Penyakit Tidak Jelas Menahun

Penyakit Tidak Jelas menahun

Tahun 2004 saya terserang sakit parah. Saya mengira bahwa ini semua disebabkan karena profesi saya yang menuntut kerja fisik yang keras. Tahun 2004 itu saya sedang bekerja di Jayamix. Luar biasa tersiksanya saya. Detak jantung saya lambat sekali. Dada dan punggung saya terasa panas. Untuk sekedar berdiri tegak saja saya tak mampu, sehingga harus dibantu dengan tongkat. Suatu hari di tahun 2004 saya mendapatkan serangan yang luar biasa dahsyatnya. Sampai-sampai saya merasa bahwa ajal saya sudah dekat. Rasanya seperti ulu hati saya didorong dari segala arah. Sakit luar biasa dan sesak.

Karena melihat kondisi saya yang sangat lemah saat itu, istri dan keluarga saya memutuskan untuk membawa saya ke Rumah sakit Haji Pondok Gede. Saya langsung dibawa ke IGD. Setelah diperiksa maka diputuskanlah bahwa saya harus dirawat inap saat itu juga. Tiga orang dokter spesialis yang menangani penyakit saya. Bermacam terapi saya jalani. Sampai tim dokter yang merawat saya memutuskan bahwa saya harus di endoskopi. Karena menurut tim dokter lambung atau usus saya ada yang luka. Luar biasa sakitnya. Karena tubuh saya dimasukkan kamera dengan kabel yang panjang, waktu itu tim dokter memasukkan kamera dari mulut. Tapi hasil dari endoskopi menunjukkan bahwa usus dan lambung saya tidak apa-apa. Kemudian bermacam-macam lagi terapi yang saya jalani. Sampai pada akhirnya tim dokter yang menangani saya berkesimpulan bahwa sakit yang saya derita adalah sakit jantung. Saya menjalani rawat inap di rumah sakit Haji selama 28 hari. Biaya yang dikeluarkan sudah begitu besar, tapi sakit yang saya derita tidak mengalami perubahan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja, dirawat di rumah.

Di rumah, saya tetap merasakan sakit. Sudah barang tentu dengan kondisi seperti ini saya praktis tidak bisa bekerja. Fisik sakit, pikiran terganggu. Saya sampai takut untuk tidur di malam hari. Karena biasanya sakitnya itu datang saat hari mulai sore sampai subuh. Kalau malam, saya hanya terduduk di tempat tidur, karena saya takut jika saya tertidur, saya tidak akan pernah bangun lagi. Luar biasa menyiksanya penyakit ini. Akhirnya kabar tentang sakit saya ini sampai ke telinga kakak saya. Beliau seorang dokter di rumah sakit Cipto Mangunkusumo.

Saya berobat ke rumah sakit Cipto, masih di tahun 2004. Disana saya diperiksa oleh seorang dokter ahli penyakit dalam. Setelah memeriksa saya dengan teliti. Saya kembali menjalani berbagai terapi di sana. Ini semua saya jalani bukan hanya dalam sekali kunjungan. Berkali-kali saya harus bolak-balik rumah ke rumah sakit dengan jarak yang cukup lumayan jauh dari rumah saya dalam kondisi sakit. Terakhir tubuh saya dimasukkan ke dalam tabung. Saya seperti merasa masuk ke dalam liang kubur saat itu. Kondisi lemah karena sakit, dimasukkan ke dalam ruang yang sempit.

Akhirnya dokter ahli penyakit dalam yang menangani saya berkesimpulan bahwa saya menderita batu empedu. Dan tidak ada tindakan lain selain harus dioperasi. Semakin lemas saya mendengar kabar ini. Tapi karena sangat ingin sembuh, dan sudah terlalu lama saya tersiksa oleh penyakit ini, akhirnya saya pasrah saja pada keputusan dokter. Tapi kurang berapa lama masuklah seorang dokter yang usianya jauh lebih tua dari dokter yang menangani saya, ke ruangan tempat saya di rawat. Dokter yang sudah sepuh ini memeriksa data-data saya. Dan yang membuat saya kaget, dokter ini berkata bahwa saya tidak menderita batu empedu dan tidak perlu di operasi.

“waduh…lantas saya sakit apa ?’ batin saya

“bapak…bapak ini sakit jantung…jadi datang saja besok kita periksa”

Saya hanya bisa mengangguk pasrah. Sambil tersenyum getir, karena bingung. Kalau dokter saja bingung menentukan sakit saya apa, apalagi saya.

