Penyakit HIV / AIDS

Penyakit HIV / AIDS

Saya SW umur 51 tahun. Saya lahir di kota Rembang pada tahun 1962. Pada saat usia 18 tahun, saya menikah, tepatnya pada tahun 1981. Memasuki satu tahun usia pernikahan, Alhamdulillah kami dikaruniai seorang putri yang cantik, dan dua tahun kemudian putra kami lahir. Rumahtangga kami seperti rumahtangga lain, kehidupan kami biasa saja. Tapi pada saat pernikahan kami memasuki usia sembilan tahun, tepatnya pada tahun 1990, kami tidak dapat lagi mempertahankan pernikahan kami itu. Saya dan suami memutuskan bercerai.

Disinilah semua prahara bermula. Saya kembali ke rumah orangtua saya dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Saya harus bisa menghidupi anak-anak saya. Saya harus bekerja. Tapi apa yang bisa saya lakukan ? Saya sekolah tidak sampai lulus smp, hanya sampai kelas tiga saja. Akhirnya saya memberanikan diri untuk pergi ke Semarang. Kedua orang anak saya, saya titipkan kepada orangtua saya di Rembang. Dan Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan di kota itu. Saya jalani ini semua agar saya dapat menghidupi kedua anak saya yang masih kecil-kecil. Mereka butuh biaya untuk sekolah, makan dan yang lainnya. Tiga tahun saya bekerja tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan biaya sekolah anak-anak. Di tengah himpitan ekonomi inilah, akhirnya ada seorang pria yang berkenan menjadi suami saya.

Pada tahun 1997 saya menikah dengan suami kedua saya. Beliau adalah seorang koordinator taxi di kota itu. Saya sangat bersyukur, karena sekarang sudah ada seorang pria yang bertanggungjawab mengayomi saya. Tapi sama seperti pernikahan yang pertama, usia pernikahan saya yang kedua inipun hanya bertahan sembilan tahun. Pada tahun 2006 suami saya kedua meninggal dunia. Setelah sebelumnya menderita sakit yang cukup parah. Beliau menderita sakit liver. Sepeninggal suami kedua saya, saya memutuskan untuk pulang kembali ke desa saya di Rembang. Disana saya lakukan pekerjaan apa saja agar bisa membiayai hidup saya dan anak-anak.

Setelah dua tahun tinggal di desa, saya kembali ke Semarang. Karena sepertinya, kesempatan bekerja lebih terbuka di kota itu. Lebih banyak jenis pekerjaan yang bisa saya lakukan di Semarang. Di desa saya agak terbatas. Dan Alhamdulillah pada tahun 2008 saya bekerja sebagai juru masak di sebuah pabrik di Semarang. Penghasilan yang saya dapatkan cukup lumayan untuk kehidupan saya dan anak-anak. Saya nikmati pekerjaan itu.

Pada bulan Juni 2010 saya terkena sakit gatal-gatal dan sariawan. Awalnya tidak terlalu mengganggu, tapi lama kelamaan penyakit ini sangat mengganggu saya. Sudah banyak dokter di Semarang yang saya datangi untuk berobat, tapi penyakit saya tidak sembuh juga. Segala macam obat saya beli, karena saya ingin sembuh. Sampai tabungan saya, hasil bekerja selama setahun habis saya gunakan untuk berobat selama empat bulan. Sementara tubuh saya semakin lemas saja. Hal ini terus berlangsung. Dokter-dokter yang saya datangi, tetap tidak dapat menemukan penyakit yang saya derita.

Karena sakit yang saya derita semakin parah, sementara penyakitnya apa, belum juga berhasil ditemukan, akhirnya pada bulan ramadhan saya putuskan untuk pulang ke desa. Dengan langkah yang gontai karena sakit, saya berjalan dari rumah saya ke pinggir jalan raya, untuk menumpang angkutan ke desa saya. Dalam kondisi lemas, sakit yang semakin menjadi, saya berjalan perlahan. Di tengah jalan saya berjumpa dengan seseorang, orang yang sudah tua usianya.

“mba..saya minta uangnya seribu, buat beli teh” kata si bapak itu.

