bersama dijadwalkan jam 5. Kok baru mau mulai. Jam berapa sebenarnya sekarang ?

Begitu banyak hal yang berkecamuk di benak saya. Semua yang baru saja terjadi benar-benar di luar akal saya. Saya seperti sedang bermimpi.

“saya baru tutup telpon dari bapak 6 menit yang lalu” kata pak Jon lagi.

Beberapa pelatih yang lain membenarkan kata-kata pak Jon. Semakin lemas saya. Saya telepon pak Jon dari Padang. Pada saat saya sedang menunggu kendaraan. Kira-kira jam setengah lima lebih lima menit.

Bagaimana mungkin saya sekarang sudah ada di Muara Labuh. Padahal baru 6 menit. Perjalanan yang biasanya harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Itupun kalau naik kendaraan umum, kalau saya setir mobil sendiri bisa sampai 4 jam. Tidak mampu akal saya mencerna ini semua. Saya memikirkan orang-orang yang satu mobil dengan saya. Saya khawatir mereka tersesat, karena saya lihat mobil yang mereka tumpangi menuju ke gunung.

“pak Erwin, silakan pimpin dulu latihan, nanti saya bergabung” kata saya ke pak Erwin, ketua cabang di sana, karena saya lihat anggota sudah siap untuk latihan.

Saya belum mampu menceritakan apa yang telah terjadi kepada anggota saya. Saya saja belum percaya atas apa yang baru saja terjadi, apalagi orang lain, begitu pikir saya. Luar biasa kuasa Tuhan yang telah ditunjukkanNya kepada saya hari itu. Tidak bisa saya temukan satu pun penjelasan yang masuk akal manusia. Saya yakin ini semua bisa terjadi semata-mata Karena pertolongan Allah. Hanya Tuhan lah yang mampu memudahkan urusan saya menjadi semudah ini.

Alhamdulillah..Tuhan Maha Besar Maha Kuasa…Maha Memudahkan segala urusan manusia. Maha Benar janji Allah…barangsiapa membela Allah, maka Allah akan membelanya. Semua urusan di dunia dimudahkanNya.Tidak mampu akal manusia untuk menghitungnya. Tidak akan mampu akal manusia untuk mencernanya.

Sampai saat ini saya selalu teringat peristiwa itu. Setiap saya lewat di tempat dimana ada masjid megah tempat kami sholat ashar, saya selalu melihat kearah masjid itu dulu berdiri, tapi hanya pepohonan yang saya lihat. Seperti yang telah saya lihat selama 7 tahun, bolak-balik melewati tempat itu.

Seperti yang dikisahkan oleh:

            Bapak Azwir AS ( Padang, Sumatera Barat )

            NAM  162529

            Telp   0852-6351-5366

Kembali Ke Atas