Keesokan harinya saya datang kembali ke rumah sakit Cipto untuk menjalani terapi jantung saya yang konon sakit. Setibanya saya di rumah sakit, setelah menunggu antrian untuk diperiksa, akhirnya tibalah giliran saya. Saya masuk ke ruangan, dan saya diminta untuk naik ke sebuah alat. Badan saya ditempeli kabel-kabel, untuk mendeteksi jantung saya mungkin, saya seperti robot saat itu. Dan dokter yang mendampingi saya meminta saya untuk berlari.

“lari ?! jalan aja saya susah…lari ??” dalam hati saya ragu-ragu.

“silakan pak..mulai” suara dokter itu menyadarkan saya dari keraguan saya.

Akhirnya saya mulai lari. Awalnya pelan-pelan, tapi lama kelamaan semakin kencang. Nafas saya yang sudah susah semakin susah. Seperti sisa ditenggorokan saja. Tidak berselang lama akhirnya terapi ini selesai. Seluruh badan saya basah oleh keringat. Sekedar bicarapun sepertinya saya tidak mampu. Saya sibuk mengumpulkan nafas. Saya diminta menunggu hasil dari terapi saya. Hari itu, waktu terasa seperti sangat panjang. Akhirnya hasil yang saya tunggu-tunggu keluar juga. Dan kami diminta untuk membawa hasil itu ke rumah sakit Harapan Kita, rumah sakit khusus penderita jantung.

“wah..pindah rumah sakit lagi ” pikir saya

Hari itu kami memutuskan untuk pulang saja. Karena sudah cukup sepertinya saya menjalani terapi hari itu. Saya tidak bisa membayangkan seandainya kami ke rumah sakit Harapan Kita hari itu juga, dan sesampainya di sana saya disuruh lari lagi. Disuruh lari sekali saja sepertinya semua tenaga saya habis. Malam harinya kembali saya tidak bisa tidur. Saya hanya terduduk di tempat tidur sambil memeluk tiga tumpuk bantal. Agar saya bisa menyenderkan dagu saya seandainya saya kelelahan. Jika terasa sudah mau hilang tertidur, maka saya terbangun dengan kaget. Detak jantung saya seperti membuat seluruh badan saya bergetar.

Esok harinya pagi-pagi sekali, kami berangkat ke rumah sakit Harapan Kita, membawa hasil tes dari rumah sakit Cipto. Lumayan panjang antrian untuk sekedar memperlihatkan selembar kertas hasil tes. Giliran saya tiba, saya ditemani istri masuk ke ruangan dokter. Kami berikan hasil tes dari rumah sakit Cipto. Beliau memeriksanya sejenak, kemudian yang saya takutkanpun tiba. Saya disuruh lari lagi….

Mungkin sekitar 10 menit saya disuruh berlari, tapi rasanya seperti seharian saya berlari. Akhirnya selesai juga. Dokter itu terdiam membaca hasilnya. Ekspresi muka beliau serius sekali. Saya yang melihatnya jadi khawatir.

“Siapa yang bilang kamu sakit jantung ? suruh kesini orangnya…” tiba-tiba dokter itu berkata.

“hah…” cuma itu yang keluar dari mulut saya

“kamu ini gak sakit jantung” dokter itu berkata lagi

“jantungmu sehat begini kok”

Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Lalu saya sakit apa ? Semua diagnosa dokter dibantah oleh dokter juga. Dalam kebingungan kami pulang. Kalau dibilang sehat, saya sakit. Bahkan sakit yang luar biasa yang saya rasakan.

Karena tidak tahu harus berobat kemana lagi, selama beberapa hari saya hanya terdiam di rumah. Sementara kondisi badan saya tidak ada perubahan sama sekali. Padahal semua obat-obatan yang diberikan dokter tetap saya minum. Berat badan saya menurun drastis. Tersiksa sekali. Sampai ada seorang kerabat saya yang menyarankan untuk berobat ke alternatif. Tapi kemana ? saya tidak tahu tempat pengobatan alternatif. Maka saya dan istri sibuk mencari alamat pengobatan alternatif untuk penyakit saya. Sampai akhirnya ada seorang kerabat yang tahu, ada satu tempat pengobatan alternatif, yang menurutnya bisa mengobati penyakit saya. Dan katanya pengobatan alternatif ini sudah cukup terkenal. Saya dan istri setuju untuk datang ke tempat pengobatan alternatif itu. Kerabat saya ini memberitahukan bahwa kalau berobat di tempat itu saya harus membawa telur 2 kilo.

“banyak bener telurnya ?’ dalam hati saya bertanya.