Karena kondisi saya yang lemas, saya tidak menjawab bapak itu. Saya hanya mengambil uang dari dompet saya, dan saya beri pada bapak itu uang sebesar sepuluh ribu rupiah. Kemudian saya melanjutkan berjalan perlahan-lahan.

“semoga kamu panjang umur….”

Baru tiga langkah saya berjalan, terdengar bapak itu berkata seperti itu. Saya tertegun…biasanya, orang akan mengucapkan terimakasih jika menerima pemberian orang lain, tapi mengapa bapak itu berkata seperti ini. Karena penasaran saya menoleh ke belakang, ingin bertanya kepada beliau, kenapa berkata seperti itu. Aneh…bapak itu sudah tidak ada di belakang saya. Padahal jalanan yang saya lewati itu hanya satu jalan, dan itu adalah jalan buntu, kalaupun beliau sudah pergi, paling tidak saya masih bisa melihat sosoknya berjalan. Saya masih sempat mencari-cari bapak itu sebentar, tapi karena tubuh yang sudah semakin lemah, saya lanjutkan perjalanan untuk pulang ke desa saya.

Sesampainya di desa, penyakit saya bertambah parah. Saya tidak mampu melakukan apa-apa. Tubuh saya terasa begitu lemah. Sampai akhirnya saya harus dirawat di rumah sakit. Hari raya Idul Fitri tahun 2010 saya lewati di rumah sakit. Biasanya hari raya seperti ini saya habiskan bersama keluarga, kali ini saya harus terbaring di ruang perawatan rumah sakit Lasem, Rembang.

Ternyata saat itu saya terkena demam berdarah. Setelah dirawat selama satu minggu, akhirnya saya diperbolehkan pulang ke rumah. Tapi kondisi tubuh saya masih sangat lemah. Seminggu saya di rumah, penyakit saya kambuh kembali. Saya mengira bahwa demam berdarah saya kambuh kembali. Saya segera ke puskesmas di Lasem, untuk memeriksakan penyakit saya.

Sesampainya di rumah sakit di Lasem, saya diminta untuk memeriksakan darah saya. Setelah menunggu, akhirnya saya dipanggil untuk menerima hasil pemeriksaan darah saya. Saat diberitahu hasilnya, saya rasa dunia seperti hancur…ternyata menurut hasil pemeriksaan darah, saya bukan hanya menderita demam berdarah, saya divonis positif menderita HIV / AIDS, dan sudah stadium IV….

Bingung…kaget….tidak tahu harus bagaimana….

Ini kabar yang sangat mengejutkan….Seperti menerima vonis mati….

Saya hanya bisa menangis meraung-raung di rumah sakit itu…saya menangis sejadi-jadinya…menangis…dan hanya menangis…Langit seakan-akan runtuh, menghimpit dada saya.

Karena rumah sakit di rembang belum bisa menangani penyakit HIV / AIDS ini, maka saya dirujuk ke rumah sakit di kota Pati. Saya putuskan untuk berobat jalan, saya tidak ingin dirawat.

Kabar tentang saya mengidap penyakit HIV / AIDS begitu cepat menyebar di kampung saya. Orang-orang mulai menjauhi saya. Saya seperti orang yang menjijikkan bagi mereka. Jika saya mendekat, orang-orang menjauh. Jika saya berjalan di hadapan mereka, mereka semua menyingkir. Saya bahkan tidak diijinkan berbelanja ke warung. Padahal saya tidak akan menyentuh apapun di warung itu, saya hanya menunjuk barang-barang yang hendak saya beli, tapi mereka tetap tidak mengijinkan. Puncaknya adalah anak kandung saya sendiri, menjauh dari saya.

Hari demi hari saya jalani kehidupan ditengah masyarakat yang mengucilkan saya. Keadaan ini sangat menyedihkan. Hati saya semakin tertekan. Kondisi tubuh yang lemah, di tengah masyarakat yang sangat tidak menginginkan keberadaan saya. Saat itu penyakit saya sudah semakin parah. Kulit saya sudah mulai terkelupas, dan nampak kehitaman, seperti hangus. Untuk kehidupan sehari-hari, saya hanya mengandalkan pemberian anak kedua saya. Kadang-kadang dia memberi saya uang seratus ribu sebulan sekali, kadang-kadang dua minggu sekali, tidak menentu. Karena dia sendiripun baru saja bekerja sebagai kernet truk. Tubuh saya semakin lemah, tidak mampu berjalan jauh.

