Kena Santet Bertahun-Tahun

Kena Santet Bertahun-Tahun

Tahun 2009, hari itu adalah jadwal latihan rutin unit Mahatma di Baleendah Bandung. Kami baru saja selesai melakukan latihan rutin, dan sedang berbincang-bincang dengan para anggota, sambil melepas lelah sejenak. Banyak hal yang kami bicarakan, terutama yang ada kaitannya dengan Mahatma.

Tiba-tiba ada seorang anggota yang meminta waktu untuk berbicara dengan saya. Sahabat saya ini menceritakan tentang kondisi bibinya, yang telah bertahun-tahun menderita sakit. Bibinya ini telah beberapa kali dibawa berobat ke dokter, tapi tidak ada perubahan sama sekali, bahkan secara medis, tidak terdeteksi penyakit apapun. Sampai akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa bibi sahabat saya ini untuk mencari alternatif pengobatan. Dan ternyata bibi sahabat saya ini terkena santet. Sedang asik bercerita, azan maghrib berkumandang.

“kita sholat dulu, kita lanjutkan ngobrolnya sehabis maghrib” kata saya kepada sahabat saya itu.

Kamipun segera melaksanakan sholat maghrib bersama-sama. Setelah sholat kami melanjutkan cerita tentang bibinya itu. Sahabat saya ini bercerita, ada beberapa dukun yang pernah mencoba mengobati bibinya yang sakit tersebut, tapi tak lama kemudian, kira-kira 3 hari setelah itu, dukun itu meninggal dunia. Bahkan pernah suatu ketika, pada saat sedang diobati oleh salah seorang dukun yang dimintai bantuan, semua kaca di rumahnya pecah.

“hmmm….” batin saya.

“lumayan juga ya”

“bagaimana ? sanggup gak ?” tanya teman saya.

Saya mencoba tenang, dan meyakinkan diri.

“kita ini hanya takut kepada Allah saja” jawab saya

“dukun itu kan minta bantuannya kepada jin” lanjut saya

“sedangkan kita hanya minta pertolongan kepada Allah saja”

Kemudian setelah sahabat saya mengerti dan yakin, kamipun segera berangkat ke rumah bibinya yang sedang sakit itu.

Sesampai di rumah bibinya, kami segera dipertemukan dengan bibi sahabat saya itu. Secara kasat mata, tubuhnya terlihat lemas. Kami tanyakan kepada bibi sahabat saya itu, apa saja yang dirasakan selama ini. Beliau berkata bahwa selama ini susah untuk makan dan susah tidur. Hatinya selalu terasa gelisah. Saya katakan kepada yang sakit, bahwa kami akan mencoba untuk mengobati beliau, untuk itu kami minta beliau untuk selalu membersihkan hati, dengan cara terus beristighfar.

Saya ajak teman saya untuk berdoa kepada Tuhan, memohon kesembuhan bagi bibinya dan memohon ijin Tuhan untuk berikhtiar mengobati penyakitnya.

Selama kami berdoa, bibi sahabat saya ini kelihatan semakin gelisah. Saya merasakan sesuatu yang aneh. Saya merinding yang amat sangat. Kepala saya terasa tebal, seperti ada beban besar yang menindih kepala saya. Terasa berat luar biasa..Subhanallah…

Bibi teman saya mulai berteriak-teriak histeris. Menjerit-jerit kesakitan. Padahal kami belum melakukan apa-apa. Kami baru berdoa. Kepala saya semakin terasa berat….semakin berat…..

“pertolongan Allah pasti datang” saya yakinkan diri saya terus menerus. Sambil terus melanjutkan membaca doa sampai selesai.

Setelah selesai berdoa, saya ajak sahabat saya untuk melakukan ikhtiar pengobatan seperti yang diajarkan di Mahatma.

Tahap pertama kami lakukan…masih menjerit-jerit…

Tahap kedua…semakin menjerit-jerit

Tahap ketiga…masih menjerit-jerit

Tahap keempat…masih…

Subhanallah…

Suasana jadi semakin bertambah tegang. Akhirnya kami putuskan untuk melakukan cara pamungkas seperti yang diajarkan guru-guru kami.

Kami berdua membacakan ayat kursi dihadapan bibi. Kami bacakan terus sampai tiga kali, bibi terus menjerit dan meronta-ronta. Setelah selesai membacakan ayat kursi sampai tiga kali kami lakukan pengobatan seperti yang telah diajarkan oleh guru-guru kami di Mahatma. Dan ajaib…

“ampuuuuuunnnnnn…..” teriak bibi sahabat saya itu.

Kemudian tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri. Tak lama kemudian beliau siuman dari pingsannya, dan tampak sehat. Allah Maha Besar….penyakit yang sudah diderita bertahun-tahun. Telah diangkat oleh Tuhan dan dibuang jauh-jauh. Begitu banyak cara pengobatan yang sudah dilakukan. Mulai dari dunia medis, yang tidak mampu mendeteksi penyakit bibi sahabat saya ini, karena memang penyakitnya bukanlah penyakit medis, sampai ada beberapa dukun yang pernah mencoba mengobati bibi sahabat saya ini, bahkan beberapa di antaranya sampai meninggal dunia. Tuhan Maha Kuasa…hanya kepadaNyalah kita menyembah dan memohon pertolongan. Sebaik-baik pelindung dan penolong kita.

Setelah bibi sahabat saya ini sembuh, saya katakan kepada beliau agar bergabung dengan Mahatma. Supaya penyakitnya itu tidak kembali lagi. Dan Alhamdulillah…sekarang beliau sudah menjadi anggota bahkan aktif latihan. Begitu nikmatnya hidup ini, jika kita bisa bermanfaat bagi sesama kita. Terimakasih kepada guru-guru yang telah mengajarkan kami ilmu-ilmu ini. Terimakasih yang tak terhingga kepada bapak Pembina Mahatma, bapak Kiai Haji DR. Achmad Riva’i.

 

Seperti yang dikisahkan oleh:

            Bapak Heri Purnomo ( Bandung, Jawa Barat )

            NAM  246655

            Telp   0813-2077-5700

kEMBALI kE aTAS