Tapi karena saya ingin sekali sembuh, akhirnya saya siapkan persyaratannya. Dengan membawa telur sebanyak 2 kilo, kami berangkat ke tempat pengobatan alternatif itu. Ternyata memang cukup banyak orang yang berobat ke sana. Dari dalam ruang pengobatan, terdengar suara beberapa orang yang bertahlil.

Agak tenang hati saya, paling tidak pengobatan ini menggunakan cara-cara yang sejalan dengan agama saya. Memang agak penasaran juga dengan cara pengobatannya. Apa hubungannya telur yang kami bawa dengan suara-suara tahlil yang terdengar dari dalam ruangan.

Saatnya saya masuk ke dalam ruangan. Saya ditemani istri saat itu. Saya diminta untuk duduk bersila, saya hanya menurut saja. Begitu saya duduk, bahu saya di pegang, satu orang di bahu kanan, satu orang di bahu kiri.

“kenapa saya dipegang ya ?”  tapi karena ingin sembuh, saya ikuti saja.

Dimulailah ritual pengobatan, telur yang kami bawa, kami serahkan kepada orang yang duduk di hadapan saya. Beliau ambil satu butir, dan beliau gosokkan ke kening saya. Kedua orang yang memegang bahu saya, membaca tahlil dengan keras. Setelah dua atau tiga kali beliau gosokkan, beliau pecahkan telur itu. Dan luar biasa, saat telur itu dipecahkan, ternyata berisi pecahan-pecahan kaca.

“darimana pecahan kaca itu ya ?” dalam hati saya penasaran.

Kemudian diambil lagi satu butir telur kemudian digosokkan ke dada saya. Dipecahkan…ada paku.

Satu butir lagi, digosok lagi, dipecahkan…ada rambut.

Satu butir lagi, digosok lagi, dipecahkan….telurnya berdarah.

Terus diulang ritual ini, sampai habis telur yang saya bawa. Saya tidak tahu lagi, benda apalagi yang keluar dari tubuh saya. Begitu dianggap selesai, saya langsung mengajak istri saya untuk pulang. Badan saya sudah terasa lelah sekali.

Sampai di rumah sudah agak sore, saya mulai gelisah. Karena biasanya sore seperti ini penyakit saya kambuh lagi. Dan ternyata benar. Keringat dingin mulai keluar. Nafas saya mulai sesak. Detak jantung saya mulai terasa tidak normal.

“bukannya tadi sudah banyak benda yang keluar…kok masih sakit juga” tanya saya ke istri.

“sudahlah… mungkin itu sihir, gak usah dipikirin, nanti malah musyrik kita” kata istri saya.

Malam itu saya tidak bisa tidur lagi. Padahal sudah menjalani terapi alternatif itu, sudah minum obat-obatan dari dokter, sakit yang sama masih saya rasakan.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, saya lewati dalam kondisi seperti ini. Jika ada yang datang memberitahu bahwa ada tempat pengobatan yang bagus, langsung saya datangi. Bahkan sampai ke luar kota, ke gunung-gunung. Sampai suatu ketika ada seorang kerabat lain yang memberitahukan satu tempat pengobatan alternatif di sebuah tempat di Jakarta. Saya ajak istri saya untuk datang ke tempat itu. Saya tidak ingin menyerah kepada penyakit saya ini.

Kami datangilah tempat pengobatan alternatif itu. Badan saya hanya dipijat diusap saja. Pada bagian ulu hati saya, tiba-tiba dukun yang mengobati saya bergetar tangannya. Dia seperti mencabut sesuatu dari dalam perut saya. Di tangannya seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Lalu dia melakukan hal itu sekali lagi. Mencabut sesuatu lagi. Kembali seperti ada yang bergerak-gerak di tangannya. Saya semakin penasaran apa itu.

“ini penyakitnya sudah dicabut…tapi jangan dibunuh nanti” kata dukun itu. Sambil menyodorkan sesuatu dalam kantong plastik.

Saat saya lihat isi kantong plastik itu, saya kaget luar biasa. Heran tapi juga geli yang amat sangat. Hampir saya tidak mampu menahan untuk tidak tertawa. Isi kantong plastik yang berhasil dia cabut dari dalam perut saya adalah…dua ekor kodok.

Dan hebatnya kodok-kodok itu masih dalam keadaan hidup. Saya tidak tahu harus bagaimana…mau tertawa, penasaran, tapi ya marah juga, bagaimana mungkin kodok-kodok hidup di dalam perut saya sekian lama.