Semakin hari kondisi kesehatan saya semakin menurun. Masyarakat semakin mengucilkan saya. Pada suatu siang saya tidak kuat lagi menanggung ini semua. Sambil melangkah tertatih-tatih, karena telapak kaki yang mengelupas, saya berjalan menuju laut yang tidak jauh letaknya dari rumah. Benak saya dipenuhi dengan segala macam pikiran yang menghimpit saya selama ini. Dengan kesehatan yang terus merosot, bila saya meninggal di rumah, siapa yang akan mengurus jenazah saya nanti. Pasti tidak akan ada yang mau menguburkan saya. Bahkan mereka mungkin tidak tahu kalau saya meninggal sendirian di rumah. Dalam kondisi masih hidup saja, orang-orangpun sudah tidak ada yang mempedulikan saya, tidak ada yang mau berhubungan dengan saya. Saya tidak sanggup lagi…saya ingin mati…saya memutuskan untuk menenggelamkan diri saya di laut. Jika saya mati dilaut, jenazah saya akan hilang begitu saja ditelan lautan. Tidak perlu dikubur. Tidak akan ada yang mencari…

Tanpa memperdulikan rasa perih di sekujur tubuh yang luka, saya melangkah masuk ke dalam laut. Setiap langkah membawa saya semakin dalam…makin dalam…sampai terakhir saya ingat, saya berdiri dengan air laut hampir menenggelamkan saya. Saya liat ada ombak yang datang, dan akhirnya….gelap…saya tidak ingat apa-apa.

Entah berapa lama saya tidak sadarkan diri.

“sudah matikah saya ?” batin saya pada saat saya mulai tersadar.

Tangan saya mulai meraba apa saja yang bisa saya sentuh. Saya merasakan permukaan halus…pasir…perlahan saya membuka mata dan melihat keadaan sekeliling saya…pantai.

“kenapa saya ada di pantai ? saya kan ingin mati”

“tadi kan saya sudah tenggelam”

Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak saya. Dengan sisa tenaga saya, saya bangun dan terduduk di atas pasir pantai.

“apakah Tuhan belum mengijinkan saya mati ?” tanya saya lagi dalam hati.

Lama saya termenung…

Menangis…

Sambil mencengkeram pasir pantai saya merintih kepada Tuhan..

“ya Allah…hamba tahu benar Engkau telah memberi hamba kesempatan hidup ya Allah…tapi mohon berilah hamba jalan keluar ya Allah…hamba benar-benar sudah tidak kuat…” rintih saya kepada Tuhan.

Saya menangis sejadi-jadinya. Lalu saya menjerit, saya tidak perduli lagi dengan sekeliling. Saya hanya ingin menumpahkan semua beban saya, dan mengadu kepada Tuhan.

“ya Allah…” saya menjerit

“jika memang ini kehendakMu…mohon beri hamba jalan keluar….mohon jangan beri hamba beban yang beraattt…jika hamba tidak mampu memikulnya”

Saya terus menjerit…saya hanya ingin mengadu kepada Tuhan. Selama ini saya tanggung sendiri semua beban ini. Tidak ada tempat berbagi. Lama-kelamaan tubuh saya terasa lemas.

Saya bangun perlahan-lahan..berjalan gontai menuju rumah. Sekujur tubuh saya basah oleh air laut. Rasa perih mulai terasa di kulit saya yang terkelupas.  Benak saya dipenuhi sejuta pertanyaan. Namun kemudian muncul satu keyakinan dalam hati saya, bahwa Allah masih memberi saya kesempatan untuk hidup. Keputusan saya untuk bunuh diri masih ditolak oleh Allah. Saya harus memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.

Sesampainya di rumah, saya cari obat-obatan saya. Telah cukup lama saya berhenti meminum obat-obatan. Karena saya merasa sudah tidak berguna lagi saya hidup, kali ini, saya mulai lagi meminum obat itu. Ternyata persediaan obat saya mulai menipis. Hari itu saya habiskan untuk merenungkan kejadian yang baru saja saya alami.