“waduh…ini saya sembuh enggak, musryik iya nih..kalau saat ini saya mati…saya mati dalam keadaan musyrik..bahaya ini” kata hati saya.

Setelah berterimakasih kepada dukun itu, cepat-cepat kami pulang. Kodok-kodok itu kami buang di rawa-rawa di dekat rumah.

Sesampainya di rumah saya berdoa kepada Allah. Memohon kesembuhan, juga memohon agar saya diselamatkan dari kemusyrikan. Istri saya menyarankan agar saya berobat kepada dokter lagi saja. Karena dia khawatir dengan pengobatan-pengobatan yang dia lihat, khawatir kami terjebak menjadi musryik. Saya hanya bisa menurut saja. Karena sayapun merasakan hal yang sama. Sudah lebih dari duapuluh tempat pengobatan alternatif yang telah saya datangi, tapi keadaan saya tidak mengalami perubahan.

Pada perayaan hari kemerdekaan negara kita, saya bertemu dengan salah seorang sahabat. Saya ingin melihat anak saya, yang mengisi acara di perayaan tujuhbelasan di kampung saya. Beliau tersentuh melihat kondisi saya. Untuk berjalan saja saya harus dibantu tongkat. Tidak mampu berdiri lama.

“sudah…ikutan Mahatma yuk, biar kamu sehat lagi” kata sahabat saya

“apa itu Mahatma ?’ tanya saya

“Mahatma itu olahraga pernafasan, bisa mengobati segala macam penyakit” kata dia lagi.

Saya hanya terdiam, dalam kondisi seperti ini, di rumah sakit saya disuruh lari-lari, sekarang sahabat saya ini mengajak saya senam, bagaimana sih orang-orang ini ? apa mereka tidak melihat kondisi saya yang lemas seperti ini ?

“ayo…kapan mau mulai latihan ? daripada sakit terus” tanya teman saya lagi.

“iya…nantilah” jawab saya sambil tersenyum kepada dia. Kami melanjutkan menonton acara bersama-sama.

Berhari-hari telah lewat setelah acara itu. Saya telah lupa obrolan  dengan sahabat saya. Sampai suatu pagi, istri saya mengajak saya bicara sepulangnya dari berbelanja.

“pak…ada pengobatan bagus, namanya Mahatma, coba aja, katanya bagus” kata istri saya.

“kata siapa ?” tanya saya

“kata Ayuk penjual sayur”

Saya jadi teringat kembali obrolan saya dengan sahabat saya waktu perayaan tujuhbelasan. Beliau juga berkata seperti ini. Mengajak saya untuk ikut Mahatma.

“itu dari India ?” tanya saya kepada istri.

“bukan…sudah banyak kok yang ikut” jawabnya.

Akhirnya saya bersedia untuk ikut. Tidak ada salahnya untuk saya coba. Siapa tahu kali ini penyakit saya bisa sembuh.

Malam itu saya datang ke lapangan olahraga dengan diantar istri. Di sana sahabat saya sudah menunggu dengan seorang pelatih Mahatma. Rupa-rupanya sahabat saya itupun sudah menjadi seorang pelatih Mahatma. Saya dikenalkan dengan pelatih Mahatma itu.

“pak Darno..ini pak Ferry, pelatih Mahatma” kata sahabat saya mengenalkan pelatih Mahatma itu.

“pak…jangan kuatir, berlatih saja dengan semangat, sudah banyak kok orang yang sakit dan mendapatkan kesembuhan…asal bapak mau berlatih dengan semangat” kata pak Ferry pelatih Mahatma itu.

Malam itu saya mulai latihan hari pertama. Saya diajari tehnik nafas Mahatma serta jurus-jurusnya. Saya sudah tidak memikirkan lagi apa saya mampu atau tidak. Yang ada di pikiran saya hanya keinginan untuk sembuh. Langkah demi langkah saya jalani. Bukan hal mudah bagi saya saat itu. Untuk sekedar bernafas biasa saja berat buat saya, apalagi harus menahan nafas sepanjang tujuh langkah seperti yang diinstruksikan pelatih Mahatma itu. Dada saya rasanya seperti terbakar. Rasa panas yang saya rasakan seperti tembus ke punggung saya.

Jika semangat saya mulai kendur, pelatih saya mengingatkan untuk terus berdzikir. Saya seperti tersadarkan kembali. Saya kembali bergerak semampu saya, mungkin buat pelatih dan sahabat saya gerakan saya berantakan, biarlah, yang penting saya terus berusaha. Sambil terus dalam hati memohon kesembuhan dari Allah.