Tidak berapa lama persediaan obat saya habis. Saya harus kembali menemui dokter Edi yang selama ini merawat saya. Pada saat saya sedang diperiksa oleh beliau, ada satu hal yang beliau katakan kepada saya, yang tidak mungkin saya lupakan.

“ibu…ibu tidak usah terlalu memikirkan dunia” dokter Edi berkata

“nanti akan ada sendiri jalannya..sekarang lebih baik ibu ke pondok Gus Jaim…mintalah bimbingan rohani disana”

Waduh…bagaimana mungkin saya berani ke pondok Gus Jaim. Sedangkan bila saya datang ke pengajian-pengajian di kampung saya, pengajian itu langsung bubar.

Tapi akhirnya dokter Edi berhasil meyakinkan saya, bahkan beliau berkenan membuatkan surat pengantar untuk saya bawa ke pondok Gus Jaim. Saya bersedia untuk datang kesana, mungkin inilah jalan yang dibukakan Allah bagi saya. Kemudahan pertama telah ditampakkan oleh Tuhan kepada saya. Lebih ringan bagi saya untuk menjalani hidup, walau penyakit saya masih parah, tapi saya sudah lebih bisa menerimanya. Kadang kalau sedang terjadi serangan, saya sampai tidak kuat menggerakkan tubuh saya.

Kadar cd4 dalam darah saya menurun sampai hanya 76. Sementara saya bisa dikatakan normal bila kadar cd4 saya antara 400-1800. Tapi saya sudah lebih pasrah lagi menjalani hidup. Sambil terus berdoa kepada Tuhan, memohon ampunan dan kemudahan-kemudahan.

Bulan Desember tahun 2012, saya diajak menghadiri workshop dalam peringatan hari AIDS sedunia, yang diselenggarakan di pendopo kabupaten Rembang. Saya diundang untuk memberikan testimoni tentang penderita HIV / AIDS. Saya berbicara tentang keadaan yang menimpa saya, dengan harapan tidak ada lagi orang yang mengalami hal-hal yang sudah saya alami.

Satu minggu setelah acara itu, ada orang yang datang ke rumah saya, ditemani oleh sekretaris desa. Sekretaris desa saya mengenalkan beliau bernama bapak Akhmad Sulkan dari Mahatma. Rupa-rupanya beliau hadir juga pada peringatan hari AIDS di pendopo kabupaten. Beliau bersimpati atas penderitaan yang telah saya alami.

“ibu..ini bapak Akhmad Sulkan dari Mahatma..” kata bapak sekdes memperkenalkan.

“beliau ini ingin membantu ibu…mudah-mudahan ada jalan keluar buat ibu” lanjutnya lagi.

“bu…semua penyakit itu ada obatnya, kecuali pikun dan kematian” kata bapak Akhmad Sulkan.

Mendengar kata-kata beliau ini, semangat saya bertambah. Saya ingin terus berobat.

Kemudian bapak Akhmad Sulkan menjelaskan apa itu Mahatma. Saya tertarik sekali. Saya ingin sembuh. Kenapa tidak saya coba ? begitu yang muncul dalam benak saya. Dan kelihatan sekali niat bapak Akhmad Sulkan yang tulus.

“bu..kalo njenengan tertarik, kalo bisa njenengan latihan tiap hari” kata bapak Sulkhan kepada saya.

“ibu sanggup ndak untuk datang ke tempat saya melatih ?” beliau bertanya.

Beliau menjelaskan bahwa dalam satu minggu beliau melatih Mahatma di delapan tempat yang berbeda.

“pak…saya sanggup…tapi saya tidak punya sarana untuk mengikuti bapak” jawab saya

“berapa ongkos yang ibu butuhkan untuk transport dari rumah ibu ke kota ?” tanya beliau lagi

“sekali jalan 3.000 pak…jadi pulang pergi 6.000”

“baik ibu…kalau begitu setiap hari ibu jalan latihan, ibu saya beri 15.000…cukup atau tidak ?” tanya beliau

“terimakasih pak…cukup” jawab saya.

“nah kalau cukup…mari kita berkomitmen untuk latihan…ibu harus yakin bahwa penyakit ibu pasti ada obatnya…saya ini tidak bisa apa-apa, saya hanya berikhtiar untuk mengobati…tapi yang menyembuhkan adalah Allah”

“baik pak…saya sanggup”

Luar biasa ketulusan bapak Akhmad Sulkan ini. Saya tidak mengenal beliau sebelumnya. Di saat semua orang menjauhi saya, beliau datang menawarkan bantuan yang sedemikian besar bagi saya. Dan beliau berkata bahwa ini semua beliau lakukan semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah.

Saya sangat bersyukur kepada Allah, karena pertolonganNya telah sampai kepada saya. Dengan disaksikan bapak sekdes, saya berjanji kepada beliau untuk datang kemanapun beliau melatih Mahatma. Akhirnya pada tanggal 22 Desember 2012, saya mulai ikut latihan Mahatma.

Hari pertama saya latihan, bapak Sulkan mengenalkan saya dengan para anggota Mahatma di unit tempat saya latihan. Ada satu peristiwa besar yang saya alami. Ibu-ibu di tempat latihan Mahatma itu menjabat tangan saya. Satu hal yang telah bertahun-tahun tidak pernah saya alami. Jangankan berjabat tangan, berdekatan saja orang-orang tidak mau. Alhamdulillah…saya bersyukur kepada Allah telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik ini.

Saya pun mulai latihan Mahatma. Saya diajari tehnik pernafasan Mahatma dan gerakan-gerakannya. Saya berusaha mengikuti semampu saya. Ajaib….badan saya terasa segar. Biasanya untuk berjalan 500 meter saja saya harus berhenti beberapa kali, kali ini saya mampu bergerak melakukan jurus-jurus Mahatma. Saya semakin bertambah semangat untuk terus ikut latihan.

Hari kedua saya datangi tempat latihan dimana bapak Sulkhan melatih. Kali ini tempat yang berbeda dari yang kemarin. Saya menyimak sekali segala pengarahan yang beliau berikan. Hari ketiga, hari keempat dan seterusnya…

Semangat saya semakin bertambah. Karena saya merasakan perubahan yang sangat besar di tubuh saya. Kulit saya yang tadinya mengelupas, perlahan-lahan sembuh.

Badan saya mulai berisi lagi. Saya tidak mudah lelah, bahkan penyakit saya tidak pernah kambuh lagi. Saya mulai berani mandi dengan air dingin, kalau sebelumnya saya harus mandi dengan air hangat.

Dan yang paling utama adalah…saya mulai merasa berbahagia lagi. Satu hal yang sudah begitu lama tidak saya rasakan. Saya mulai bisa tertawa lagi, bercanda dengan saudara-saudara saya di Mahatma. Ini semua mendorong saya untuk lebih giat lagi berlatih.

Bahkan kadang-kadang jika selesai latihan bersama teman-teman di unit, malam harinya saya latihan sendiri di rumah. Tidak perduli orang-orang menganggap saya sudah gila. Malam-malam latihan jurus di pekarangan sendirian.

Dua bulan sudah saya latihan Mahatma. Setiap hari saya datang ke tempat pak Sulkhan melatih. Saya patuhi semua wejangan beliau, bahwa saya harus bersemangat untuk latihan. Allah tidak akan merubah nasib satu kaum, jika kaum itu tidak berusaha merubah nasibnya. Itu saya ingat terus. Dan kini tibalah saatnya saya mengikuti ujian pendadaran, untuk dilantik secara resmi menjadi anggota Mahatma. Saat itu tubuh saya sudah sangat jauh berbeda. Saya sudah sangat bugar dan kuat.

Karena itu saya yakin untuk mengikuti ujian pendadaran itu. Dan pada saat ujian pendadaran, saya diberikan kesempatan oleh bapak Guru Besar, bapak Pembina Mahatma, bapak KH. DR. Achmad Riva’i, untuk menceritakan pengalaman saya. Sungguh satu berkah yang luar biasa yang saya terima. Semoga Allah selalu merahmati guru kami itu, karena melalui perantaraan beliaulah, semua nikmat Allah ini bisa saya rasakan.

Selesai ujian dan saya dilantik secara resmi menjadi anggota Mahatma, saya cari bapak Sulkan untuk berterimakasih kepada beliau. Karena kepedulian beliaulah, saya bisa bergabung dengan Mahatma dan menerima rahmat Allah yang sedemikian besar.