Malam itu latihan selesai, dengan imbauan dari pelatih saya besok datang kembali. Malam ini saya disuruh mandi sebelum tidur. Dan obat-obatan yang sedang saya minum, beliau minta untuk tidak diminum lagi. Saya hanya mengangguk lemas. Tenaga saya habis terkuras. Sekujur tubuh saya basah oleh keringat.

Sampai di rumah, saya turuti semua petunjuk pelatih. Saya mandi. Malam ini saya tidak meminum obat. Padahal sudah berjalan setahun lebih saya mengkonsumsi obat-obatan. Hanya karena ingin mengikuti saran pelatih, saya tinggalkan obat-obatan itu. Sehabis mandi saya baring di tempat tidur, karena badan saya terasa lelah sekali. Dan tanpa sadar saya tertidur…

Esok paginya saat terbangun saya merasa badan saya segar sekali. Ajaib…setahun lebih saya tidak bisa tertidur malam, kali ini setelah latihan, saya tertidur dengan nikmatnya. Sungguh kemajuan yang pesat yang saya rasakan. Perut saya yang biasanya terasa tidak nyaman, pagi itu saya rasakan nyaman sekali. Nafas sayapun terasa normal. Demikian juga dengan detak jantung saya. Satu kondisi yang sudah sangat lama tidak pernah saya rasakan lagi.

“baru sekali latihan hasilnya sudah seperti ini ya.” pikir saya.

“saya harus latihan terus nih..”

Saya ceritakan nikmat ini kepada istri. Dan dia sangat mendukung untuk terus latihan. Malamnya saya datang kembali ke lapangan. Kali ini saya berangkat sendiri. Walaupun masih menggunakan tongkat. Dan di lapangan pelatih saya sudah menunggu. Kami mulai latihan hari kedua. Tetap…luar biasa beratnya saya rasa latihan saat itu, kalau malam sebelumnya tujuh langkah, malam ini ditambah lagi oleh pelatih saya menjadi delapan langkah.

Tapi saya hanya pasrah dan menurut saja. Dada dan punggung saya seperti terbakar lagi, tapi rasanya tidak sepanas malam sebelumnya. Selesai latihan malam itu, badan saya terasa lebih bugar lagi. Luar biasa nikmatnya. Sudah terlalu lama saya tidak merasakan hal seperti ini. Pulang ke rumah saya mandi, dan malam itu saya bisa tidur lagi. Alhamdulillah…nikmat sekali.

Karena merasakan kemajuan yang begitu pesat, bahkan dalam hitungan hari, saya merasa mantap untuk terus mengikuti latihan Mahatma. Walaupun tidak mudah bagi saya saat itu. Karena saya mulai latihan pada saat kondisi saya sedang tertimpa sakit. Tapi Alhamdulillah, setelah latihan selama seminggu berturut-turut, keluhan yang saya rasakan selama setahun lebih, hilang sudah. Sudah berbagai cara pengobatan saya mencari kesembuhan. Hanya dengan seminggu latihan saya mendapatkan apa yang saya cari selama ini. Berbagai jenis obat-obatan sudah saya konsumsi. Banyak rumah sakit saya datangi. Berbagai tempat pengobatan alternatif saya kunjungi, bahkan yang sampai menjerumuskan saya ke kemusyrikan, mudah-mudahan Tuhan masih mengampuni saya.  Saya sangat bersyukur mendapatkan kesembuhan dari Tuhan, hanya dalam waktu yang sangat singkat. Luar biasa rahmat yang saya terima dari Tuhan ini. Sebelumnya saya sangat tersiksa, tidak bisa tidur malam, makan menjadi tidak nikmat, kekuatan menurun drastis, praktis saya tidak mampu untuk bekerja. Sedangkan untuk berdiri dan berjalan saja saya harus dibantu tongkat. Sekarang kesehatan saya sudah pulih. Tuhan telah mengembalikan semuanya.

Alhamdulillah…saya sangat berterimakasih kepada sahabat saya yang telah mengajak saya latihan, walaupun saya tolak. Kepada mbak Ayuk penjual sayur yang telah menjelaskan Mahatma kepada istri saya, dan pak Ferry yang telah dengan sabar melatih saya. Dan terutama kepada bapak Guru Besar Mahatma, bapak Kyai Haji DR Achmad Riva’i. Terimakasih banyak…Alhamdulillah.

 

Seperti yang dikisahkan oleh:

            Bpk Sudarno ( Jakarta )

            NAM  324833

            Telp   0815-8413-7337

Kembali Ke AtAS