“ibu bersyukurlah kepada Allah…karena kalau kita bersyukur kepada Allah, Allah akan menambah nikmatNya untuk kita..kalau ibu selalu bersyukur nanti Allah akan menambahkan nikmatnya buat ibu…berupa kesehatan dan sebagainya..dan lagi saya tidak bisa apa-apa kalau ibu tidak bersungguh-sungguh berusaha..” beliau berkata seperti itu pada saat saya berterimakasih kepadanya.

Sungguh satu ketulusan sikap yang luar biasa. Bukan hanya dari bapak Sulkan kebaikan yang saya terima, demikian juga dari anggota-anggota Mahatma yang lain. Saya seperti mendapatkan saudara-saudara baru. Kini rumah saya mulai dikunjungi tamu lagi, saudara-saudara saya dari Mahatma. Lambat laun tetangga-tetangga saya di kampung mulai terpengaruh. Perlahan mereka sudah tidak menjauhi saya lagi.

Alhamdulillah sekarang saya sudah dinyatakan normal, bersih dari HIV / AIDS. Bulan November 2013, saya pergi ke rumah sakit di kota Pati tempat saya selama ini berobat. Saya cek darah, dan hasilnya kadar cd4 saya naik menjadi 570. Kadar normalnya adalah 400-1.800. Dengan hasil itu maka saya dinyatakan sembuh. Bahkan dokter yang selama ini merawat saya tidak mengenali saya lagi. Karena menurut beliau, penampilan saya sudah sangat jauh berbeda.

Alhamdulillah….segala puji bagi Allah…satu tahun yang lalu saya sampai berniat untuk mengakhiri hidup saya karena putus asa dengan penyakit yang saya idap. Penyakit yang sampai saat ini dokter seluruh dunia sepakat belum ada obatnya. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Kuasa…tidak ada hal yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak. Sangat mudah bagi Tuhan untuk merubah nasib manusia.

Saat ini saya aktif terlibat dalam pembinaan ODHA (Orang Hidup Dalam Aids) di kabupaten Rembang. Saya ingin berbagi nikmat Tuhan ini. Banyak dari rekan-rekan saya yang saat ini menderita HIV / AIDS, meminta saya untuk melatih Mahatma. Karena itulah saya berniat untuk menjadi pelatih Mahatma. Agar saya dapat menyebarkan nikmat Tuhan ini, sebagai bentuk rasa syukur saya kepada Allah, dan rasa terimakasih saya kepada guru-guru saya di Mahatma, kepada bapak Pembina Mahatma, bapak K.H.DR. Achmad Riva’i. Luar biasa nikmat Tuhan ini. Tidak mampu saya gambarkan rasa bahagia saya.

Terimakasih ya Allah…

 

Seperti yang dikisahkan oleh:

            Ibu Sri Wahyuni ( Rembang, Jawa Tengah )

            NAM  383600

            Telp   0821-3364-8198

 

Keterangan Redaksi:
Penyakit HIV / AIDS disebabkan oleh virus yang dinamakan human immunodeficiency virus (HIV).  HIV yang masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sel CD4.   Sel CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang berfungsi melawan infeksi. Semakin sedikit sel CD4 dalam tubuh, maka semakin lemah pula sistem kekebalan tubuh seseorang.   Sampai sekarang dalam dunia kedokteran belum ada obatnya, sehingga satu-satunya cara penyembuhan HIV / AIDS hanya dengan kembali kepadaNya, yaitu dengan cara berdoa dan mendekatkan diri padaNya, serta berikhtiar dengan melakukan olahraga, terutama olahraga pernafasan karena olahraga pernafasan akan membuat antibodi kita meningkat sangat cepat.

Penyakit HIV / AIDS ini dapat ditularkan melalui 3 hal, yaitu:
1.  Hubungan seks.
2.  Berbagi jarum suntik.
3.  Transfusi darah.

Penularan HIV / AIDS tidak selalu dari hubungan seks atau berbagi jarum suntik. Penyakit HIV / AIDS bisa menimpa kita semua, seandainya kita mengalami suatu kecelakaan atau kondisi dimana kita memerlukan transfusi darah,  dan darah tersebut ternyata dari orang yang tertular HIV / AIDS maka kitapun akan tertular HIV / AIDS.

Kembali Ke Atas